BISNIS

Harga Pakan Naik, Ratusan Peternak Ayam di Trenggalek Manfaatkan Subsidi Jagung

×

Harga Pakan Naik, Ratusan Peternak Ayam di Trenggalek Manfaatkan Subsidi Jagung

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Peternak Ayam Petelur di Trenggalek saat melakukan panen.
Inti Berita:
• Sebanyak 56 peternak ayam di Trenggalek menerima subsidi jagung dengan total alokasi 812,4 ton per tahun.
• Realisasi tahap pertama tahun 2026 mencapai 65 ton jagung.
• Peternak bisa membeli jagung subsidi seharga Rp5.500 per kilogram saat harga pasar melonjak.

SUARA TRENGGALEK – Kenaikan harga pakan ternak yang dipicu penguatan nilai tukar dolar AS membuat peternak ayam di Kabupaten Trenggalek harus mencari cara untuk menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah menyalurkan subsidi jagung bagi peternak ayam petelur.

Kepala Bidang Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Trenggalek, Yoyon Hariyanto, mengatakan program subsidi jagung tersebut telah berjalan sejak 2024 dan terus berlanjut hingga tahun ini.

“Realisasi 812 ton 400 kilogram untuk 56 peternak di Trenggalek. Tahun ini sama pengajuannya sejumlah itu. Realisasi tahap pertama sudah 65 ton,” ujar Yoyon, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, jagung menjadi komponen utama pakan ayam dengan porsi sekitar 50 persen, sehingga fluktuasi harga jagung sangat berpengaruh terhadap biaya produksi peternak.

Yoyon menjelaskan, peternak dapat mengakses subsidi ketika harga jagung di pasaran mengalami kenaikan signifikan.

Dalam kondisi tertentu, peternak bahkan mulai memanfaatkan program tersebut saat harga jagung menembus Rp9.000 per kilogram.

“Kalau harga jagung naik di atas Rp6.000 per kilogram, peternak bisa mengajukan subsidi. Biasanya mereka mulai mengambil saat harga sudah sekitar Rp9.000 per kilogram,” jelasnya.

Melalui program tersebut, peternak hanya perlu membeli jagung seharga Rp5.500 per kilogram.

Sementara harga dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp5.000 per kilogram, dengan tambahan biaya operasional yang dikelola paguyuban peternak.

“Harga dari Bapanas Rp5.000. Paguyuban menjual ke peternak Rp5.500 karena ada biaya operasional,” katanya.

Proses distribusi dilakukan melalui gudang Bulog dengan fasilitasi dari Bapanas. Di Trenggalek, penyaluran subsidi jagung dilakukan melalui Paguyuban Peternak Ayam Petelur (Papeter) Trenggalek.

Yoyon menegaskan, program tersebut terbuka bagi peternak lain yang belum tergabung dalam paguyuban.

“Terbuka kalau ada yang gabung. Bisa melalui Ketua Paguyuban atau langsung ke kantor kami,” paparnya.

Sementara itu, peternak ayam petelur asal Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, Defi Sugiarto, mengaku kenaikan harga pakan belum diimbangi dengan peningkatan harga telur di pasaran.

Peternak yang telah menekuni usaha ayam petelur sejak 2015 itu memilih mempertahankan kualitas pakan daripada melakukan pengurangan atau mencampur bahan pakan secara mandiri.

“Kalau soal pakan tidak berani utak-atik. Mensiasatinya hanya sabar. Kalau dioplos nanti tidak bertelur,” ujarnya.

Menurut Defi, meracik pakan sendiri memang berpotensi menekan biaya produksi. Namun, hal tersebut membutuhkan waktu dan tenaga tambahan yang tidak sedikit.

“Yang penting menjaga ayam tetap sehat dan makannya bagus supaya produksinya juga bagus. Kalau soal harga, ya mengikuti pasar. Nanti kalau waktunya naik, harga telur juga akan naik,” pungkasnya.