PERISTIWA

Tingkat Kepatuhan Uji KIR Kendaraan di Trenggalek Menurun

×

Tingkat Kepatuhan Uji KIR Kendaraan di Trenggalek Menurun

Sebarkan artikel ini
Proses uji KIR di Kabupaten Trenggalek. Dok. Polres Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Uji KIR atau uji kelayakan kendaraan di Kabupaten Trenggalek mengalami penurunan sebesar 300 unit dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut disebabkan berbagai faktor, utamanya karena adanya kebijakan uji kir gratis bahkan bebas denda.

“Jumlah uji kir masuk hingga November 2024 tercatat sebanyak 7.122 kendaraan,” Kepala UPT Pengujian Kendaraan Bermotor, Dinas Perhubungan (Dishub) Trenggalek, Endrawan Dwi Prihantoro, Jum’at (3/1/2024).

Sementara itu diungkapkan Endrawan bahwa target tahun 2024 sebanyak 8.200 kendaraan. Hasil tersebut jika dibandingkan periode yang sama pada 2023, jumlah kendaraan yang menjalani uji kelayakan mengalami penurunan 300 unit.

Ia juga mengungkapkan sejumlah faktor yang memengaruhi pencapaian itu. Penurunan tersebut diduga dipengaruhi oleh kebijakan uji kir gratis bebas denda.

“Adanya kebijakan itu sehingga mengurangi tingkat kepatuhan pemilik kendaraan untuk melakukan pengujian tepat waktu,” jelasnya.

Saat ini Endrawan masih mempelajari dampak dari kebijakan uji kir gratis terhadap penurunan ini, hingga efek karena tidak adanya sanksi denda.

Selanjutnya, Dishub Trenggalek akan melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk meningkatkan pengawasan melalui pengecekan dan operasi lapangan.

“Sanksi terhadap kendaraan yang tidak lulus uji dapat langsung ditindak oleh pihak kepolisian,” terangnya.

Masih menurut Endrawan, dalam proses hasil pengujian hingga bulan November 2024, beberapa komponen masih menjadi kendala utama. Mulai dari lampu ambang batas dan efisiensi rem sering kali tidak memenuhi standar.

Berdasarkan kendaraan yang masuk sebanyak 662 kendaraan lulus dengan perbaikan, sedangkan untuk 39 kendaraan gagal karena masalah rem. Sedangkan kendaraan yang diuji umumnya telah memenuhi persyaratan dimensi.

“Untuk hasil uji emisi, sejauh ini masih dalam ambang batas yang telah diizinkan,” ujarnya.

Kendati demikian pihaknya tidak tinggal diam, karena telah melakukan upaya untuk kembali meningkatkan jumlah kendaraan yang diujikan. Upaya terus mengedukasi pemilik kendaraan untuk memastikan kendaraannya dalam kondisi layak sebelum mengikuti uji kir terus dilakukan.

Informasi yang disampaikan, pada tahun 2024, Dishub mencatat pertumbuhan kendaraan baru sebanyak 116 unit, mutasi kendaraan ke wilayah lain 268 unit, dan kendaraan keluar dari wilayah Trenggalek sebanyak 78 unit.

Juga ada 459 kendaraan dari luar daerah yang melakukan uji kelayakan di Trenggalek, sementara 178 kendaraan asal Trenggalek diuji di tempat lain.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.