PERISTIWA

Bawa Kabur Motor Warga Trenggalek, Pemuda Surabaya Diamankan Polisi

×

Bawa Kabur Motor Warga Trenggalek, Pemuda Surabaya Diamankan Polisi

Sebarkan artikel ini

SUARA TRENGGALEK – Pemuda berinisial AN asal Krembangan Kota Surabaya diamankan polisi lantaran melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan terhadap warga Kabupaten Trenggalek.

“Tersangka AN kami amankan di salah satu rumah kos kecamatan Karangploso Kabupaten Malang,” kata Kasatreskrim Polres Trenggalek AKP Zainul Abidin, Kamis (12/9/2024).

Disampaikan AKP Zainul menjelaskan, kejadian berawal dari perkenalan antara korban dengan tersangka melalui grup Facebook kudian berlanjut menggunakan perpesanan pribadi.

Dari perbincangan tersebut, korban menyampaikan bahwa dirinya sedang membutuhkan pekerjaan. Bak gayung bersambut, tersangka AN kemudian menawarkan pekerjaan di angkringan miliknya.

“Pada tanggal 7 Agustus 2024 yang lalu, tersangka AN datang ke Trenggalek dengan menumpang bus dan dijemput oleh korban di terminal bus Surodakan Trenggalek,” jelasnya.

Bahkan tersangka sempat ke rumah korban dengan dalih memamitkan kepada ibu korban sebelum bekerja di Malang.

Korban pun tak curiga saat tersangka menyatakan ingin jalan-jalan keluar bersama dengan posisi tersangka AN berada di depan menyetir sepeda motor milik korban.

Sesaat kemudian, tersangka menyampaikan bahwa dirinya ingin membelikan adik korban es krim di salah satu toko yang berada di jalan Panglima Sudirman.

“Tersangka memberikan uang tunai Rp. 100 ribu kepada korban untuk beli es krim,” ungkapnya.

Diimbuhkan AKP Zainul, korban yang saat itu lengah dan berada di dalam toko bersama adiknya, korban membawa kabur sepeda motor milik korban.

Atas perbuatannya, petugas menjerat tersangka dengan Pasal 378 KUHPidana atau Pasal 372 KUHPidana tentang Tindak pidana penipuan atau penggelapan dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 4 tahun.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.