Inti Berita:
• Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Trenggalek mengevaluasi pengelolaan sampah dari berbagai rangkaian kegiatan dan event selama Agustus 2026.
• DLH menegaskan pengolahan kebersihan tidak bisa hanya dibebankan pada dinas, melainkan butuh keterlibatan aktif Event Organizer (EO), pedagang UMKM, hingga konsumen.
• Pihak EO diminta mewajibkan UMKM menyediakan tempat sampah terpilah di setiap lapak jualan guna mengoptimalkan potensi ekonomi sirkular bersama bank sampah.
SUARA TRENGGALEK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mengevaluasi pengelolaan sampah dalam berbagai event yang digelar selama Agustus 2026.
Evaluasi tersebut salah satunya mendorong penyelenggara kegiatan atau event organizer (EO) ikut bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan selama kegiatan.
Sekretaris DLH Kabupaten Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono mengatakan pengelolaan sampah dalam event tidak bisa hanya dibebankan kepada DLH.
Penyelenggara juga diharapkan mengambil peran, termasuk mengajak pedagang dan konsumen bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
“Jadi, kita harapkan nanti EO ini juga bisa meng-create aktivitasnya itu mengajak kepada bukan hanya pedagang, tetapi pada konsumen bagaimana konsumen yang membeli produk mereka juga bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan,” terangnya.
Menurut Ariyoga, persoalan sampah cukup banyak muncul dari aktivitas makan dan minum di lokasi kegiatan.
Karena itu, pihak EO diharapkan dapat mengatur agar pelaku UMKM yang berjualan juga menyediakan tempat sampah terpilah.
“Nah, itu kita nanti berusaha untuk ngajak EO bagaimana EO meminta kepada UMKM ini di samping mereka berjualan mereka juga menyediakan tempat untuk memilah sampah itu. Jadi, sampah-sampah itu sudah terpilah,” ujarnya.
Tempat sampah yang disediakan nantinya diharapkan Ariyoga tidak hanya menjadi wadah pembuangan seluruh jenis sampah, tetapi sekaligus mendukung proses pemilahan.
Ariyoga juga berharap pengelolaan sampah dalam event dapat melibatkan bank sampah.
DLH telah berkomunikasi dengan sejumlah bank sampah untuk membuka peluang kerja sama dalam kegiatan tersebut.
“Dan kita berharap nanti juga bisa bekerjasama dengan bank sampah tertentu,” katanya.
Menurutnya, keterlibatan bank sampah juga dapat memberikan nilai ekonomi melalui konsep ekonomi sirkular dari sampah yang berhasil dipilah.
“Saya memang sempat berkomunikasi dengan beberapa bank sampah untuk meng-create kegiatan ini sehingga nanti kita harap bank sampah itu juga terlibat dari kegiatan ini, karena bagian yang maukan ada sisi ekonomis sirkuler di situ sehingga ada nilai yang mungkin bisa para pedagang juga manfaatkan dari hasil memilah sampah itu,” jelas Ariyoga.
Di sisi lain, DLH Trenggalek telah melakukan pemilahan sampah, terutama material yang dapat didaur ulang, dari sejumlah kegiatan.
Ariyoga mengatakan, idealnya pemilahan dilakukan sejak dari sumber sampah. Artinya, penyelenggara maupun masyarakat memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
“Memang kami inginnya maksimal ya. Jadi, pemilahan sampah itu sudah dari sumbernya. Jadi, penyelenggara maupun masyarakat itu punya kesadaran tinggi terhadap apa? terhadap sampah yang dihasilkan,” ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat juga dapat membawa kantong sendiri dan membawa kembali sampah yang dihasilkan. Namun, kondisi tersebut dinilai masih belum sepenuhnya berjalan.
Dalam pelaksanaan karnaval atau parade, DLH mengapresiasi penyelenggara yang mewajibkan peserta ikut bertanggung jawab terhadap sampah.
“Kita sama teman-teman mungkin yang paling kami apresiasi itu penyelenggara untuk kegiatan karnaval, parade itu ada bukan hanya kesadaran mau memang mewajibkan kepada peserta untuk membawa eh apa? membawa sampahnya itu sendiri,” ujarnya.
Setiap peserta, khususnya dalam kelompok, memiliki tim sendiri yang bertugas mengambil sampah selama kegiatan berlangsung.
“Jadi, selama pelaksana kegiatan setiap peserta terutama grup ya, itu memang ada timnya sendiri untuk yang mengambil sampah,” lanjut Ariyoga.
Namun, persoalan masih muncul dari sampah yang ditinggalkan penonton. Untuk efektivitas penanganan, DLH memilih membersihkan sampah tersebut terlebih dahulu sebelum melakukan pemilahan.
“Tapi memang persoalannya memang sampah yang dihasilkan oleh penonton itu. Upaya kami, sampah-sampah itu kami ambil kemudian kami bawa baru kami pilah di di lokasi,” pungkasnya.











