WISATA

Trenggalek Bercita-cita Punya Galeri Geopark, Sekolah Tak Lagi Berwisata ke Luar Daerah

×

Trenggalek Bercita-cita Punya Galeri Geopark, Sekolah Tak Lagi Berwisata ke Luar Daerah

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala BPPRIN Trenggalek, Ratna Sulistyowati saat menyampaikan keinginan miliki galeri Geopark untuk wisata edukasi.
Inti Berita:
• Pemkab Trenggalek mulai menyusun Geopark sebagai strategi pengembangan pariwisata dan ekonomi daerah.
• Geopark menggabungkan potensi geologi, budaya, dan kekayaan alam Trenggalek.
• Saat ini proses masih berada pada tahap pengumpulan data dan kajian.

SUARA TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek terus mematangkan langkah mewujudkan Geopark yang diakui secara Nasional hingga UNESCO.

Geopark di gagas sebagai salah satu strategi pembangunan berkelanjutan yang diharapkan mampu mendongkrak sektor pariwisata, edukasi hingga Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BPPRIN) Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati mengatakan pengembangan Geopark merupakan tindak lanjut arahan Bupati Trenggalek untuk mengoptimalkan potensi daerah yang selama ini belum tergarap secara maksimal.

Saat ini, Pemkab Trenggalek masih berada pada tahap awal berupa pengumpulan data dan identifikasi berbagai potensi yang nantinya akan menjadi bagian dari dokumen Geopark.

“Tahun 2026 ini kita masih pada tahapan mengumpulkan data. Setelah data terkumpul akan dilakukan kajian dan didiskusikan secara lintas sektor,” ujar Ratna.

Geopark Bukan Sekadar Batuan

Ratna menjelaskan, Geopark atau Taman Bumi bukan hanya berkaitan dengan batuan dan geologi seperti yang selama ini banyak dipahami masyarakat.

Konsep Geopark menggabungkan tiga komponen utama, yakni keragaman geologi, budaya, dan kekayaan hayati atau alam.

Untuk aspek geologi, Trenggalek memiliki sejumlah potensi seperti Goa Lowo, Gunung Linggo, Goa Ngerit, serta berbagai bentang alam lainnya.

Sementara dari sisi budaya, terdapat beragam tradisi dan kesenian khas seperti Jaranan Turonggo Yakso, tradisi Ngitung Batih, hingga berbagai kearifan lokal yang masih lestari di sejumlah wilayah.

Sedangkan dari sektor kekayaan alam, Trenggalek memiliki berbagai komoditas unggulan seperti durian Ripto yang menjadi ciri khas daerah, cengkeh, nilam, alpukat, potensi perikanan, kawasan hutan bambu di wilayah Wilis, hingga destinasi wisata bawah laut yang kini mulai berkembang.

“Geopark ini merupakan gabungan dari kekayaan batuan, budaya dan kekayaan alam yang dimiliki daerah. Kabupaten Trenggalek memiliki ketiga-tiganya,” jelasnya.

Belajar dari Kebumen

Dalam proses penyusunan Geopark, Pemkab Trenggalek juga belajar dari sejumlah daerah yang telah lebih dulu berhasil memperoleh pengakuan UNESCO Global Geopark, salah satunya Kabupaten Kebumen.

Menurut Ratna, Kebumen berhasil membangun galeri Geopark yang menampilkan kekayaan geologi, budaya dan alam daerahnya. Galeri tersebut mampu menarik ratusan wisatawan setiap hari.

“Di Kebumen ada galeri yang menampilkan batuan, budaya dan kekayaan alamnya. Kunjungannya bisa mencapai 250 hingga 300 orang per hari. Bayangkan kalau itu terjadi di Trenggalek, tentu bisa menjadi sumber pendapatan daerah yang cukup besar,” katanya.

Tak hanya sebagai destinasi wisata, galeri tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi. Bahkan sekolah-sekolah di Kebumen diwajibkan melakukan kunjungan belajar ke galeri tersebut dibandingkan melaksanakan wisata ke luar daerah.

“Anak-anak bisa belajar bahwa daerahnya memiliki kekayaan luar biasa. Ini menjadi wisata edukasi yang sangat bermanfaat,” imbuh Ratna.

Sejalan dengan Visi Trenggalek 2045

Ratna menegaskan, pengembangan Geopark juga sejalan dengan visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Trenggalek menuju tahun 2045, yakni menjadi daerah berpendapatan tinggi, berdaya saing kolektif, dan mencapai target net zero carbon.

Konsep Geopark dinilai mendukung upaya pelestarian lingkungan sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan melalui sektor pariwisata dan edukasi.

“Net zero carbon itu salah satunya diwujudkan melalui pelestarian ekosistem. Di sisi lain Geopark juga bisa menjadi penggerak ekonomi daerah melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kajian Didukung BRIN

Dalam proses penyusunannya, Pemkab Trenggalek juga mendapat dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ratna mengungkapkan BRIN tidak hanya membantu dari sisi kajian dan riset, tetapi juga memberikan dukungan dalam aspek pembiayaan.

Bahkan sejumlah peneliti BRIN telah mulai melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi potensial di Trenggalek, termasuk kawasan Dilem Wilis yang dinilai memiliki nilai geologi dan keanekaragaman hayati yang menjanjikan.

“Alhamdulillah BRIN siap membantu Trenggalek, baik dari sisi riset maupun pembiayaan. Hari ini tim BRIN juga sudah turun langsung ke lapangan,” ungkapnya.

Menuju Geopark Nasional dan UNESCO

Ratna menjelaskan, sebelum memperoleh pengakuan UNESCO, Trenggalek harus terlebih dahulu lolos sebagai Geopark Nasional.

Selanjutnya, berbagai aspek akan diverifikasi melalui penelitian dan kajian mendalam sebelum dapat diajukan ke tingkat internasional.

“Nanti target akhirnya tentu diakui dunia melalui UNESCO. Tetapi tahapannya harus menjadi Geopark Nasional terlebih dahulu,” tandasnya.