ADVETORIAL

Dorong Konsep Kota Atraktif, Bupati Trenggalek Tekankan Peran Komunitas dan Anak Muda

×

Dorong Konsep Kota Atraktif, Bupati Trenggalek Tekankan Peran Komunitas dan Anak Muda

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin.

SUARA TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek terus mendorong terwujudnya konsep Kota Atraktif sebagai bagian dari prioritas pembangunan daerah periode 2024–2027.

Konsep ini kembali ditekankan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Trenggalek tahun 2027.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menegaskan bahwa keberhasilan kota atraktif tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan ruang publik yang telah disediakan pemerintah.

Menurut Bupati yang akrab disapa Mas Ipin itu, penguatan peran komunitas dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghidupkan ruang-ruang kota.

“Komunitas selama ini sudah bergerak luar biasa. Contohnya komunitas di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, tahun ini akan maju mengikuti lomba desa tingkat ASEAN. Ini sungguh luar biasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah memisahkan Dinas Pemuda dan Olahraga dilakukan agar pemerintah dapat lebih fokus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menghidupkan berbagai ruang publik yang telah dibangun.

“Tugas pemerintah membangun kotanya. Harapan kita, anak-anak muda nanti yang mengisi ruang-ruang yang sudah kita siapkan,” katanya.

Empat Target Kota Atraktif Trenggalek

Mas Ipin menjelaskan, sebuah kota dapat disebut atraktif jika mampu menarik empat kelompok utama untuk datang dan beraktivitas, yakni talent, turis, trader, dan investor.

Target pertama adalah talent atau sumber daya manusia unggul. Pemerintah daerah ingin menjadikan Trenggalek sebagai tempat yang menarik bagi tenaga terdidik dan pekerja profesional.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan kawasan pantai, penyediaan akomodasi yang lebih baik, hingga rencana menghadirkan akses internet berkecepatan tinggi untuk mendukung konsep digital nomad.

“Harapannya orang yang ingin slow living atau bekerja jarak jauh bisa tinggal di Trenggalek. Mereka bisa bekerja dari pinggir pantai dan ekonominya bergerak di sini,” jelasnya.

Selain itu, Pemkab Trenggalek juga membuka peluang pendirian kampus baru dengan menyiapkan lahan hibah hingga ratusan hektare untuk menarik perguruan tinggi, termasuk kemungkinan kampus bertaraf internasional.

“Kota-kota yang hidup biasanya dipenuhi talent. Karena itu kita siap menghibahkan tanah jika ada kampus yang ingin berdiri di Trenggalek,” tegasnya.

Target kedua adalah turis. Pemerintah daerah berupaya meningkatkan kualitas destinasi wisata melalui perbaikan kebersihan, estetika kawasan, serta fasilitas pendukung agar wisatawan betah dan tinggal lebih lama di Trenggalek.

“Kita ingin spot wisata semakin bersih dan cantik sehingga wisatawan mau datang ke Trenggalek,” ujarnya.

Target ketiga adalah trader atau pelaku usaha yang melakukan transaksi ekonomi di daerah. Potensi komoditas lokal seperti porang, cengkeh, dan hasil pertanian lainnya diharapkan mampu menarik aktivitas perdagangan.

Sementara target keempat adalah investor, yaitu menciptakan iklim daerah yang kondusif bagi penanam modal sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Ruang Publik Dihidupkan Aktivitas Komunitas

Untuk mendukung konsep tersebut, Pemkab Trenggalek juga akan mengarahkan berbagai program pemberdayaan komunitas agar selaras dengan pengembangan kota atraktif.

Salah satunya melalui dukungan kepada kelompok seni dengan syarat mereka tampil secara rutin di kawasan wisata pada jam-jam kunjungan utama.

“Kita kasih dukungan, tapi dengan perjanjian mereka tampil di destinasi wisata saat prime time, seperti akhir pekan atau hari libur,” jelas Mas Ipin.

Selain itu, program literasi digital juga akan diarahkan pada sektor ekonomi produktif. Pemerintah menyiapkan fasilitas studio dan akses internet di kawasan Pasar Pon untuk mendukung pelaku usaha muda dalam melakukan penjualan daring.

“Nanti studionya kita siapkan, internetnya kita pasang. Mereka bisa live jualan dari situ sekaligus membantu memasarkan produk pedagang Pasar Pon,” katanya.

Melalui langkah tersebut, ruang-ruang publik yang telah dibangun diharapkan tidak hanya menjadi infrastruktur fisik, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ekonomi, kreativitas, dan interaksi masyarakat.

“Jadi ruang-ruang yang sudah kita bangun itu direaktivasi. Kotanya sudah ada, sekarang aktivitasnya yang harus hidup,” pungkasnya.