Inti Berita:
Jumlah warga terdampak dugaan keracunan hajatan aqiqah di Pogalan membengkak dari 16 menjadi sedikitnya 69 orang yang tersebar di beberapa faskes dan perawatan mandiri.
Dinkes Trenggalek terjun langsung melakukan pemantauan dan pengobatan massal di lokasi, menyasar puluhan warga dengan keluhan diare, pusing, lemas, dan nyeri perut.
Uji laboratorium dialihkan ke sampel air dari dua sumur pemilik hajatan untuk mencari sumber kontaminasi, mengingat sampel makanan sudah membusuk dan berjamur.
SUARA TRENGGALEK – Sejumlah warga mengalami keluhan kesehatan setelah menghadiri hajatan aqiqah di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek.
Hajatan tersebut digelar pada Selasa (6/10/2026) sekitar pukul 19.00 WIB. Hingga Kamis (8/10/2026), Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap warga yang mengalami keluhan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek, Andiek Muarifin, mengatakan laporan awal diterima pada Rabu (7/10/2026) sore dari Puskesmas Pule.
Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan mencari informasi ke sejumlah fasilitas kesehatan lain. Hasilnya, ditemukan warga yang mengalami keluhan dan memeriksakan diri di beberapa puskesmas.
“Jadi tanggal 7 Oktober hari Rabu kemarin sore, Dinas Kesehatan mendapatkan laporan dari Puskesmas Pule bahwa ada pasien yang sebelumnya datang ke acara hajatan kerabatnya di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. Datang ke Puskesmas Pule untuk periksa,” kata Andiek.
Setelah itu, Dinas Kesehatan berkoordinasi dengan sejumlah puskesmas, di antaranya Puskesmas Pogalan, Puskesmas Suruh, dan Puskesmas Ngulan Kulon.
Pada Kamis (8/10/2026), tim Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Pogalan, didampingi Babinsa, Bhabinkamtibmas (BKTM), dan perangkat Desa Kedunglurah, mendatangi rumah pemilik hajatan untuk menggali informasi terkait hidangan yang disajikan.
Dari hasil penelusuran, menu yang disajikan dalam hajatan tersebut terdiri atas nasi putih, sambal goreng jeroan ayam, tempe, buncis, serta penganan mendut, ketela, dan pisang goreng.
Makanan tersebut diolah di rumah dengan menggunakan jasa juru masak dari luar.
Selain melakukan penelusuran, tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap warga.
Sekitar 40 orang mendapatkan pelayanan kesehatan dari tim Puskesmas Pogalan di lingkungan warga. Keluhan yang dilaporkan antara lain diare, nyeri perut, lemas, dan pusing.
Berdasarkan data hingga Kamis, Puskesmas Suruh menangani lima pasien rawat inap. Kelima pasien tersebut diketahui beralamat di wilayah Kecamatan Pule.
Kemudian Puskesmas Pule menangani tujuh pasien rawat jalan dan tiga pasien rawat inap.
Sementara di Puskesmas Pogalan, terdapat 51 pasien rawat jalan dan satu pasien rawat inap.
Data tersebut termasuk warga yang mendapatkan pengobatan di rumah maupun yang datang langsung ke puskesmas.
Selain itu, terdapat dua warga yang dilaporkan berobat di salah satu klinik swasta di wilayah Kecamatan Pogalan.
Dengan demikian, berdasarkan rincian laporan fasilitas kesehatan tersebut, sedikitnya 69 orang telah mendapatkan penanganan medis. Data tersebut masih dapat berubah karena Dinas Kesehatan terus melakukan pemantauan perkembangan kasus.
Sampel Air Diperiksa di Laboratorium
Selain pemeriksaan kesehatan, tim Dinas Kesehatan juga melakukan edukasi kepada warga terdampak serta mengambil sampel air dari dua sumber sumur yang digunakan di rumah pemilik hajatan.
Andiek menjelaskan, kedua sumber air tersebut memiliki penggunaan yang berbeda.
“Yang pertama, sumber air yang digunakan untuk mencuci alat masak, kemudian mencuci pakaian, untuk memasak, dan untuk konsumsi. Sedangkan sumber air yang satunya untuk menyiram tanaman atau bibit tanaman yang ada di rumahnya,” jelasnya.
Sampel air dari kedua sumber tersebut selanjutnya akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui kondisinya.
Sementara untuk sampel makanan, Dinas Kesehatan tidak dapat melakukan pemeriksaan laboratorium karena tidak ada makanan yang masih tersimpan dalam kondisi layak untuk dijadikan sampel.
“Untuk yang sampel makanan, karena tidak ada yang tersimpan ya, karena sudah sekitar ini hari ketiga, tidak ada. Dan kemarin menemukan makanan tapi itu pun sudah kondisi berjamur, sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.
Dinas Kesehatan masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi warga serta kemungkinan bertambahnya jumlah orang yang mengalami keluhan.
“Jadi nanti ini mungkin kita masih update terus untuk terkait jumlah pasien atau orang yang terdampak dari acara ini,” pungkas Andiek.











