PERISTIWA

Ratusan Siswa dan Guru SMPN 1 Trenggalek Diduga Keracunan Usai Santap MBG

×

Ratusan Siswa dan Guru SMPN 1 Trenggalek Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ruangan SMPN 1 Trenggalek untuk membagikan MBG kepada siswa usai di cek kelayakan oleh pihak sekolah.
Inti Berita:
• Sejumlah siswa dan guru SMPN 1 Trenggalek mengeluhkan mules setelah mengonsumsi MBG.
• Kepala sekolah menyebut sekitar 404 siswa dan 17 guru mengalami keluhan serupa dari hampir 900 penerima manfaat.
• Sekolah telah memberikan penanganan melalui UKS serta melaporkan kondisi tersebut kepada SPPG untuk dilakukan pengecekan.
• Wali murid kemudian meminta SOP penyelenggaraan MBG diperbaiki.

SUARA TRENGGALEK – Sebanyak 421 siswa dan guru SMPN 1 Trenggalek mengalami keluhan perut mulas dan diare setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (11/8/2026).

Keluhan atas dugaan keracunan tersebut mulai dirasakan setelah siswa dan guru menyantap menu MBG yang dibagikan oleh SPPG kepada siswa dan guru berupa sate ayam dengan bumbu kacang.

Kepala SMPN 1 Trenggalek, Mokhamad Amir Mahmud mengatakan keluhan tersebut dirasakan sejumlah siswa setelah mengonsumsi makanan MBG. Sebagian siswa bahkan masih mengalami mules saat berada di sekolah.

“Jadi ada beberapa siswa kami yang memang mules setelah diindikasikan setelah Makan Bergizi Gratis (MBG) Selasa (11/08/2026),” ujar Amir, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, sejumlah siswa mengeluhkan sakit perut setelah berada di rumah. Sementara sebagian lainnya masih mengalami keluhan ketika kembali ke sekolah.

“Yang masih seperti itu kami izinkan untuk diambil oleh orang tua. Kemudian kalau sudah sembuh ya sudah, Unit Kesehatan Sekolah (UKS) juga memberikan penanganan kepada anak-anak yang masih mules,” jelasnya.

Ratusan Siswa dan Guru Mengeluh Mules

Amir menyebut menu MBG yang dibagikan sehari sebelumnya berupa sate ayam dengan bumbu kacang.

Akibat kondisi tersebut pihak sekolah kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Kemarin menunya sate ayam tapi tidak ada sunduknya, di-liarkan. Tadi juga kami lapor ke SPPG dan katanya akan dicek lagi,” katanya.

Dari hampir 900 penerima manfaat, Amir menyebut sekitar 404 siswa dan 17 guru merasakan keluhan yang sama berupa mules.

Siswa Alami Mules dan Bolak-balik ke Kamar Mandi

Salah seorang siswa SMPN 1 Trenggalek inisial BTA mengaku mulai merasakan mules setelah pulang sekolah.

“Iya mules, habis makan dan pulang sekolah mules jam 13.00 WIB. Makannya jam 12.00 WIB, malam ke kamar mandi dua kali,” ungkapnya

Ia mengatakan keluhan tersebut masih dirasakan hingga saat memberikan keterangan.

Ia juga menyebut terdapat rasa kecut pada bumbu kacang yang dikonsumsinya.

“Ini masih belum sembuh dan masih terasa mules. Secara makanan kemarin ada kecutnya di bumbu kacang, kayak lama rasanya,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan siswa lainnya, FKR. Ia mengaku mengalami mules sejak sore dan harus beberapa kali ke kamar mandi.

“Sore mules mulai jam 14.00 WIB, dan tujuh kali ke kamar mandi. Hari ini lumayan minta obat ke UKS,” ujarnya.

Wali Murid Minta SOP Diperbaiki

Sementara itu, wali murid siswa SMPN 1 Trenggalek, Yuswijayanto mengaku kaget setelah mengetahui anaknya mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG.

“Ya terus terang sebagai orang tua kaget, di samping kami kaget, trenyuh dan kenapa hal seperti ini terjadi,” tuturnya.

Menurut Yuswijayanto, dirinya sempat menanyakan kondisi tersebut kepada anaknya. Keluhan tidak langsung disampaikan setelah pulang sekolah, tetapi muncul kemudian.

“Padahal secara Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya sudah dilalui semuanya. Keracunannya itu MBG kemarin itu saya tanya ke anak, setelah pulang memang tidak terjadi. Ke anak-anak jam 3 dini hari tadi diare, tidak langsung cerita, setelah ada kejadian ini baru dia cerita,” jelasnya.

Ia mengatakan anaknya masih mengalami mules ketika berada di sekolah. Kondisi tersebut juga membuat anaknya memilih tidak mengonsumsi makanan MBG pada hari berikutnya karena khawatir.

“Di sekolah hari ini tadi masih mules, dan yang hari ini tidak dimakan karena takut,” katanya.

Sebagai wali murid, Yuswijayanto berharap prosedur dalam penyelenggaraan MBG dapat diperbaiki agar kejadian serupa tidak terjadi kembali.

“Sebagai wali murid untuk SOP-nya harus diperbaiki,” pungkasnya.