PERISTIWA

Pabrik Genteng di Trenggalek Terbakar, Kerugian Capai Rp 10 Juta

×

Pabrik Genteng di Trenggalek Terbakar, Kerugian Capai Rp 10 Juta

Sebarkan artikel ini

SUARA TRENGGALEK – Kejadian kebakaran melanda pabrik genteng di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, pada Minggu malam, 13 Oktober 2024.

Api yang diduga berasal dari proses pembakaran genteng menyebabkan kerugian material mencapai Rp 10 juta. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

Tim pemadam kebakaran yang dikerahkan berhasil memadamkan api setelah berupaya selama hampir satu jam.

Kepala Bidang Pencegahan, Penanggulangan Kebakaran dan Non Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Trenggalek, Wasis Widodo, menjelaskan bahwa kebakaran terjadi akibat api dari proses pembakaran genteng yang terlalu besar.

“Kami menerima laporan pada pukul 23.27 WIB dari warga setempat, yang melaporkan kebakaran di pabrik genteng tersebut,” kata Wasis, Senin (14/10/2024).

Menurut laporan, api pertama kali diketahui oleh Andik Jatmiko, tetangga pemilik pabrik, sekitar pukul 22.30 WIB. Melihat api yang sudah membesar, Andik segera meminta bantuan warga sekitar untuk menghubungi petugas pemadam kebakaran.

Sebanyak 8 petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Trenggalek segera dikerahkan ke lokasi.

“Tim kami tiba di lokasi pada pukul 23.48 WIB dan langsung melakukan upaya pemadaman. Api berhasil dipadamkan dalam waktu kurang lebih 49 menit,” lanjut Wasis.

Kebakaran ini menghanguskan area pabrik seluas 8×8 meter. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian material diperkirakan mencapai Rp 10 juta. Selain petugas pemadam kebakaran, proses pemadaman juga dibantu oleh pihak kepolisian dan masyarakat sekitar.

“Untuk pemadaman, kami menggunakan dua unit mobil pemadam kebakaran dengan total air sebanyak 4.000 liter,” jelas Wasis.

Dugaan sementara, penyebab kebakaran disebabkan oleh api dari pembakaran genteng yang tidak terkontrol. Saat ini, pihak berwenang masih melakukan pengecekan lebih lanjut terkait insiden tersebut.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.