Inti Berita:
• Diskomidag Trenggalek mencatat empat komoditas utama yang melakukan ekspor langsung pada Semester I 2026: triplek (PT Admira), gondorukem (PT Inhutani), gulungan kabel ke China, serta olahan porang.
• Aktivitas ekspor olahan porang sempat terhenti sejak April 2026 akibat kelangkaan bahan baku dan diperkirakan baru berproduksi kembali pada akhir tahun.
• Sejumlah produk lokal lain seperti fillet dori, batik (Tipuk & Rahayu), hingga pasokan kuliner kapal pesiar sudah menembus pasar luar negeri melalui perantara pihak ketiga.
SUARA TRENGGALEK – Perkembangan ekspor komoditas non migas di Kabupaten Trenggalek pada semester I tahun 2026 masih tercatat 4 jenis komoditi utama.
Sejumlah komoditas tercatat telah menembus pasar luar negeri, baik melalui ekspor langsung maupun menggunakan pihak ketiga.
Kepala Bidang Promosi, Pengembangan Ekspor, dan Perlindungan Konsumen Diskomidag Trenggalek, Nurun Nadjmi, mengatakan terdapat empat pelaku usaha utama yang melakukan ekspor langsung dari Trenggalek.
“Untuk update ekspor 2026 saat ini memang semua tergantung laporan dari pelaku usaha yang melakukan ekspor,” jelas Nurun, Rabu (13/9/2026).
Salah satu perusahaan yang melakukan ekspor langsung yakni PT Admira yang berada di Tugu, Desa Ngepeh. Perusahaan tersebut mengekspor produk plywood atau triplek.
Kemudian PT Inhutani yang berada di Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek, dengan komoditas gondorukem.
Komoditas lainnya berupa drum kabel yang diproduksi pelaku usaha di Desa Karangan, Kecamatan Karangan. Produk tersebut dikirim ke China.
Selain itu, terdapat pelaku usaha pengolahan porang yang juga melakukan ekspor langsung ke China. Namun, aktivitas produksinya terkendala ketersediaan bahan baku.
“Dia produksi kemarin masih di bulan April, Januari sampai April itu datanya masih setelah itu bahan bakunya habis. Mungkin nanti mulai lagi di November, Desember,” ungkap Nurun.
Menurut Nurun, pelaku usaha tersebut merupakan pengusaha asal China sehingga produknya langsung diekspor ke negara tersebut.
“Empat utama. Kalau yang lainnya mungkin ada tapi tidak ada laporan di kami,” ujarnya.
Selain ekspor langsung, sejumlah produk Trenggalek juga dipasarkan ke luar negeri melalui pihak ketiga.
Di antaranya produk fillet dori dari Watu Limo dan Kedunglurah. Produk batik dari pelaku usaha lokal juga dikirim ke China, termasuk Batik Tipuk dan Batik Rahayu.
Komoditas lain yang dinilai memiliki potensi ekspor adalah minyak atsiri. Namun, menurut Nurun, belum ada pelaku usaha minyak atsiri di Trenggalek yang melakukan ekspor secara langsung.
“Trenggalek itu sebenarnya sangat potensial untuk minyak atsiri. Lah, minyak atsiri memang tidak ada yang ekspor langsung,” katanya.
Nurun menjelaskan, minyak atsiri harus melalui proses pemurnian terlebih dahulu sebelum diekspor. Sentra minyak atsiri di Trenggalek antara lain berada di Kecamatan Pule, Watulimo, Dongko, dan Munjungan.
Selain itu, terdapat UMKM yang memasarkan produk kuliner untuk kebutuhan kapal pesiar. Produk tersebut juga sudah memiliki pasar ekspor, meski belum dalam jumlah besar dan masih dilakukan melalui pihak ketiga.
Menurut Nurun, salah satu kendala pelaku usaha untuk melakukan ekspor langsung adalah persyaratan yang cukup banyak.
“Kalau untuk pelaku ekspor itu kan harus ada perizinannya itu misalkan perizinan BPOM, kemudian misal ke barang-barang pertanian itu kan ada juga uji apa itu yang karantina itu kan juga agak sulit perizinannya,” jelasnya.
Selain persoalan perizinan, kapasitas produksi menjadi kendala lain. Rata-rata kapasitas produksi pelaku usaha di Trenggalek belum berlangsung secara kontinu sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan ekspor dalam jumlah besar secara mandiri.
“Jadi dalam kapasitas besar, dia belum bisa memenuhi. Harus kolaborasi dari beberapa kabupaten,” terangnya.
Salah satu contohnya adalah produk drum atau gulungan kabel. Pelaku usaha tersebut harus berkolaborasi dengan Kabupaten Mojokerto dan daerah lainnya untuk memenuhi tonase yang dibutuhkan untuk ekspor.
“Gulungan kabel itu dia kolaborasi juga dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten mana itu untuk supaya memenuhi tonasenya untuk ekspor. Jadi dia enggak bisa berdiri sendiri. Ya. Karena kapasitasnya tidak kontinu,” ungkap Nurun.
Nilai Ekspor 2025 Capai Rp 142,71 Miliar
Sebagai gambaran, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Trenggalek sebelumnya merilis data ekspor nonmigas 2025.
Total nilai ekspor nonmigas Kabupaten Trenggalek pada 2025 tercatat sebesar Rp142.713.092.193,95, nilai tersebut berasal dari enam komoditas utama.
1. Plywood menyumbang Rp36.953.136.462,95
2. Batu akik Rp759 juta
3. Fillet patin, trimmingan, kulit dan gelembung ikan sebesar Rp60.825.000.000.
4. Drum kabel mencapai Rp15.011.568.000.
5. Minyak atsiri Rp2.122.000.000.
6. Gum resin, rosin ester dan terpenin sebesar Rp27.042.387.731.











