Inti Berita:
• Bulog membeli Gabah Kering Panen (GKP) petani Trenggalek dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai HPP.
• Pembayaran dilakukan langsung ke rekening petani, sementara proses penyerapan melibatkan Dinas Pertanian, Babinsa, dan PPL.
• Saat ini Bulog juga bermitra dengan empat penggilingan di Trenggalek serta memiliki stok beras 1.776 ton di Gudang Karangsoko dan 1.613 ton di Gudang Karangan.
SUARA TRENGGALEK – Perum Bulog tetap membeli gabah hasil panen petani di Kabupaten Trenggalek dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Pembayaran dilakukan secara langsung ke rekening petani agar transaksi lebih cepat dan transparan.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Kantor Cabang Tulungagung, Yonas Haryadi Kurniawan, mengatakan harga pembelian tersebut berlaku merata di seluruh wilayah Trenggalek.
“GKP yang ditetapkan oleh pemerintah yang dilaksanakan oleh Bulog tetap kita beli dengan harga Rp6.500,” ujar Yonas.
Ia menjelaskan, gabah yang dibeli merupakan Gabah Kering Panen (GKP), yakni gabah yang telah dipanen, dikarungkan, dan diletakkan di lokasi yang mudah dijangkau untuk proses pengangkutan.
“Gabah GKP, gabah kering panen kondisinya sudah dipanen, diletakkan di pinggir jalan, sudah di karung,” jelasnya.
Pembayaran Langsung ke Rekening Petani
Yonas menegaskan, mekanisme pembayaran saat ini dilakukan langsung kepada petani melalui transfer rekening, meski proses pengajuan dapat berasal dari kelompok tani (Poktan) maupun gabungan kelompok tani (Gapoktan).
“Pembayarannya langsung kita transfer ke rekening petani.”
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir Bulog memang menerapkan sistem transaksi langsung dengan petani.
“Sebagai petani bisa mengajukan langsung, ada yang dari Poktan, ada dari Gapoktan. Tapi karena dua tahun ini kita langsung bayarnya ke petani, jadi memang transaksinya langsung dengan petani,” katanya.
Kecamatan Tugu Jadi Salah Satu Sentra Serapan
Terkait wilayah dengan serapan gabah terbesar, Yonas menyebut Kecamatan Tugu menjadi salah satu daerah yang paling banyak menyuplai gabah ke Bulog karena merupakan sentra produksi pertanian.
“Kalau kecamatannya yang paling banyak mungkin di daerah Tugu. Mungkin sentra pertanian itu yang serapannya lebih banyak,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai produksi gabah di kecamatan lain di Trenggalek juga relatif merata.
“Kalau Trenggalek saya rasa juga hampir-hampir sama,” imbuhnya.
Bulog Gandeng Empat Mitra Penggilingan
Dalam menyerap hasil panen petani, Bulog juga bekerja sama dengan sejumlah penggilingan padi di Trenggalek.
“Mitra penggilingan Trenggalek kalau tidak salah ada empat. Yang mitranya Bulog,” katanya.
Selain menggandeng penggilingan, Bulog juga melibatkan Dinas Pertanian, Babinsa, dan penyuluh pertanian lapangan (PPL) dalam proses penyerapan gabah.
“Kita tidak kerja sendiri. Jadi kita melibatkan Dinas Pertanian juga dengan Babinsa, dengan PPL,” jelas Yonas.
Stok Beras di Gudang Bulog
Yonas juga memaparkan stok beras yang tersimpan di gudang Bulog wilayah Trenggalek.
Saat ini Gudang Karangsoko menyimpan sekitar 1.776 ton beras, sedangkan Gudang Karangan memiliki stok sekitar 1.613 ton beras.











