Inti Berita:
• Program Makan Bergizi Gratis di Trenggalek akan kembali berjalan bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran 2026/2027.
• Namun, BGN masih melakukan verifikasi terhadap dapur penyedia makanan sehingga belum seluruh SPPG dipastikan langsung beroperasi.
• Evaluasi kualitas layanan juga terus dilakukan, termasuk terhadap dapur yang masih berstatus suspend, sementara sasaran penerima manfaat tetap meliputi peserta didik serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
SUARA TRENGGALEK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek dipastikan bakal kembali beroperasi seiring dimulainya kegiatan belajar mengajar (KBM) tahun ajaran 2026/2027.
Namun, tampaknya tidak seluruh dapur penyedia makanan dipastikan langsung beroperasi karena Badan Gizi Nasional (BGN) masih menyelesaikan proses verifikasi dan evaluasi.
Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Badan Gizi Nasional Kabupaten Trenggalek, Shiella Ammanda mengatakan operasional MBG akan kembali berjalan efektif setelah masa libur sekolah berakhir bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru.
“Persiapan operasional Makan Bergizi Gratis (MBG) di Trenggalek akan dilakukan secara efektif pasca libur sekolah, yaitu bersamaan dengan dimulainya kembali Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Shiella, BGN masih melakukan pendataan dan verifikasi akhir terhadap dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan kembali melayani penerima manfaat.
Karena itu, jumlah dapur yang akan beroperasi pada hari pertama masuk sekolah belum dapat dipastikan.
“Untuk jumlah pasti dapur yang akan langsung beroperasi pasca libur ini, statusnya masih dalam proses pendataan. Kami sedang melakukan verifikasi akhir untuk memastikan dapur-dapur tersebut siap menyuplai makanan sesuai standar begitu KBM dimulai,” katanya.
Sejumlah Dapur Masih Berstatus Suspend
Shiella menjelaskan, hingga saat ini 19 SPPG di Kabupaten Trenggalek telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai salah satu syarat pemenuhan standar keamanan pangan.
Meski demikian, evaluasi terhadap dapur penyedia makanan masih terus dilakukan. BGN masih menangguhkan operasional beberapa dapur yang dinilai belum memenuhi standar sehingga harus menjalani pembenahan terlebih dahulu.
“Evaluasi berkala terus kami lakukan demi menjaga kualitas dan keamanan pangan. Terkait hal tersebut, memang masih ada beberapa dapur yang statusnya di-suspend pasca libur sekolah ini untuk keperluan pembenahan dan pemenuhan standar,” jelasnya.
Sasaran Penerima Tetap, Penolakan Masih Didata
Shiella memastikan sasaran penerima manfaat MBG pada tahun ajaran baru tidak mengalami perubahan.
Program tersebut tetap menyasar peserta didik di satuan pendidikan serta kelompok 3B yang meliputi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Sementara itu, terkait kemungkinan adanya sekolah maupun penerima manfaat yang memilih tidak mengikuti Program MBG, BGN masih melakukan pendataan di lapangan.
“Mengenai adanya kemungkinan sekolah atau penerima manfaat yang menolak atau memilih tidak menerima MBG pasca libur ini, kami masih melakukan pendataan dan pemetaan di lapangan untuk melihat dinamika terbarunya,” ujarnya.
Menjelang dimulainya kembali operasional program, BGN juga mengingatkan seluruh pengelola SPPG agar tetap menjaga kualitas layanan.
Higienitas selama proses memasak, ketepatan distribusi, serta kualitas gizi makanan menjadi aspek yang harus dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
“BGN memberikan himbauan tegas kepada seluruh SPPG di Trenggalek agar dalam operasional tahun ajaran baru ini benar-benar menjaga komitmen, memperhatikan higienitas proses memasak, ketepatan waktu distribusi, serta memastikan kualitas nutrisi makanan yang disajikan kepada penerima manfaat tetap optimal sesuai regulasi yang berlaku,” tegas Shiella.











