PERISTIWA

Rokok Ilegal Menyala di Trenggalek, Terpampang di Etalase Toko

×

Rokok Ilegal Menyala di Trenggalek, Terpampang di Etalase Toko

Sebarkan artikel ini

SUARA TRENGGALEK – Para pedagang nampaknya sudah berani buka-bukaan menempatkan rokok ilegal di rak toko mereka.

Terbukti bahwa rokok tanpa pita cukai resmi kini ditemukan di berbagai toko di hampir seluruh kecamatan di Trenggalek.

Kepala Satpol PPK Trenggalek, Habib Solehudin menyampaikan pihaknya telah menemukan satu hingga dua toko di setiap kecamatan yang menjual rokok ilegal.

“Di warung-warung memang banyak, rata-rata setiap kecamatan ada,” kata Habib, Kamis (19/9/2024).

Habib menambahkan meski kondisi tersebut sudah semakin parah, pihaknya terus memperketat pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal ini.

“Itu baru yang terpantau, kami menduga masih banyak toko lain yang belum terdeteksi dan kemungkinan besar juga menjual rokok ilegal,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa peredaran rokok ilegal tidak hanya terbatas di toko-toko lokal. Ada dugaan kuat bahwa pengiriman rokok ilegal juga berasal dari luar daerah melalui jasa pengiriman barang.

“Beberapa dikirim lewat online menggunakan jasa pengiriman barang. Yang offline biasanya dijual di toko-toko kecil,” ungkap Habib.

Untuk mengatasi masalah ini, Satpol PPK bekerja sama dengan Bea Cukai akan melakukan berbagai langkah pencegahan, termasuk sosialisasi kepada masyarakat.

“Kami sudah mengadakan sosialisasi di berbagai wilayah agar masyarakat sadar bahwa rokok ilegal bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga berdampak buruk bagi kesehatan dan perekonomian daerah,” tegasnya.

Satpol PPK juga terus mengumpulkan informasi tambahan mengenai toko-toko yang diduga masih menjual rokok ilegal.

“Kami akan terus mengintensifkan pengumpulan informasi dari berbagai sumber untuk mengidentifikasi dan menindak toko-toko yang masih mengedarkan rokok ilegal,” pungkas Habib.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.