PERISTIWA

Meski Masih Musim Kemarau, BPBD Trenggalek Imbau Warga Waspadai Curah Hujan Tinggi

×

Meski Masih Musim Kemarau, BPBD Trenggalek Imbau Warga Waspadai Curah Hujan Tinggi

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono.
Inti Berita:
• BPBD Trenggalek meluruskan persepsi publik dengan menegaskan bahwa hujan lebat di awal November 2026 bukan efek Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), karena kegiatan pembentukan hujan buatan BNPB/BMKG tersebut sudah selesai pada 27–28 Oktober 2026.
• ​Prakiraan BMKG Jatim mencatat curah hujan di Trenggalek masuk kategori sangat tinggi (di atas 200), meski status musim daerah setempat secara umum dinilai masih dalam periode transisi kemarau.

SUARA TRENGGALEK – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Trenggalek menegaskan hujan berintensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah pada awal November 2026 bukan merupakan dampak operasi modifikasi cuaca.

Penjelasan tersebut disampaikan menyusul munculnya perbincangan di masyarakat mengenai kaitan hujan lebat belakangan ini dengan operasi modifikasi cuaca yang sebelumnya dilakukan di Jawa Timur.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menyebut operasi modifikasi cuaca telah dilaksanakan pada 27 dan 28 Oktober 2026.

“Beda. Jadi, modifikasi itu sudah 2 hari yang lalu. 27, 28 itu modifikasi,” kata Triadi, Senin (2/11/2026).

Terkait hujan lebat yang terjadi belakangan ini, Triadi menjelaskan bahwa berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Timur, intensitas curah hujan di wilayah Trenggalek masuk kategori sangat tinggi.

“Dan perlu kami sampaikan kepada rekan-rekan, berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Timur, hujan yang terjadi di wilayah Trenggalek itu intensitasnya sangat tinggi, rata-rata di atas 200,” jelasnya.

Triadi juga menegaskan kondisi tersebut belum menandai masuknya musim penghujan di Kabupaten Trenggalek. Menurutnya, wilayah setempat secara umum masih berada dalam periode musim kemarau.

“Bukan. Jadi, yang terjadi saat ini adalah berbeda. Jadi di awal, di masih di musim kemarau,” ujarnya.

Sebelumnya, operasi modifikasi cuaca di Jawa Timur dikoordinasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BMKG dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan serta mengatasi kekeringan.

Dalam operasi tersebut, bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dilaporkan mencapai 1.000 kilogram per hari.

Kegiatan itu direncanakan berlangsung hingga 29 Oktober 2026. Sementara itu, hujan berintensitas tinggi pada awal November telah memicu sejumlah kejadian bencana di lima kecamatan di Trenggalek.

BPBD mencatat empat titik tanah longsor serta sejumlah kejadian pohon tumbang.