Inti Berita:
• BPBD Kabupaten Trenggalek memperketat mitigasi bencana di jalur Trenggalek-Ponorogo, khususnya pada ruas kilometer 16 hingga 20 yang tergolong rawan saat curah hujan tinggi.
• Kepala BPBD Triadi Atmono menegaskan hujan deras saat ini murni dampak awal musim penghujan (memasuki pekan ketiga), bukan lagi efek dari Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan akhir Oktober lalu.
SUARA TRENGGALEK – BPBD Kabupaten Trenggalek memperkuat langkah mitigasi bencana di jalur Trenggalek-Ponorogo seiring meningkatnya intensitas hujan pada awal musim penghujan.
Perhatian khusus diberikan pada ruas kilometer 16 hingga kilometer 20 yang dinilai perlu diwaspadai saat hujan deras.
Kepala BPBD Kabupaten Trenggalek, Triadi Atmono, mengatakan hujan yang mengguyur wilayah tersebut saat ini merupakan bagian dari awal musim penghujan yang mulai memasuki pekan ketiga.
Dengan demikian, hujan tersebut bukan lagi berkaitan dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan yang sebelumnya dilakukan pada 27–28 Oktober.
“Hujan saat ini merupakan dampak dari awal musim penghujan, mendekati minggu ketiga, dan bukan lagi hujan buatan. Hujan buatan terjadi pada tanggal 27–28,” jelas Triadi.
Menurutnya, peningkatan intensitas hujan membuat kewaspadaan terhadap potensi bencana perlu ditingkatkan, terutama di jalur penghubung Trenggalek-Ponorogo.
Ruas kilometer 16 hingga kilometer 20 menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian dalam upaya antisipasi bencana.
Kondisi cuaca dengan intensitas hujan tinggi berpotensi mengganggu keselamatan pengguna jalan maupun kelancaran perjalanan.
Triadi juga menyampaikan bahwa berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Timur, curah hujan di wilayah Trenggalek diperkirakan berada pada kategori tinggi.
“Angka curah hujan rata-rata disebut berada di atas 200,” imbuhnya.
BPBD mengimbau masyarakat, khususnya pengendara yang melintasi jalur Trenggalek-Ponorogo maupun sebaliknya, agar meningkatkan kewaspadaan ketika hujan deras turun.
Pengendara diminta memperhatikan kondisi jalan dan lingkungan sekitar serta menghindari berhenti di lokasi yang berisiko ketika cuaca memburuk.
“Memasuki musim penghujan, kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk menekan risiko bencana,” tegasnya.
Penguatan mitigasi di kawasan rawan diharapkan dapat mengurangi risiko bencana sekaligus menjaga keselamatan masyarakat yang beraktivitas dan melintas di jalur tersebut.











