Inti Berita:
• Seorang remaja (19) korban keracunan aqiqah di Pogalan dirawat intensif di RSUD dr. Soedomo Trenggalek setelah sempat pingsan dan dehidrasi berat.
• Kondisi pasien kini mulai membaik dengan frekuensi diare yang menurun drastis dari 8 kali menjadi 2 kali sehari, serta diproyeksikan segera pulang.
• Pasien mengaku mencium bau tak sedap pada hidangan sate, gulai, dan es kelapa yang dikonsumsi saat acara hajatan.
SUARA TRENGGALEK – RSUD dr. Soedomo Trenggalek merawat pasien berinisial L (19), warga Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, yang dirujuk sejak Rabu sore akibat dugaan keracunan usai menyantap hidangan hajatan aqiqah pada Selasa (6/10/2026).
Saat tiba di rumah sakit, kondisi kesadaran pasien sempat menurun karena mengalami dehidrasi sedang menuju berat usai menderita muntaber dan demam tinggi. Hingga Jumat (9/10/2026), pasien tersebut telah menjalani rawat inap selama tiga hari.
Saat ditemui awak media, Humas RSUD dr. Soedomo Trenggalek, Sujiono mengatakan saat ini kondisi pasien masih dalam pemantauan tim medis karena keluhan diare belum sepenuhnya berhenti.
“Kami kemarin, hari Rabu sore, menerima pasien dengan keluhan panas dan diare yang terus-menerus. Saat ini masih kita lakukan observasi dan perawatan lanjutan akibat dari adanya diare tersebut,” kata Sujiono.
Pasien Mengalami Dehidrasi Sedang
Menurutnya, keluhan yang menjadi perhatian tim medis adalah diare berulang yang disertai demam dan kondisi tubuh lemas.
Saat pertama kali tiba di rumah sakit, tingkat kesadaran pasien juga menurun yang diduga berkaitan dengan dehidrasi.
“Kalau istilahnya masih dehidrasi sedang, tapi kita masih juga mengarah ke berat. Makanya pasiennya kesadarannya kan menurun,” jelasnya.
Pada hari ketiga perawatan, kondisi pasien mulai membaik. Frekuensi diare yang sebelumnya dilaporkan mencapai delapan kali dalam sehari, kini berkurang menjadi dua kali.
“Kemarin, sempat mengalami diare 8 kali sehari. Nah hari ini sudah dua kali. Semoga besok sudah ususnya sehat lagi, sudah dijadwalkan bisa pulang,” ujar Sujiono.
Meski demikian, pasien masih harus menjalani evaluasi dan observasi untuk memastikan perkembangan kondisinya sebelum diperbolehkan pulang.
Keluhan Muncul Sehari Setelah Hajatan
L menuturkan, dirinya menghadiri hajatan aqiqah pada Selasa sore hingga sekitar pukul 19.00 WIB.
Keesokan paginya saat di tempat kerja, ia mulai merasa tidak enak badan, disertai mual, muntah, dan diare.
Menurut pengakuannya, diare mulai dirasakan sekitar pukul 08.00 WIB dan terjadi berulang kali. Menjelang pukul 11.00 WIB, tubuhnya mulai panas.
Kondisinya kemudian semakin lemas hingga sempat pingsan di rumah pada Rabu sore menjelang Magrib. L akhirnya dibawa ke RSUD dr. Soedomo pada Rabu malam.
Ia menyebut hidangan yang dikonsumsi saat hajatan antara lain sate, gulai dan es kelapa.
Menurutnya, makanan yang disantap sempat tercium agak berbau, meski rasanya masih normal.
L juga mengaku mendapat informasi dari grup lingkungan bahwa warga lain mengalami gejala serupa.
Namun, belum dapat dipastikan apakah keluhan tersebut disebabkan oleh makanan atau minuman dari hajatan.
Puluhan Warga Mendapat Penanganan
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek melaporkan sedikitnya 69 warga mengalami keluhan kesehatan setelah menghadiri hajatan aqiqah di Desa Kedunglurah.
Sejumlah warga mengalami diare, nyeri perut, lemas, dan pusing. Dinas Kesehatan bersama puskesmas setempat telah melakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap warga terdampak, sekaligus menelusuri kemungkinan sumber penyebab keluhan.
Sampel air dari dua sumber sumur di rumah pemilik hajatan telah diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Sementara itu, sampel makanan tidak dapat diperiksa karena makanan yang tersisa sudah membusuk dan berjamur sehingga tidak memenuhi syarat pengujian.
Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami warga masih belum dapat dipastikan. Pemantauan terhadap kondisi warga dan perkembangan jumlah kasus terus dilakukan oleh petugas kesehatan.











