KESEHATAN

RSUD dr. Soedomo Trenggalek Tambah Mesin Cuci Darah, Mampu Pangkas Antrian 145 Pasien

×

RSUD dr. Soedomo Trenggalek Tambah Mesin Cuci Darah, Mampu Pangkas Antrian 145 Pasien

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pj Sekda Trenggalek saat melihat ruangan Dialisis A di RSUD dr Soedomo Trenggalek.
Inti Berita:
• RSUD dr. Soedomo Trenggalek menambah 17 mesin cuci darah (total kini 31 mesin) dan pindah ke gedung baru untuk memangkas rujukan luar daerah serta memangkas antrean 145 pasien.
​• Pasien hemodialisis mencakup berbagai usia dengan kasus termuda 15 tahun, memicu Pemkab Trenggalek menguatkan edukasi pencegahan penyakit ginjal lewat puskesmas dan sekolah.
​• Sebanyak 11 pasien berhasil lepas dari ketergantungan cuci darah berkat kedisiplinan menjaga pola makan, terutama bagi penderita gagal ginjal akut.

SUARA TRENGGALEK – Demi meningkatan pelayanan kesehatan masyarakat, RSUD dr. Soedomo Trenggalek menambah 17 mesin hemodialisis atau cuci darah.

Penambahan fasilitas tersebut dilakukan untuk merespons meningkatnya kebutuhan layanan cuci darah di Kabupaten Trenggalek. Selain menambah mesin, rumah sakit juga memindahkan layanan hemodialisis ke gedung baru.

Dengan penambahan mesin tersebut, RSUD dr. Soedomo kini memiliki 31 mesin hemodialisis. Sebelumnya, rumah sakit hanya mengoperasikan 14 mesin.

Saat dikonfirmasi awak media, Pj Sekda Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono mengatakan pemerintah melihat adanya peningkatan kebutuhan terhadap layanan hemodialisis.

“Jumlah pasien cuci darah di Kabupaten Trenggalek memang menunjukkan tren peningkatan. Pemerintah Daerah berharap penambahan kapasitas ini dapat memangkas ketergantungan warga yang selama ini harus dirujuk atau berobat ke luar daerah,” ungkap Triadi.

Sebelum penambahan mesin, RSUD dr. Soedomo mampu melayani 76 pasien reguler. Layanan tersebut dijalankan dalam dua shift, mulai pukul 06.00 hingga 19.00 WIB.

Keterbatasan kapasitas membuat sebagian pasien harus masuk daftar tunggu. Sebagian lainnya mencari layanan hemodialisis di daerah sekitar.

Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, menyebut daftar tunggu layanan hemodialisis saat ini masih mencapai 145 pasien.

“Berdasarkan catatan waiting list yang ada, saat ini tercatat ada sekitar 145 pasien yang menunggu antrean layanan,” jelas dr. Saeroni.

Setiap mesin hemodialisis dapat melayani dua pasien per hari melalui dua shift. Rumah sakit juga menyiagakan satu mesin khusus untuk kondisi gawat darurat atau cito.

“Untuk kasus gawat darurat atau cito, kami tetap memfasilitasi dan menyiagakan persediaan unit khusus,” tambahnya.

Layanan hemodialisis di RSUD dr. Soedomo juga terintegrasi dengan program BPJS Kesehatan.

Pasien Termuda Berusia 15 Tahun

Pasien yang menjalani hemodialisis di RSUD dr. Soedomo berasal dari berbagai kelompok usia. Gangguan ginjal tidak hanya dialami pasien lanjut usia.

Dr. Saeroni menyebut rumah sakit pernah menangani pasien hemodialisis berusia 15 tahun.

“Pasien termuda yang pernah kami tangani di sini tercatat berusia 15 tahun,” beber dr. Saeroni.

Menurutnya, kerusakan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi, di antaranya riwayat penyakit komorbid dan konsumsi obat jangka panjang tanpa pengawasan medis.

Pola makan tertentu juga dapat memperberat kerja ginjal. Karena itu, pemerintah menguatkan upaya pencegahan melalui layanan kesehatan primer.

Pemkab Trenggalek menjalankan edukasi melalui 22 puskesmas yang tersebar di 14 kecamatan. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) menjadi salah satu sarana edukasi tersebut.

Pemerintah juga melakukan sosialisasi pencegahan ke sekolah-sekolah.
Sebelas Pasien Lepas dari Ketergantungan Cuci Darah

Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan hemodialisis, RSUD dr. Soedomo juga mencatat adanya pasien yang berhasil lepas dari cuci darah.

Sebanyak 11 pasien tercatat tidak lagi bergantung pada mesin hemodialisis. Salah satunya Rusnawati, warga Desa Sambirejo, Kecamatan Karangan.

Rusnawati menjalani cuci darah pada 2018 hingga 2019. Ia juga sempat menjalani rujukan ke Kota Malang.

Menurut Rusnawati, disiplin mengikuti arahan dokter dan menjaga pola makan menjadi bagian penting dalam proses pemulihannya.

“Lha napa sing mboten pareng, niku nggih kula mboten maem (Apa saja yang tidak diperbolehkan oleh dokter, ya tidak saya makan),” tutur Rusnawati.

Kini Rusnawati dapat beraktivitas normal tanpa menjalani hemodialisis. Namun, dr. Saeroni menegaskan peluang pasien untuk lepas dari cuci darah bergantung pada kondisi ginjalnya.

“Pasien dengan kondisi gagal ginjal akut (acute kidney injury) memiliki peluang pemulihan fungsi ginjal. Namun untuk kasus yang sudah masuk tahap kronis (chronic kidney disease), umumnya pasien akan bergantung pada hemodialisis secara berkala,” pungkasnya.