Inti Berita:
• Yuliana Dwi Handayani, guru SMK Darussalam Durenan sekaligus anggota Sanggar LWW, terpilih menjadi bagian dari tim Jawa Timur yang akan tampil dalam pertunjukan kolosal di Istana Merdeka pada HUT ke-81 RI.
• Tim Jawa Timur akan membawakan sejumlah kesenian dalam durasi sekitar lima menit dan kini tengah menjalani persiapan intensif menjelang 17 Agustus 2026.
SUARA TRENGGALEK – Kabar membanggakan datang dari dunia seni Trenggalek. Yuliana Dwi Handayani, guru SMK Darussalam Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, terpilih menjadi salah satu penari yang akan tampil dalam pertunjukan kolosal di Istana Merdeka pada peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.
Yuliana saat ini telah bertolak ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian persiapan pertunjukan. Ia merupakan anggota Sanggar Lestari Widodo Wiryotomo (LWW).
Menariknya, Yuliana tidak melalui proses pendaftaran secara langsung untuk mengikuti pertunjukan tersebut.
Ia terpilih setelah Provinsi Jawa Timur memilih sejumlah sanggar tari, kemudian sanggar menentukan penari yang akan menjadi bagian dari tim.
“Kalau dari Trenggalek itu yang tari topeng cuma beberapa orang. Tapi yang dipanggil itu Sanggar LWW. Kebetulan saya ikut Sanggar LWW, jadi alhamdulillah terpilih untuk ikut menjadi penarinya,” ujar Yuliana Dwi Handayani saat dikonfirmasi, Rabu (12/8/2026).
Sanggar LWW yang menunjuk Yuliana berada di Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung.
Latihan Intensif Sejak 28 Juli
Yuliana mengatakan, persiapan untuk tampil di Istana Merdeka telah dilakukan secara intensif sejak 28 Juli 2026.
Latihan berlangsung mulai sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WIB dan dilanjutkan hingga malam hari.
Menurutnya, persiapan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menari. Kondisi fisik dan mental juga menjadi perhatian utama karena pertunjukan akan berlangsung di lapangan Istana.
“Untuk persiapannya yang penting itu fisik sama mentalnya. Soalnya tampilnya di lapangan Istana, jadi membutuhkan fisik yang kuat,” bebernya.
Dalam pertunjukan tersebut, tim Jawa Timur akan membawakan sejumlah kesenian yang dirangkai menjadi satu pertunjukan kolosal.
Beberapa kesenian yang akan ditampilkan yakni Tari Remo, Tari Glipang, Jaranan, Tari Jaripah, dan Topeng Malang.
Setiap provinsi mendapatkan durasi penampilan sekitar lima menit.
“Durasi lima menit saja, soalnya semua dirata lima menit setiap provinsi,” ujarnya.
Yuliana menambahkan, seluruh penari yang mewakili Jawa Timur berasal dari Sanggar LWW. Berbagai jenis tarian tersebut akan dikemas menjadi satu kesatuan pertunjukan kolosal.
Latihan Dipindah ke GOR
Menjelang pelaksanaan, latihan para penari semakin diintensifkan. Sebelumnya, latihan dilakukan di Aula Semuger, kemudian mendekati hari pelaksanaan dipindahkan ke GOR.
Dalam sejumlah sesi latihan, penampilan para penari juga dipantau pejabat dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung karena latihan digelar di GOR Lembu Peteng Tulungagung.
“Lebih ke intens ke latihannya saja kalau persiapannya. Untuk persiapan kostum itu sudah disiapkan sama kru, dari penata rias sama penata kostum,” jelasnya.
Meski persiapan terus dilakukan, Yuliana mengaku belum mengetahui secara pasti waktu penampilan timnya dalam rangkaian acara 17 Agustus 2026.
Ia masih menunggu rundown resmi, termasuk jadwal setelah pengibaran maupun rangkaian acara lainnya.
Untuk sementara, para penari masih fokus mengikuti gladi kotor dan gladi bersih sebelum hari pelaksanaan.
Guru dan Seniman, Dorong Generasi Muda Tak Takut Berkesenian
Perempuan yang merupakan alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta tahun 2024 tersebut berharap keterlibatannya dalam pertunjukan di Istana Merdeka menjadi pengalaman sekaligus motivasi untuk terus melestarikan seni dan budaya.
Sebagai seorang guru, Yuliana juga berpesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak menganggap seni sebagai sesuatu yang tabu.
“Jangan sampai kita meremehkan seni. Karena seni itu memang jangan pernah menganggap seni sebagai hal tabu. Dengan seni itu kita bisa berkeliling dunia,” tuturnya.
Menurut Yuliana, seni juga dapat menjadi sarana untuk mengenal kebudayaan dari berbagai daerah.
Karena itu, ia berharap para pegiat seni terus berkarya dan tidak ragu mengembangkan potensi kesenian yang dimiliki.
Ia menilai seni memiliki peran penting dalam memperkenalkan budaya antardaerah sekaligus membuka kesempatan mendapatkan pengalaman yang lebih luas.
“Dengan seni itu kita bisa berkeliling dunia gitu. Bisa tahu budaya-budaya antarkota. Karena kebanyakan kalau di area yang Islam kayak Islam yang kental itu bisa kayak jangan ikut seni gitu,” akuinya.











