PERISTIWA

72 Dapur MBG di Trenggalek Libatkan 3.100 Relawan, dengan Minimal 30 Persen dari Desil 1 dan 2

×

72 Dapur MBG di Trenggalek Libatkan 3.100 Relawan, dengan Minimal 30 Persen dari Desil 1 dan 2

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Para relawan SPPG di Trenggalek saat mencuci ompreng setelah di gunakan.
Inti Berita:
• Sebanyak 72 SPPG MBG telah beroperasi di Kabupaten Trenggalek dengan melibatkan sekitar 3.100 relawan di luar tenaga SPPI.
• Rata-rata setiap dapur mempekerjakan sekitar 45 relawan sesuai jumlah penerima manfaat.
• Perekrutan memprioritaskan masyarakat sekitar lokasi dapur, dengan minimal 30 persen berasal dari kelompok desil 1 dan desil 2.

SUARA TRENGGALEK – Sebanyak 72 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) telah beroperasi di Kabupaten Trenggalek.

Dari seluruh dapur tersebut, sekitar 3.100 relawan dilibatkan untuk mendukung operasional layanan. Para relawan diprioritaskan dengan kondisi desil 1 dan 2 dari lingkungan SPPG.

Koordinator Wilayah SPPI BGN Kabupaten Trenggalek, Shiella Ammanda Yanu Fadilla, mengatakan jumlah relawan tersebut berada di luar tenaga SPPI.

“Kurang lebih 3.100 relawan yang ada di kurang lebih ya. Jadi, bisa lebih seperti itu,” kata Shiella.

Menurutnya, jumlah relawan di setiap dapur menyesuaikan dengan jumlah penerima manfaat yang dilayani. Rata-rata satu SPPG mempekerjakan sekitar 45 relawan.

“Rata-rata 1 SPPG kurang lebih 45 relawan. Sesuai dengan penerima manfaat yang ada di SPPG,” jelasnya.

Minimal 30 Persen dari Desil 1 dan 2

Dalam perekrutan relawan, pengelola SPPG diminta memprioritaskan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dapur.

Selain itu, terdapat ketentuan minimal 30 persen relawan berasal dari masyarakat kategori desil 1 dan desil 2.

“Pastinya untuk relawan ini dimaksimalkan untuk yang sekitar rumah, yang mana harus melayani, harus mengambil desil satu dan desil dua itu minimal 30 persen,” terang Shiella.

Ia menjelaskan, masyarakat sekitar tetap menjadi prioritas dalam perekrutan. Namun, untuk kelompok desil 1 dan 2 terdapat ketentuan minimal yang harus dipenuhi.

“Di luar itu maksudnya orang sekitar juga. Tetapi untuk yang minimalnya itu desil satu dan desil dua,” ujarnya.

Terkait pemenuhan kuota tersebut, Shiella mengatakan pihaknya masih melakukan pengecekan kembali terhadap data relawan.

“Secara pendataan kemarin mungkin kami harus cross check kembali karena memang ada pergantian,” katanya.

72 SPPG Sudah Beroperasi

Selain perkembangan jumlah relawan, saat ini terdapat 72 SPPG yang telah aktif dan beroperasi di Kabupaten Trenggalek.

Dapur-dapur tersebut melayani penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan serta kelompok rentan gizi.

“Untuk saat ini ada 72 SPPG aktif yang sudah beroperasional yang ada di Kabupaten Trenggalek,” kata Shiella.

Layanan MBG tersebut mencakup peserta didik mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan sederajat, hingga ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

Setiap SPPG Wajib Layani 3B

Shiella menegaskan setiap SPPG wajib melayani kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Iya, wajib. Setiap SPPG wajib mengambil 3B,” tegasnya.

Untuk jumlah penerima manfaat kelompok tersebut, kuota disesuaikan dengan kondisi dan pemerataan penerima manfaat di masing-masing wilayah.

“Kita sesuaikan dengan penerima manfaat pemerataannya. Tapi, setiap SPPG wajib mengambil atau melayani ibu hamil, ibu menyusui dan balita,” jelasnya.

Enam SPPG Masih Belum Aktif

Di sisi lain, masih terdapat enam SPPG yang belum beroperasi. Menurut Shiella, keenam dapur tersebut masih menunggu proses pencairan dana serta penyelesaian administrasi.

“Belum aktif ada enam. Menunggu untuk pencairan dana dan juga secara administratif,” ungkapnya.

Apabila proses pencairan dana dan kelengkapan administrasi telah selesai, SPPG tersebut dapat mulai menjalankan operasional.

Tag:
Penulis: RUDI YUNI Editor: JAOHAR