Inti Berita:
• KONI Trenggalek meminta Askab PSSI dan SSB Shrimp Army Football Academy segera menyelesaikan polemik dugaan pengubahan data pemain di aplikasi SIAP melalui komunikasi yang baik.
• Ketua KONI Trenggalek menegaskan pembinaan dan masa depan atlet harus menjadi prioritas utama.
• Sementara penyelesaian konflik diharapkan dilakukan terlebih dahulu melalui koordinasi internal antara Askab dan klub-klub anggota.
SUARA TRENGGALEK – Konflik otak-atik data pemain dalam aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) yang melibatkan Askab PSSI Trenggalek dan SSB Shrimp Army Football Academy mendapat perhatian dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Trenggalek.
KONI Trenggalek meminta kedua belah pihak segera menyelesaikan persoalan melalui jalur komunikasi yang sehat agar tidak berdampak terhadap pembinaan atlet sepak bola usia dini.
Ketua KONI Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, menegaskan setiap persoalan yang muncul di lingkungan cabang olahraga seharusnya dapat diselesaikan melalui koordinasi dan komunikasi yang baik.
Menurutnya, minimnya komunikasi hanya akan memicu kesalahpahaman dan memperbesar konflik.
“Kita berharap segala permasalahan di cabang olahraga bisa diminimalisasi dengan cara komunikasi. Komunikasi yang baik tentunya harus dilakukan secara rutin. Jangan sampai terlalu lama tidak ada komunikasi karena akan memunculkan miskomunikasi dan persoalan-persoalan lainnya,” ujar Doding.
Ia mendorong agar pengurus Askab PSSI Trenggalek rutin menggelar rapat koordinasi dengan klub-klub anggota sehingga setiap persoalan dapat segera diselesaikan sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Komunikasi harus dibangun dengan baik melalui rapat-rapat koordinasi antara cabang olahraga dengan klub-klub yang ada,” imbuhnya.
Pembinaan Atlet Harus Menjadi Prioritas
Doding menegaskan seluruh pihak harus mengutamakan kepentingan atlet dibanding persoalan organisasi. Menurutnya, tujuan utama pembinaan olahraga adalah mencetak atlet berprestasi, sehingga konflik internal tidak boleh menghambat proses tersebut.
“Yang paling utama adalah atlet-atlet kita. Bagaimana anak-anak kita di lapangan bisa meraih prestasi yang seluas-luasnya. Tugas kita adalah menjembatani seluruh atlet di Kabupaten Trenggalek. Kalau yang menjembatani ini bermasalah, akhirnya yang dirugikan juga para atlet,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pihak dapat mengedepankan dialog sehingga polemik yang terjadi tidak berlarut-larut.
Belum Akan Turun Menjadi Mediator
Meski memberi perhatian terhadap persoalan tersebut, KONI Trenggalek belum berencana mengambil peran sebagai mediator. Doding menilai penyelesaian sebaiknya lebih dahulu dilakukan melalui mekanisme internal antara Askab PSSI Trenggalek dan klub-klub anggotanya.
“Kita belum mengarah ke situ. Yang kita harapkan antara PSSI dengan klub-klub bisa segera bertemu, berkoordinasi, dan menemukan solusi terbaik. Intinya mari berpikir bahwa ujung dari segala yang kita lakukan adalah bagaimana mendongkrak prestasi atlet-atlet kita,” pungkasnya.
Konflik Berawal dari Gagalnya Shrimp Army Tampil di Piala Soeratin
Polemik ini bermula ketika SSB Shrimp Army Football Academy asal Kecamatan Watulimo gagal mengikuti Piala Soeratin U-15 2026.
Manajemen klub menemukan sejumlah pemain yang sebelumnya tercatat dalam database SIAP tiba-tiba tidak lagi terdaftar sehingga menghambat proses administrasi pendaftaran tim.
Dalam perkembangan terbaru, Wakil Sekretaris sekaligus Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni, mendatangi markas Shrimp Army Football Academy untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung.
Permintaan maaf tersebut diterima oleh Pemilik Shrimp Army Football Academy, Anjar Priadi Putra, secara pribadi.
Namun, Anjar menegaskan persoalan belum dianggap selesai karena Askab PSSI Trenggalek sebagai organisasi belum mengeluarkan sikap resmi maupun hasil evaluasi kelembagaan.
“Kami memaafkan Mas Bima secara personal. Namun, kami menuntut evaluasi organisasi tetap berjalan. Kami masih menunggu surat keputusan dan sikap resmi dari institusi Askab PSSI Trenggalek agar kasus diskriminatif seperti ini tidak kembali menjegal Shrimp Army maupun SSB lainnya di masa depan,” tegas Anjar.
Sebelumnya, Bima mengakui telah menyalahgunakan kewenangannya sebagai admin tingkat kabupaten dengan mengubah data pemain serta mencabut status kepemilikan sejumlah pemain dari akun SIAP milik Shrimp Army.
Ia menyebut tindakan tersebut merupakan kesalahan pribadi dan berjanji Askab PSSI Trenggalek tidak akan lagi mencampuri pengelolaan akun SIAP milik klub-klub anggota.
Kini, publik sepak bola Trenggalek menantikan langkah resmi dari pengurus Askab PSSI Trenggalek.











