Inti Berita:
• Dinsos PPPA Trenggalek saat ini memiliki dua rumah terapi untuk anak berkebutuhan khusus.
• Rumah terapi berada di Kantor Dinsos Trenggalek dan SMPN 1 Panggul.
• Pengembangan rumah terapi di Kecamatan lain masih terkendala anggaran
SUARA TRENGGALEK – Dinas Sosial PPPA Kabupaten Trenggalek saat ini memiliki dua rumah terapi yang digunakan untuk melayani anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan kebutuhan terapi cerebral palsy (CP).
Lokasi tersebut berada di SMPN 1 Panggul dan di kantor Dinsos sendiri, rumah terapi tersebut rencananya dikembangkan di beberapa kecamatan. Namun saat ini masih terkendala anggaran.
Kepala Dinas Sosial PPPA Trenggalek, Habib Solehudin, mengatakan rumah terapi pertama berada di Kantor Dinsos Trenggalek dan melayani terapi setiap hari. Sementara rumah terapi kedua berada di SMP Negeri 1 Panggul.
“Di Trenggalek ini ada dua rumah terapi. Yang pertama di kantor Dinas Sosial dan dilaksanakan setiap hari pelayanan,” ujar Habib.
Sedangkan layanan di Panggul belum bisa dilakukan setiap hari karena keterbatasan jumlah terapis yang dimiliki pemerintah daerah.
“Kemudian di Panggul berada di SMP Negeri 1 Panggul, kebetulan diberi tempat oleh kepala sekolah. Karena keterbatasan terapis, pelayanan di sana dilakukan dua kali dalam sebulan,” jelasnya.
Dalam satu kali pelayanan terapi, terdapat tiga terapis yang menangani pasien secara bergantian.
“Setiap terapis memberikan pelayanan dua kali, jadi total satu hari ada enam kali terapi,” katanya.
Menurut Habib, layanan terapi tersebut diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, terutama balita yang mengalami gangguan tumbuh kembang dan memerlukan terapi fisik.
“Anak-anak ini diberikan pelayanan dipijat dan diterapi oleh tenaga ahli,” ungkapnya.
Bahkan pada pelayanan tertentu, Dinsos juga mendatangkan tambahan terapis dari luar daerah seperti Temanggung guna menambah kapasitas pelayanan.
“Hari ini didatangkan juga dari Temanggung sehingga yang tadinya enam kali pelayanan menjadi delapan kali,” imbuhnya.
Saat ini tercatat ada sekitar 20 peserta terapi aktif di rumah terapi Trenggalek. Sedangkan di wilayah Panggul terdapat sekitar 15 peserta, meski belum semuanya bisa terlayani secara maksimal.
“Di sini ada 20 peserta yang setiap hari melakukan terapi. Di Panggul ada 15, tapi karena keterbatasan terapis baru enam yang bisa dilakukan,” terang Habis.
Ia menambahkan, pemerintah daerah membuka peluang untuk menambah rumah terapi baru apabila dukungan anggaran memungkinkan.
“Kalau nanti ada anggaran, insyaallah akan kami buka kembali karena kebutuhan terapi ini cukup banyak,” katanya.
Selain rumah terapi, Dinsos Trenggalek juga terus mengoptimalkan layanan shelter sosial yang digunakan sebagai tempat penampungan sementara bagi orang terlantar (OT) maupun Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Menurut Habis, shelter tersebut aktif menerima laporan masyarakat hampir setiap hari.
“Shelter sejak dibuka terus melakukan kegiatan setiap hari dan menampung sasaran dari laporan masyarakat,” ujarnya.
Ia mencontohkan, belum lama ini petugas menerima kiriman warga terlantar dari wilayah Watulimo untuk kemudian dilakukan asesmen di shelter.
Jika hasil asesmen menunjukkan pasien merupakan ODGJ, maka Dinsos akan langsung merujuk ke rumah sakit jiwa untuk penanganan lebih lanjut.
“Kalau membutuhkan penanganan ODGJ otomatis kami rujuk ke rumah sakit,” jelasnya.
Sedangkan untuk warga terlantar non-ODGJ, petugas akan melakukan pendataan asal daerah sebelum dipulangkan.
“Kalau OT, kita asesmen berasal dari mana lalu kita komunikasikan dengan dinas sosial asal untuk dipulangkan,” katanya.
Shelter tersebut bersifat penampungan sementara dengan masa tinggal maksimal tujuh hari.
“Maksimal satu minggu untuk pembinaan sambil melihat identitas dan asal daerahnya,” pungkas Habis.











