PERISTIWA

Kembali Dikomplain Usai Kena Suspend, Satgas MBG Trenggalek Ungkap SPPG Al-Mursyid Belum Miliki SLHS

×

Kembali Dikomplain Usai Kena Suspend, Satgas MBG Trenggalek Ungkap SPPG Al-Mursyid Belum Miliki SLHS

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto saat menyampaikan kelengkapan SLHS di SPPG.
Inti Berita:
• SPPG Ngetal belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)
• Masalah utama ada pada pemahaman SOP dan sistem IPAL yang belum sesuai standar
• Pengelola mulai melakukan pembenahan, termasuk pengadaan peralatan baru
• Lokasi dapur tidak melanggar aturan tata ruang (aman dari LSD)
• Satgas mendesak pemenuhan standar demi keamanan makanan program MBG

SUARA TRENGGALEK – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek kembali menjadi perhatian publik.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al-Mursyid di Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, menuai sorotan setelah diketahui belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Padahal, dapur tersebut baru saja kembali beroperasi usai menjalani sanksi penghentian sementara (suspend).

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, membenarkan bahwa hingga saat ini pengelola SPPG Ngetal masih dalam proses pengurusan sertifikasi.

“SPPG Ngetal memang belum memiliki SLHS. Saat ini pengelola masih mengurus administrasinya,” ujarnya.

Berdasarkan hasil monitoring lapangan, persoalan utama tidak hanya terletak pada kelengkapan dokumen, tetapi juga pada pemahaman sumber daya manusia.

Meski pengelola telah memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP), implementasinya dinilai belum maksimal.

“SOP sebenarnya sudah tersedia, tetapi belum disosialisasikan secara maksimal kepada relawan dapur. Kami meminta agar setiap pelatihan dan penerapan SOP didokumentasikan,” tegas Sunarto.

Selain itu, Satgas juga menemukan kendala teknis pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Sistem yang digunakan masih bersifat rumah tangga, sehingga dinilai belum mampu menampung beban produksi dapur skala besar sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kendala utama ada pada IPAL. Mereka masih memakai sistem rumah tangga, sementara beban produksi dapur sangat besar,” jelasnya.

Meski demikian, pengelola SPPG Ngetal mulai melakukan pembenahan. Salah satunya dengan memesan peralatan baru untuk meningkatkan kualitas sistem pengolahan limbah.

“Peralatan untuk SPPG Ngetal sudah dipesan dan saat ini dalam proses pengiriman,” ungkap Sunarto.

Langkah serupa juga dilakukan oleh pengelola SPPG Ngantaru 3 yang turut masuk dalam pantauan Satgas.

Dari sisi tata ruang, Satgas memastikan bahwa kedua dapur tersebut tidak melanggar aturan.

Lokasi dapur dipastikan tidak berada di atas Lahan Sawah Dilindungi (LSD), sehingga proses perizinan masih dapat dilanjutkan.

“Kami memastikan dua lokasi ini aman dari kawasan LSD, sehingga proses perizinan dapat berlanjut,” tambahnya.

Sunarto menegaskan, keberadaan sertifikat SLHS menjadi indikator penting dalam menjamin keamanan pangan, terutama untuk produksi makanan dalam skala besar.

Satgas MBG pun mendesak agar seluruh persyaratan teknis dan administrasi segera dipenuhi sebelum operasional dilakukan secara optimal.

“Kami berharap semua SPPG segera memenuhi standar,” pungkasnya.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.