BUDAYA

Ritual Longkangan ke-177 Digelar, Warga Munjungan Trenggalek Larung Kepala Kerbau ke Laut

×

Ritual Longkangan ke-177 Digelar, Warga Munjungan Trenggalek Larung Kepala Kerbau ke Laut

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Prosesi Longkangan, saat warga akan melarung kepala kerbau ke laut.
Inti Berita:
• Ritual Adat Longkangan ke-177 digelar di Munjungan, Trenggalek
• Dua gunungan diarak, termasuk kepala kerbau yang dilarung ke laut
• Tradisi jadi simbol syukur sekaligus pesan menjaga alam
• Diikuti seluruh masyarakat dan telah jadi Warisan Budaya Tak Benda
• Pemerintah berharap budaya ini terus dilestarikan dan berdampak ekonomi

SUARA TRENGGALEK Ritual Pahargyan Adat Longkangan ke-177 berlangsung khidmat di Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, Selasa (28/4/2026).

Tradisi tahunan yang digelar setiap Bulan Selo dalam penanggalan Jawa ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam.

Prosesi diawali dengan arak-arakan dua gunungan dari Kantor Kecamatan Munjungan menuju Pantai Blado.

Gunungan tersebut berupa tumpeng nasi kuning serta kepala kerbau yang sebelumnya telah disembelih untuk kemudian dilarung ke laut.

Ketua Panitia Pahargyan Adat Longkangan, Agus Setiawan, menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung selama 177 tahun dan menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Munjungan.

“Bagaimana masyarakat Munjungan, baik nelayan, petani, dan seluruh elemen, mewujudkannya dalam bentuk tasyakuran dengan menyembelih kerbau. Kepala kerbaunya dilarung ke laut,” ujarnya.

Ia menambahkan, filosofi Longkangan mengandung pesan agar manusia senantiasa menjaga alam, termasuk sumber mata air dan ekosistem laut.

“Makanya ada dari Patirtan seperti Sumber Ireng. Di situ kita diajarkan merawat sumber mata air dan kelestarian alam, khususnya laut,” imbuhnya.

Selain kepala kerbau, prosesi larung juga disertai sesajen dan tumpeng nasi kuning yang dikelilingi sayur mayur. Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada malam hari dengan puncak acara “onang-onang bedil muni” yang diisi dengan perjamuan bersama.

“Filosofi Longkangan adalah saling menjaga dan menghormati sesama makhluk ciptaan Tuhan,” katanya.

Agus yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Munjungan menyebut tradisi ini diikuti seluruh lapisan masyarakat. Ia berharap nilai-nilai kearifan lokal tersebut terus dilestarikan, khususnya oleh generasi muda.

“Kita hidup berdampingan dengan alam, jadi harus kita jaga dan lestarikan,” tegasnya.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Sekda Trenggalek, Edif Hayunan, mengapresiasi pelaksanaan ritual tersebut.

Ia mengingatkan pentingnya menjaga alam demi keberlanjutan generasi mendatang.

“Karena hidup tidak hanya hari ini, tapi juga untuk anak cucu kita. Kalau kita rakus, apa yang akan kita wariskan?” ujarnya.

Ia juga menilai tradisi ini tidak sekadar ritual, tetapi bentuk kepedulian sosial dan budaya yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

“Budaya yang baik harus kita lestarikan. Insyaallah berdampak pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Pantauan di lapangan, masyarakat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga prosesi pelarungan.

Pahargyan Adat Longkangan sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan, dengan penyerahan sebelumnya dilakukan di Taman Krida Budaya Malang pada 22 Februari 2026.