SUARA TRENGGALEK – Jalur utama penghubung Trenggalek–Ponorogo tetap difungsikan selama arus mudik dan balik Lebaran 2026 meski sempat terdampak longsor.
Namun, untuk menjaga keselamatan, kepolisian memberlakukan sistem buka-tutup secara situasional.
Kebijakan tersebut diterapkan khususnya di titik rawan longsor di Kilometer 16 Desa Nglinggis, Kecamatan Tugu, yang sebelumnya mengalami pergerakan tanah akibat cuaca ekstrem.
Hingga saat ini, penanganan di lokasi masih berlangsung dan memerlukan pengawasan ketat.
Kapolres Trenggalek, Ridwan Maliki, menegaskan bahwa jalur tetap dibuka guna mendukung mobilitas masyarakat selama Lebaran, namun keselamatan tetap menjadi prioritas utama.
“Jalur tetap kita buka, tetapi diberlakukan sistem buka-tutup melihat kondisi di lapangan. Jika terjadi hujan deras atau ada potensi longsor susulan, maka arus akan dihentikan sementara,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sistem buka-tutup dilakukan secara bergantian dari dua arah, terutama di jalur nasional yang masih dalam tahap pemulihan pascalongsor. Langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko kecelakaan maupun korban jiwa.
Untuk mendukung pengaturan tersebut, kepolisian telah menempatkan personel di sejumlah titik strategis, termasuk Pos Pantau di Kecamatan Tugu.
Satu regu Satlantas juga disiagakan khusus untuk membantu pengaturan lalu lintas serta melakukan rekayasa arus jika diperlukan.
Selain itu, jalur alternatif melalui kawasan Bendungan Tugu disiapkan sebagai opsi apabila jalur utama harus ditutup total. Pengendara diimbau untuk tetap waspada dan mematuhi arahan petugas di lapangan.
Tak hanya di titik longsor, kepolisian juga memetakan sejumlah jalur rawan kecelakaan lain di wilayah Trenggalek, seperti ruas Kampak–Munjungan yang memiliki medan ekstrem serta jalur Kaligreng di Kecamatan Watulimo.
Polisi juga mengingatkan potensi lonjakan volume kendaraan saat arus balik Lebaran, khususnya di kawasan wisata Watulimo pada H+7, yang diperkirakan dapat meningkatkan kepadatan lalu lintas.











