Inti Berita:
• Munawir Muslih bangun bisnis digital printing dari desa
• Mulai usaha karena keterbatasan biaya kuliah
Kini omzet tembus puluhan juta per bulan
• Berhasil memberdayakan pemuda Trenggalek
• Kunci sukses: konsisten, jaga kualitas, dan berani memulai usaha
SUARA TRENGGALEK – Suasana pedesaan dengan pesona persawahan menjadi saksi perjuangan seorang pemuda asal Desa Kerjo, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
Dari tempat sederhana itu, usaha digital printing milik Munawir Muslih kini berkembang dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan.
Lulusan Magister Filsafat Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah (SATU) Tulungagung tersebut membuktikan bahwa tinggal di desa bukan halangan untuk sukses.
Bahkan, ia mampu memberdayakan tiga pemuda di sekitarnya untuk ikut bekerja di usahanya.
Munawir mengawali bisnis pada 2022 saat masih kuliah semester enam. Keterbatasan biaya menjadi alasan utama dirinya mulai berjualan sebagai reseller lanyard.
“Usaha ini berawal dari terbentur biaya kampus. Uang saku saat itu tipis, jadi saya mencoba mencari terobosan agar bisa mendapatkan penghasilan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (1/5/2026).
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia harus membagi waktu antara kuliah dan bisnis yang dirintis. Berkat manajemen waktu dan dukungan teman-teman, usahanya mampu bertahan hingga berkembang seperti sekarang.
Munawir mengakui tantangan terbesar di awal usaha adalah pemasaran. Sebagai pemain baru di bidang digital printing, ia harus berjuang mengenalkan produknya ke pasar.
“Kita belum dikenal, jadi harus mencari customer dulu. Itu yang paling sulit di awal,” ungkapnya.
Namun di balik tantangan tersebut, ia merasa bersyukur karena usahanya kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi pemuda sekitar. Dari yang awalnya bekerja harian, kini karyawan bisa menerima gaji bulanan.
Produk yang ditawarkan pun beragam, mulai dari souvenir pernikahan, buku yasin, bolpoin custom, sablon kaos, tote bag, hingga piala dan akrilik.
Untuk pemasaran, Munawir memanfaatkan platform digital seperti marketplace Shopee dan Tokopedia. Pelanggannya tidak hanya dari Trenggalek dan Tulungagung, tetapi juga dari luar pulau.
“Customer banyak dari online. Bahkan ada juga yang dari luar pulau,” katanya.
Dari usaha tersebut, Munawir mengaku mampu meraih omzet puluhan juta rupiah setiap bulan. Penghasilan itu digunakan untuk operasional, menggaji karyawan, hingga pengembangan alat produksi.
Meski persaingan di bidang digital printing semakin ketat, ia tetap optimistis. Kunci utamanya adalah menjaga kualitas produk dan menawarkan harga yang kompetitif.
“Tantangannya pemain digital printing sekarang banyak. Jadi kita harus pintar menjaga kualitas dan memberikan harga terbaik,” jelasnya.
Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut memulai usaha, sekecil apa pun.
“Usaha itu bukan aib. Yang penting tetap semangat, karena pasti ada waktunya produk kita laku,” pesannya.











