SUARA TRENGGALEK – Penanganan material longsor di Kilometer 16 jalur nasional Trenggalek-Ponorogo memasuki hari kedua.
Petugas gabungan terus memaksimalkan proses pembersihan material longsoran yang menutup badan jalan sejak Selasa lalu.
Koordinator Pos Basarnas Trenggalek, Bayu Prasetyo, mengatakan tim telah melakukan asesmen kondisi tebing di atas titik longsor untuk mengantisipasi potensi longsor susulan.
“Anggota kami sudah melakukan asesmen ke atas, sekitar kurang lebih 150 meter dari titik longsor. Di sana masih ada beberapa batu yang menggantung dan kondisi tanah juga terpantau mengendut,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Menurut Bayu, kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja dengan sangat hati-hati karena masih ada kemungkinan terjadi longsoran kembali, terutama jika hujan turun.
“Kami khawatirkan masih ada potensi longsor kembali. Jadi dalam aktivitas di bawah kami harus sangat berhati-hati. Jika terjadi gerimis maupun hujan, pekerjaan langsung dihentikan dan seluruh personel ditarik ke tempat yang aman,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada hari sebelumnya tidak terjadi longsor susulan. Namun sempat ditemukan pohon tumbang di sekitar lokasi.
“Tidak ada longsor susulan, hanya pohon tumbang,” katanya.
Dalam upaya mempercepat proses pembersihan, petugas mengerahkan empat alat berat serta sejumlah dump truck untuk mengangkut material batu yang telah dipecah menggunakan breaker.
“Pembersihan hari ini kita maksimalkan. Tadi pagi juga sudah dilakukan briefing bersama Forkopimda dan seluruh unsur yang terlibat,” tambah Bayu.
Selain itu, aspek keselamatan menjadi perhatian utama dalam proses evakuasi. Seluruh personel yang bertugas diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD).
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menyebut progres penanganan longsor hingga saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 45 persen.
Setelah seluruh material longsoran berhasil dibersihkan, tahap selanjutnya adalah melakukan pengecekan kondisi struktur jalan sebelum kembali dibuka untuk umum.
Triadi menjelaskan, pemeriksaan menyeluruh akan dilakukan oleh tim dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali.
“Hasil pemantauan sementara menunjukkan adanya kerusakan pada talud atau penguat tebing akibat tekanan material longsor,” pungkasnya.











