SUARA TRENGGALEK – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek, dr. Sunarto, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak paparan polusi udara, asap rokok, serta konsumsi makanan instan terhadap kesehatan saluran pernapasan.
Menurut dr. Sunarto, paparan polusi yang berasal dari asap kendaraan, pembakaran, hingga asap rokok, ditambah konsumsi makanan instan yang mengandung bahan pengawet, berpotensi memicu gangguan kesehatan jika terjadi secara terus-menerus.
“Pengawet dalam dosis kecil mungkin masih dalam batas toleransi tubuh. Namun jika dikonsumsi berulang-ulang, dapat menimbulkan respons tubuh yang berbeda, salah satunya reaksi hipersensitif,” jelasnya,” Minggu (1/2/2026).
Ia menjelaskan, paparan zat berbahaya yang masuk melalui saluran pernapasan dapat melemahkan sistem pertahanan tubuh.
Pada kondisi normal, saluran napas manusia dilengkapi silia, yakni rambut halus yang berfungsi mendorong zat asing keluar melalui refleks batuk.
“Ketika seseorang merokok, silia ini menjadi tumpul, bahkan bisa diibaratkan gundul. Akibatnya, kuman bisa langsung masuk ke dalam tubuh dan pertahanan tubuh menjadi tidak optimal,” ungkap dr. Sunarto.
Kondisi tersebut, lanjutnya, meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit, salah satunya tuberkulosis (TBC) dan penyakit paru lainnya.
Jika paparan berlangsung terus-menerus, penyakit dapat berkembang menjadi kronis dan berdampak serius pada fungsi paru-paru.
“Paparan berulang akan memengaruhi saluran napas seperti bronkus dan bronkiolus, bahkan parenkim atau jaringan paru-paru. Alveoli sebagai tempat pertukaran oksigen juga tidak berkembang dengan baik,” terangnya.
Akibat kerusakan tersebut, paru-paru manusia akan mengalami penurunan fungsi secara bertahap.
Kondisi ini dikenal sebagai Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), yang ditandai dengan produksi lendir berlebih dan terganggunya pertukaran oksigen.
“Penderitanya akan mengalami sesak napas yang berulang. Semakin sering terjadi, fungsi paru-paru semakin menurun dan menjadi tidak optimal,” kata dr. Sunarto.
Ia menambahkan, penderita PPOK memerlukan penanganan jangka panjang berupa pengobatan rutin dan latihan pernapasan untuk membantu mempertahankan fungsi paru-paru.
Terkait paparan asap rokok, dr. Sunarto menyebutkan bahwa penderita PPOK masih didominasi oleh laki-laki, seiring dengan tingginya prevalensi perokok aktif.
Namun demikian, perokok juga berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya.
“Perokok tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitarnya yang ikut terpapar asap rokok,” pungkasnya.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi paparan polusi, menghentikan kebiasaan merokok, serta menerapkan pola hidup sehat guna mencegah penyakit paru kronis sejak dini.











