Inti Berita:
• Dugaan telur belatung ditemukan di menu MBG di Kecamatan Kampak.
• Wali murid khawatir soal keamanan makanan anak-anak.
• Ada siswa yang hampir mengonsumsi makanan tersebut.
• Dugaan masalah kebersihan juga muncul di layanan posyandu.
• Orang tua minta evaluasi serius dari pihak terkait.
• SPPG Trenggalek belum beri keterangan resmi hingga berita ditulis.
SUARA TRENGGALEK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kampak, Trenggalek menuai sorotan setelah muncul dugaan adanya telur belatung dalam menu makanan siswa dan ulat dalam MBG posyandu.
Peristiwa yang terjadi pada Senin (13/04/2026) itu memicu kekhawatiran di kalangan wali murid terkait kualitas dan keamanan pangan.
Sejumlah orang tua mengaku menemukan kejanggalan pada menu ayam yang dibawa pulang anak mereka.
Salah satu wali murid SDN 1 Karangrejo yang enggan disebutkan namanya, Nore mengungkapkan temuannya.
“Kemarin kami melihat ada seperti telur belatung di menu MBG anak saya. Untungnya anak saya membawa pulang makanan itu, jadi tidak dimakan dan langsung kami buang,” ujarnya.
Pasca kejadian tersebut, para wali murid mengaku semakin waspada terhadap makanan yang diberikan melalui program MBG. Mereka juga mengingatkan anak-anak agar lebih berhati-hati sebelum mengonsumsi makanan.
“Kami sekarang lebih khawatir. Saya selalu mengingatkan anak kalau makanannya berbau atau mencurigakan, jangan dimakan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan wali murid lainnya, Nora (nama samaran). Ia menyebut anaknya sempat mengonsumsi makanan tersebut karena tidak menyadari adanya masalah.
“Anak saya sempat makan karena tidak tahu. Yang dibawa pulang hanya nasinya saja,” katanya.
Tak hanya di lingkungan sekolah, dugaan masalah kebersihan makanan juga ditemukan di layanan lain. Seorang tokoh masyarakat setempat menyebut adanya laporan temuan ulat dalam makanan yang dibagikan di posyandu.
“Ada juga laporan menu yang dikirim ke posyandu, warga menemukan ulat di dalam ompreng. Hal ini membuat penerima merasa jijik,” ungkapnya.
Para wali murid mendesak pihak terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam hal pengawasan kualitas makanan.
“Harapan kami, pihak terkait harus segera melakukan evaluasi serius. Program ini menyasar anak-anak, jadi jangan sampai menimbulkan risiko kesehatan seperti keracunan,” tegas Nora.
Hingga berita ini ditulis, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Trenggalek belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan redaksi kepada pihak terkait juga belum mendapatkan respons.











