Inti Berita:
• Program Sangu Sampah di Trenggalek mengajak pelajar mengumpulkan dan memilah sampah bernilai ekonomi untuk kemudian dikonversikan menjadi koin dan dicatat dalam rekening atau aplikasi.
• Program ini sekaligus mendorong satu rekening satu pelajar, literasi keuangan, kepedulian lingkungan, serta target Trenggalek menuju net zero carbon 2045.
• Pemkab Trenggalek menargetkan capaian pengumpulan sampah terus meningkat melalui evaluasi setiap tiga bulan.
SUARA TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memperkenalkan program Sangu Sampah sebagai salah satu cara bagi pelajar mendapatkan nilai ekonomi dari sampah sekaligus belajar menabung sejak dini.
Program tersebut dikenalkan dalam peringatan Hari Indonesia Menabung yang digelar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, LPS, dan BPR Jwalita.
Sangu Sampah menjadi kombinasi untuk mendorong gerakan satu rekening satu pelajar sekaligus mendukung target Kabupaten Trenggalek menuju net zero carbon pada 2045.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, pelajar diajak mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Sampah tersebut kemudian dipilah dan dikumpulkan dalam kondisi tidak kotor maupun tercampur.
“Hari Indonesia Menabung dan salah satu kejaran yang ingin kita capai yaitu satu rekening satu pelajar. Kebetulan di Trenggalek program itu kita stimulasi dengan kombinasi program Sangu Sampah karena Trenggalek ingin net zero carbon di 2045,” terang Mochamad Nur Arifin, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan dan hasilnya dikembalikan kepada siswa dalam bentuk tabungan.
“Jadi, kumpulkan sampah, khususnya sampah-sampah yang masih punya nilai ekonomis. Jangan sampai kotor, tercampur, itu dipisahkan, kemudian didayagunakan, hasil ekonominya kita kembalikan,” ujarnya.
Sampah Dikonversi Menjadi Koin
Bupati yang akrab disapa Mas Ipin tersebut menjelaskan, dalam program Sangu Sampah, nilai sampah dikonversikan menjadi koin.
Setiap jenis sampah memiliki nilai koin tertentu yang kemudian dapat ditukarkan dan dicatat dalam rekening atau aplikasi.
Menurutnya, program tersebut menarik bagi pelajar karena menggabungkan literasi keuangan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Ini sebenarnya menarik buat anak-anak karena literasi keuangan diajarkan karena mereka belum bekerja. Jadi, yang kita tanamkan itu dua hal. Satu cinta lingkungan, kedua juga mempersiapkan untuk finansial ke depannya,” jelasnya.
Pelajar yang belum bekerja tetap dapat memiliki tabungan dengan cara menjaga lingkungan. Mereka mengumpulkan dan memilah sampah, kemudian memperoleh nilai ekonomi yang dapat ditabung.
Mas Ipin juga mengaku senang melihat pemahaman para siswa terhadap materi literasi keuangan dan lingkungan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
“Ketika anak-anak yang maju tadi, jawabannya presisi-presisi. Jadi, saya senang. Saya juga tadi cek pemahaman anak-anak baik,” ulasnya.
Evaluasi Setiap Tiga Bulan
Mas Ipin menambahkan, program Sangu Sampah akan dilakukan secara berkelanjutan. Ia meminta evaluasi dilakukan setiap tiga bulan dengan target jumlah sampah yang dikumpulkan terus meningkat.
“Saya tiap tiga bulanan melakukan evaluasi. Saya minta setiap tiga bulan sekali itu doubling, doubling, doubling. Maksudnya, kalau sekarang kumpul 100 kilogram, tiga bulan lagi pencapaiannya harus dua kali lipat,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Pemkab Trenggalek juga memberikan apresiasi kepada sekolah dasar yang dinilai paling cepat melakukan transformasi melalui program Sangu Sampah.
Mas Ipin mengatakan, terdapat ratusan rekening baru yang dibuka dalam rangkaian program tersebut. Setelah rekening dibuka, pemerintah mendorong agar rekening tersebut mulai diisi melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengikuti program Sangu Sampah.
“Kita cari, kita kasih. Kalau kamu ingin mengisi rekening, salah satunya ya ikut program Sangu Sampah ini, biar rekeningmu ada isinya,” tuturnya.
Bakal Diperluas ke Sekolah
Menurut Mas Ipin, ke depan Direktur Utama BPR Jwalita, Dwi Fraidianriani, akan melakukan roadshow ke sejumlah sekolah.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas program sehingga semakin banyak siswa memiliki rekening sekaligus mulai menabung.
Bupati juga menyinggung uang saku siswa yang dapat dialihkan untuk ditabung. Menurutnya, adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat membantu sebagian siswa menghemat uang saku untuk kebutuhan makan siang.
“Mungkin beberapa sudah enggak perlu lagi uang saku untuk makan siang. Itu bisa ditabung,” ujarnya.
Ia berharap program Sangu Sampah dapat menjadi jembatan antara pendidikan lingkungan dan persiapan finansial bagi pelajar.
“Harapannya bisa benar-benar menanamkan kebaikan-kebaikan ke anak-anak sejak dini,” pungkasnya.











