KESEHATAN

Layanan Cuci Darah RSUD dr Soedomo Trenggalek Tercover BPJS, Pasien Termuda Berusia 15 Tahun

×

Layanan Cuci Darah RSUD dr Soedomo Trenggalek Tercover BPJS, Pasien Termuda Berusia 15 Tahun

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pj Sekda Trenggalek saat berkunjung keruang dialisis A RSUD Trenggalek untuk melihat mesin cuci darah terbaru.
Inti Berita:
• Layanan cuci darah RSUD dr Soedomo Trenggalek dijamin BPJS Kesehatan.
​• Penyebab gangguan ginjal dipicu berbagai faktor, mulai dari komorbid, makanan beracun, hingga konsumsi obat sembarangan pada pasien termuda usia 15 tahun.
​• Tercatat 11 pasien dengan kondisi akut berhasil sembuh dan tidak lagi bergantung pada mesin cuci darah usai menjalani penanganan medis.

SUARA TRENGGALEK – Kabar baik bagi warga Trenggalek yang membutuhkan layanan hemodialisis atau cuci darah. Layanan hemodialisis di RSUD dr Soedomo Trenggalek dapat diakses oleh peserta BPJS Kesehatan.

Untuk meningkatkan kapasitas pelayanan, rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek tersebut juga menambah 17 mesin hemodialisis.

Dengan penambahan itu, total terdapat 31 mesin hemodialisis yang siap difungsikan. Sebelumnya, Instalasi Urologi Dialisis RSUD dr Soedomo hanya memiliki 14 mesin.

Direktur RSUD dr Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni menerangkan layanan hemodialisis tersebut dapat digunakan oleh pasien peserta BPJS Kesehatan.

“Bisa, dengan BPJS bisa,” kata dr. Saeroni, Senin (5/10/2026).

Sebelum adanya penambahan mesin, 14 mesin yang tersedia hanga mampu memberikan pelayanan kepada sekitar 75 pasien reguler.

Pelayanan sendiri dilakukan dalam dua shift, yakni shift pagi dan siang. Shift pagi dimulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Sementara shift siang dilanjutkan setelahnya.

“Penambahannya jumlahnya ada 17 sehingga sekarang jumlah totalnya ada 31,” jelasnya.

Sebelum kapasitas mesin bertambah, RSUD dr Soedomo masih memiliki daftar tunggu yang cukup banyak.

Berdasarkan catatan rumah sakit, terdapat sekitar 145 pasien yang masih menunggu antrean layanan hemodialisis. Dengan adanya penambahan tersebut daftar tunggu atau antrian bisa dikurangi.

Satu Mesin Layani Dua Pasien per Hari

Saeroni juga menjelaskan, jika satu mesin hemodialisis dapat digunakan untuk melayani dua pasien dalam sehari melalui dua shift.

“Satu mesin itu satu hari dua orang. Dua orang. Jadi ada dua shift tadi ya, dua shift,” terangnya.

Dengan jumlah mesin yang tersedia dan dukungan tenaga kesehatan, layanan tersebut diharapkan mampu meningkatkan jumlah pasien yang dapat ditangani di RSUD dr Soedomo.

Rumah sakit juga tetap menyiagakan satu mesin untuk kebutuhan pasien dalam kondisi gawat darurat.

“Kalau yang ada cito, ada gawat darurat itu juga masih ada persediaan untuk gawat darurat pada satu mesin,” ujarnya.

Penambahan kapasitas ini diharapkan dapat melayani warga Trenggalek yang selama ini harus menjalani cuci darah di luar daerah.

Di sisi lain, RSUD dr Soedomo mencatat terdapat 11 pasien yang sudah tidak lagi bergantung pada mesin hemodialisis.

Pasien Termuda Berusia 15 Tahun

Saeroni mengungkapkan sebagian besar pasien hemodialisis di RSUD dr Soedomo berasal dari Kabupaten Trenggalek.

Rentang usia pasien juga cukup beragam. Bahkan, rumah sakit pernah menangani pasien hemodialisis yang masih berusia 15 tahun.

“Usia mulai yang termuda kemarin 15 tahun,” ungkapnya.

Terkait peluang kesembuhan, dr. Saeroni mengatakan hal tersebut sangat bergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Setiap pasien yang datang akan menjalani asesmen terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi penyakitnya.

“Jadi setelah masuk itu pasti dilakukan asesmen. Misalnya kondisi akut misalnya ya, atau kalau sudah kronis itu biasanya terus melakukan cuci darah, kondisi tidak kronis bisa untuk sembuh,” jelasnya.

Namun, saat ini tercatat sebanyak 11 pasien tercatat sudah tidak lagi bergantung pada mesin cuci darah. Salah satunya Rusnawati, warga Desa Sambirejo, Kecamatan Karangan. Rusnawati menjalani cuci darah pada 2018 hingga 2019.

Bisa Dipicu Penyakit, Obat hingga Makanan

Menurut dr. Saeroni, penyebab gangguan fungsi ginjal cukup beragam. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan penyakit tertentu, penggunaan obat-obatan, maupun makanan yang bersifat toksik terhadap ginjal.

“Bermacam-macam ya dari penyakit penyakitnya, dari obatnya, dari mungkin makanan yang nephrotoxic artinya yang toksik atau racun terhadap ginjal,” terangnya.

Ia menjelaskan, setiap makanan maupun obat memiliki batas dosis. Konsumsi secara berlebihan dapat memperberat kerja ginjal.

“Jadi kalau berlebihan terkandung di dalam tubuh itu juga akan memperberat fungsi ginjal untuk mencuci hal tersebut. Sehingga itu yang berakibat terhadap kegagalan dari ginjal,” jelasnya.

Untuk pasien usia muda, penyebabnya juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan tertentu.

Kebiasaan tidak memeriksakan penyakit kepada dokter atau mengonsumsi obat secara sembarangan juga dinilai dapat menjadi salah satu faktor.

“Kalau memang ada sakit-sakit ya kemudian tidak berobat ke dokter, minum obat sembarangan itu mungkin juga bisa menyebabkan,” katanya.

Sementara terkait faktor keturunan Saeroni menyebut kaitannya dapat terjadi secara tidak langsung. Salah satunya melalui hipertensi yang memiliki faktor genetik.

“Jadi kan ginjal itu disebabkan oleh salah satunya ada hipertensi. Hipertensi itu ada yang penyebabnya adalah faktor genetik. Jadi secara tidak langsung itu sudah ada,” pungkasnya.