Inti Berita:
• Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Trenggalek menaikkan target capaian Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak sekolah menjadi 100 persen.
• Pelaksanaan CKG anak sekolah yang sempat tertunda akibat agenda HUT Kemerdekaan dan Hari Jadi Trenggalek kini dikejar melalui skema kerja sama Puskesmas dan sekolah.
• Siswa yang absen saat pelaksanaan CKG akan direkap untuk mendapatkan pemeriksaan susulan, baik di Puskesmas maupun kunjungan ulang ke sekolah.
SUARA TRENGGALEK – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Trenggalek terus mengejar pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak sekolah hingga mencapai 100 persen. Program tersebut menjadi fokus Dinkes pada awal tahun ajaran 2026.
Pelaksanaan CKG anak sekolah di Trenggalek sempat mengalami keterlambatan karena pada Agustus lalu banyak sekolah memiliki kegiatan dalam rangka HUT Kemerdekaan dan Hari Jadi Trenggalek.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Trenggalek, Andiek Muarifin, mengatakan target awal pelaksanaan CKG anak sekolah sekitar 60 persen telah terlampaui.
“Namun kita coba naikkan target tidak 60 persen, tapi anak sekolah itu kan lebih mudah karena terkumpul di satu tempat. Kita minta teman-teman di Puskesmas untuk bisa tercapai 100 persen,” kata Andiek.
Menurutnya, apabila saat pelaksanaan CKG terdapat siswa yang tidak masuk sekolah, data siswa tersebut akan direkap untuk kemudian ditentukan mekanisme pemeriksaannya.
Puskesmas dan pihak sekolah dapat menyepakati apakah siswa tersebut akan didatangkan ke Puskesmas atau petugas kesehatan kembali mendatangi sekolah.
“Ini nanti akan diberikan rekapnya siapa saja, nanti tergantung kesepakatan oleh Puskesmas dan pihak sekolah apakah didatangkan ke Puskesmas atau teman-teman Puskesmas yang datang lagi ke sekolah tersebut,” ujarnya.
Andiek menjelaskan, CKG saat ini mencakup tiga kelompok program. Pertama, CKG untuk masyarakat umum.
Kedua, CKG untuk anak usia sekolah. Ketiga, pemeriksaan kesehatan bagi kelompok tertentu atau kelompok rentan, seperti ibu hamil.
Program CKG masyarakat pada awalnya dikaitkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangka ulang tahun.
Namun karena animo masyarakat dinilai kurang, pelaksanaannya kemudian tidak lagi menunggu momentum ulang tahun.
“Sebenarnya dulu berawal dari untuk hadiah ulang tahun atau CKG ulang tahun. Tapi karena animonya kurang sehingga kita tidak nunggu ulang tahun, kita berikan cek kesehatan gratis,” jelasnya.
Untuk CKG anak sekolah, Andiek menyebut pemeriksaan tersebut sebenarnya bukan kegiatan baru. Sebelum program CKG berjalan, Dinkes telah rutin melakukan skrining kesehatan anak pada setiap tahun ajaran baru.
“Hanya sekarang ini lebih komprehensif untuk pelayanan CKG ini,” katanya.
Temuan Kesehatan Akan Ditindaklanjuti
Selain melakukan skrining, hasil pemeriksaan CKG juga akan menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut apabila ditemukan masalah kesehatan pada siswa.
Andiek mengatakan pelaksanaan CKG melibatkan tim yang terdiri dari dokter, perawat, analis laboratorium, serta petugas kesehatan lainnya.
Temuan penyakit akan terlebih dahulu diidentifikasi untuk menentukan penanganan yang diperlukan.
Jika membutuhkan pemeriksaan atau tindakan di Puskesmas, siswa akan dijadwalkan untuk mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan tersebut.
Sebagai contoh, siswa yang ditemukan mengalami karies gigi dapat ditindaklanjuti di Puskesmas. Sementara apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan konsultasi dokter spesialis, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit sesuai kebutuhannya.
“Kalau misalnya ada penyakit yang lebih parah lagi yang butuh konsultasi dokter spesialis, tentunya ini nanti juga akan dilakukan rujukan ke rumah sakit untuk lanjutan atau seperti apa,” terang Andiek.
Untuk kasus tertentu, seperti pembersihan serumen atau kotoran telinga, penanganannya akan disesuaikan dengan kondisi siswa dan dapat dilakukan di sekolah maupun Puskesmas.
Namun, tindakan medis terhadap siswa tetap memerlukan persetujuan orang tua.
“Jadi tidak hanya skrining tapi tindakannya tentu saja ini juga perlu izin orang tua, sehubungan orang tua supaya nanti tindakan ini juga atas persetujuan orang tua muridnya,” ujarnya.
Andiek menyebut, secara umum masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada anak sekolah antara lain karies gigi, serumen telinga, serta gangguan pada indera penglihatan.
“Anak sekolah rata-rata karies gigi itu paling banyak, kemudian serumen telinga itu ya sama indra itu mata ini juga perlu diintervensi,” pungkasnya.











