PERISTIWA

Beni Kusuma Wardani Resmi Nahkodai PC PMII Trenggalek, Bawa Slogan Menjalar dan Mengakar

×

Beni Kusuma Wardani Resmi Nahkodai PC PMII Trenggalek, Bawa Slogan Menjalar dan Mengakar

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pelaksanaan pelantikan Ketua PC PMII Trenggalek masa khidmat 2026-2027 Beni Kusuma Wardani.
Beni Kusuma Wardani resmi menjadi Ketua PC PMII Trenggalek periode 2026-2027. Beni membawa slogan “menjalar dan mengakar” untuk memperkuat gerakan PMII.

SUARA TRENGGALEK – Beni Kusuma Wardani resmi dilantik sebagai Ketua Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Trenggalek periode 2026-2027.

Sebelumnya, Beni terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-17 yang digelar Selasa (17/2/2026).

Pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi, badan otonom Nahdlatul Ulama (NU), serta jajaran komisariat PMII.

Diketahui, Beni merupakan kameramen film dokumenter “Tambang Emas Ra Ritek” yang meraih penghargaan dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2025.

Slogan Ketua PMII Trenggalek

Usai dilantik, Beni menyampaikan kepada awka media bahwa visi kepemimpinannya dikemas dalam slogan “menjalar dan mengakar”.

“Untuk visi-misi ini kami kemas dalam satu slogan yaitu menjalar dan mengakar,” ujar Beni.

Ia menjelaskan, “mengakar” dimaknai sebagai penguatan nilai identitas dan nilai dasar pergerakan PMII agar arah gerak organisasi lebih konsisten dan berpihak kepada masyarakat.

“Kami ingin PMII Trenggalek lebih berdampak dan punya ketegasan keberpihakan kepada masyarakat Kabupaten Trenggalek,” katanya.

Sementara “menjalar”, lanjut Beni, dimaksudkan agar gerakan PMII tidak berjalan sendiri, melainkan berkolaborasi dengan berbagai organisasi maupun kelompok masyarakat nonorganisasi.

“Kami ingin menggandeng sesama organisasi bahkan nonorganisasi untuk bergandengan tangan dalam sebuah gerakan,” imbuhnya.

Dalam masa kepemimpinan yang berlangsung hingga Februari 2027 itu, Beni mengaku akan mempercepat program melalui penguatan diskusi di tingkat cabang dan komisariat.

Ia juga akan membagikan pengalaman dan kemampuan yang dimilikinya sebagai penulis dan sinematografer kepada kader PMII.

“Saya punya basic sebagai penulis dan sinematografer. Itu yang bisa langsung saya bagikan ke kader-kader tanpa harus menunggu pendanaan atau narasumber eksternal,” jelasnya.

Selain itu, pendampingan kader di tingkat komisariat juga menjadi fokus utama kepengurusannya.

“Harapannya kader-kader ini terus merawat dirinya dan berkolaborasi dengan cabang agar semakin konsisten dan punya ketegasan,” ucapnya.

Singgung Isu KDMP dan Proyek Bendungan

Dalam kesempatan itu, Beni juga menyinggung sejumlah isu yang bakal menjadi perhatian PMII Trenggalek, salah satunya terkait KDMP.

“KDMP itu dibangun sebelum ada perizinan penggunaan kawasan hutan. Itu sangat aneh sekali,” tegasnya.

Menurutnya, negara telah memiliki aturan, namun pelaksanaannya dinilai tidak disertai kemauan politik yang kuat.

“Negara sudah punya peraturan tapi mengapa tidak punya political will untuk menjalankan aturan tersebut. Malah melanggar peraturannya sendiri,” katanya.

Selain KDMP, PMII Trenggalek juga menyoroti proyek pembangunan Bagong yang dinilai menimbulkan dampak lingkungan.

Beni mengungkapkan, kader PMII menemukan adanya sawah warga yang hilang akibat erosi Sungai Temon saat melakukan riset Kuliah Kerja Nyata (KKN).

“Ada sawah yang hilang karena erosi Sungai Temon. Dugaan kami karena daerah resapan di pegunungan hilang sehingga air langsung mengalir ke sungai dan menyebabkan arus deras,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan temuan tersebut masih berupa dugaan awal dan membutuhkan riset lanjutan agar memiliki dasar yang lebih kuat.

“Kami juga belum turun lagi ke lapangan dan melakukan riset kolaboratif agar hasilnya lebih faktual,” tandasnya.

PMII Siap Kawal Hak Masyarakat

Selain isu lingkungan, PMII Trenggalek juga berkomitmen mengawal hak-hak masyarakat rentan, termasuk persoalan guru honorer dan sistem pendidikan.

“Ada yang jadi guru mengeluhkan sistem administrasi pendidikan yang sangat panjang. Pengangkatan guru honorer ke PNS juga belum ada kejelasan,” katanya.

Menurut Beni, persoalan tersebut juga dialami sejumlah alumni PMII yang terdampak kebijakan negara.

“Nah, makanya kami ingin memulai dari situ dulu,” pungkasnya.