PERISTIWA

​Gunakan Standar SIPSN, DLH Trenggalek Catat Tiap Orang Hasilkan 0,4 Kg Sampah Per Hari

×

​Gunakan Standar SIPSN, DLH Trenggalek Catat Tiap Orang Hasilkan 0,4 Kg Sampah Per Hari

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ilustrasi.
Inti Berita:
• ​DLH Kabupaten Trenggalek mencatat total timbulan sampah mencapai 301,84 ton per hari, dengan Kecamatan Panggul sebagai penyumbang terbesar (32,52 ton/hari) dan Kecamatan Suruh terendah (10,73 ton/hari).
• ​Perhitungan menggunakan estimasi SIPSN sebesar 0,4 kg sampah per orang setiap harinya, di mana DLH memfokuskan strategi pengelolaan pada pemilahan organik di sumbernya serta dorongan ekonomi sirkular untuk anorganik.

SUARA TRENGGALEK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mencatat timbulan sampah di 14 kecamatan mencapai 301,84 ton per hari.

Kecamatan Panggul menjadi penyumbang volume sampah tertinggi dengan estimasi 32,52 ton setiap harinya.

Angka tersebut melampaui Kecamatan Watulimo yang tercatat menghasilkan 28,97 ton per hari dan Kecamatan Trenggalek sebesar 26,69 ton per hari.

Sementara itu, volume timbulan sampah terendah berada di Kecamatan Suruh dengan 10,73 ton per hari.

Sekretaris DLH Kabupaten Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono, menjelaskan data tersebut diperoleh melalui pendekatan standar Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN).

Untuk kategori kota kecil, DLH menggunakan estimasi timbulan sampah sebesar 0,3 hingga 0,4 kilogram per orang setiap hari.

“Anda kan tidak mungkin menyurvei atau menyensus satu per satu orang tiap hari untuk melaporkan buangan sampahnya. Makanya kita lakukan melalui pendekatan, tiap kepala itu mengeluarkan estimasi sampah beratnya 0,4 kilogram per orang,” jelas Ariyoga.

Berdasarkan estimasi tersebut, DLH merencanakan pengelolaan sampah dengan menitikberatkan pemilahan sejak dari sumbernya.

Sampah organik ditargetkan dapat dikelola langsung di tingkat sumber, sedangkan sampah anorganik diarahkan masuk ke skema ekonomi sirkular.

Dengan pola tersebut, sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) diharapkan hanya berupa residu atau material yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Ariyoga mencontohkan, material residu antara lain popok bayi, pembalut, dan pampers.

“Residu itu kayak apa? Pampers, popok bayi, softex, itu masuk kategori residu,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan pengelolaan sampah tersebut, Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga melibatkan pemerhati dan aktivis lingkungan.

Keterlibatan mereka diharapkan dapat mendorong gerakan pengelolaan lingkungan di tengah masyarakat.

“Pak Bupati berharap aktivitas lingkungan itu juga muncul, bergerak. Makanya yang paling diutamakan kan tampilan di media sosial,” pungkasnya.