Inti Berita:
• Dosen STKIP PGRI Trenggalek mendukung wacana Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada tahun ajaran 2027/2028 untuk menjawab tantangan era digital.
• Kebijakan ini dinilai ampuh menekan kesenjangan kemampuan bahasa asing antara siswa di wilayah pedesaan dan perkotaan.
• Kesiapan tenaga pengajar menjadi catatan kritis utama, di mana pemerintah didorong memastikan ketersediaan guru yang kompeten dan menekankan praktik langsung dibanding sekadar teori hafalan.
SUARA TRENGGALEK – Wacana penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 Sekolah Dasar (SD) pada tahun ajaran 2027/2028 mendapat dukungan dari kalangan akademisi.
Namun, kebijakan tersebut dinilai perlu disertai kesiapan tenaga pengajar agar pelaksanaannya tidak menambah kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Dosen STKIP PGRI Trenggalek, Haris Yudhianto mengatakan pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini relevan dengan kebutuhan anak di tengah perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi.
Menurutnya, Bahasa Inggris kini tidak hanya dijumpai di ruang kelas, tetapi juga dalam penggunaan internet, YouTube, dan media sosial lainnya.
Karena itu, kemampuan berbahasa Inggris semakin menjadi kebutuhan dasar bagi generasi muda.
“Saya mendukung dengan catatan kritis. Bahasa Inggris itu sekarang bukan hanya ada di sekolah. Jadi, Bahasa Inggris itu sebenarnya tuntutan zaman,” ujar Haris.
Ia menilai pembelajaran sejak SD dapat membantu anak membangun kemampuan bahasa asing lebih awal.
Bekal tersebut akan berguna ketika mereka melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja, termasuk jika kelak memiliki kesempatan berkarier di luar negeri.
Haris juga menilai kebijakan tersebut berpotensi mengurangi kesenjangan kemampuan Bahasa Inggris antara siswa di perkotaan dan pedesaan.
Menurutnya, akses pembelajaran yang tidak merata dapat membuat sebagian anak di wilayah perkotaan lebih terbiasa menggunakan Bahasa Inggris, sementara siswa di sejumlah wilayah pedesaan memiliki kesempatan belajar yang lebih terbatas.
“Kalau kemudian jarak antara desa dan kota itu lebar, salah satunya anak-anak kota pintar Bahasa Inggris, tetapi yang di desa tidak ada pelajaran dan tidak mengerti Bahasa Inggris,” katanya.
Kesiapan Guru Jadi Catatan
Meski mendukung, Haris memberikan catatay kritisnya. Iamengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan pendidikan tidak cukup hanya ditentukan oleh program atau kurikulum.
Kesiapan pihak yang menjalankan serta metode pelaksanaannya juga perlu diperhatikan.
Ia mempertanyakan apakah seluruh sekolah dasar telah memiliki tenaga pengajar yang mampu mengajarkan Bahasa Inggris.
Jika belum, pemerintah perlu menyiapkan solusi pemenuhan guru agar kebijakan tersebut dapat diterapkan secara merata.
Persoalan itu, menurutnya, perlu dipertimbangkan di tengah tantangan kekurangan guru dan keterbatasan kemampuan anggaran untuk merekrut tenaga pengajar baru.
“Pendidikan itu persoalannya bukan hanya apa, tetapi juga siapa dan bagaimana. Programnya ada, tetapi siapa yang menjalankan? Kalau di sekolah dasar, apakah semuanya sudah mampu mengajarkan Bahasa Inggris?” ujarnya.
Karena itu, Haris menilai rencana penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib perlu diikuti evaluasi dan kebijakan pendukung yang mempertimbangkan kondisi sekolah, terutama terkait ketersediaan guru.
Bukan Sekadar Pengetahuan
Lebih lanjut, Haris menegaskan pembelajaran Bahasa Inggris tidak seharusnya hanya berorientasi pada penguasaan teori atau pengetahuan.
Siswa juga perlu mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan berbahasa melalui praktik.
Ia menjelaskan bahwa tujuan pendidikan mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Inggris perlu memberi perhatian pada pengetahuan, sikap, serta keterampilan siswa.
“Keterampilan ini akan sangat diperlukan. Salah satunya Bahasa Inggris, yang harus diajarkan bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga diasah dari keterampilan,” jelasnya.
Menurut Haris, pembiasaan sejak dini dapat membantu anak lebih terbiasa mendengar dan menggunakan Bahasa Inggris.
Kemampuan tersebut diharapkan menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan pendidikan dan kehidupan pada masa mendatang.
Ia menilai Bahasa Inggris saat ini bukan lagi sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan kebutuhan yang semakin relevan dengan perkembangan zaman.











