Inti Berita:
• Jumlah pasien gangguan pernapasan dan influenza di RSUD dr. Soedomo Trenggalek meningkat, membuat Ruang Anggrek over kapasitas dari 18 tempat tidur menjadi 22 hingga sebagian pasien terpaksa dititipkan di ruangan lain.
• Lonjakan ini memicu kekambuhan pada pasien berisiko tinggi, terutama penderita asma, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta akibat infeksi saluran pernapasan.
SUARA TRENGGALEK – Jumlah pasien dengan keluhan gangguan pernapasan di RSUD dr. Soedomo Trenggalek mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut membuat Ruang Anggrek yang memiliki kapasitas normal 18 tempat tidur (TT) kini menampung hingga 22 tempat tidur, bahkan sebagian pasien harus dititipkan di ruang lain.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Sari Apriliana mengatakan peningkatan pasien paru tersebut terjadi bersamaan dengan bertambahnya kasus influenza yang ditemuinya dalam pelayanan rumah sakit.
“Jadi saat ini memang kasus influenza agak meningkat. Khususnya pasien paru, jadi kasusnya juga agak naik,” ujar dr. Sari.
Menurutnya, influenza dapat memperburuk kondisi pasien yang memiliki penyakit penyerta, terutama asma.
Infeksi saluran pernapasan dapat memicu kekambuhan sehingga pasien mengalami sesak napas dan membutuhkan penanganan medis.
“Pasien-pasien paru kebanyakan pasien yang punya asma. Dengan adanya influenza, sesaknya itu jadi kambuh,” jelasnya.
Dr. Sari mengungkapkan, kondisi Ruang Anggrek saat ini telah melebihi kapasitas normal.
Selain kapasitas awal 18 tempat tidur, rumah sakit menambah jumlah tempat tidur menjadi 22 dengan memanfaatkan ruangan yang semestinya digunakan untuk tindakan dan pelayanan khusus tuberkulosis (TB) resistan obat.
“Iya, ini penuh banget. Bahkan pasien kita titipkan di ruangan lain,” katanya.
Meski demikian, pihak rumah sakit belum memiliki angka pasti mengenai jumlah kasus influenza yang terjadi.
Menurut dr. Sari, peningkatan pasien paru yang terlihat dalam pelayanan belum dapat langsung dipastikan sebagai peningkatan kasus influenza A.
Untuk memastikan infeksi influenza, diperlukan pemeriksaan khusus melalui tes antigen atau polymerase chain reaction (PCR).
Namun, pemeriksaan tersebut belum dapat dilakukan di rumah sakit karena keterbatasan ketersediaan reagen dan sarana pemeriksaan.
“Kalau untuk penyakit influenzanya sendiri, kita masih belum bisa memastikan berapa jumlah kasusnya. Untuk pemeriksaannya, sekarang swab antigen dan PCR itu kita belum bisa melakukan, jadi kita belum ada data pastinya,” ungkapnya.
Demam Tinggi dan Nyeri Otot Perlu Diwaspadai
Dr. Sari menjelaskan, influenza dapat menimbulkan gejala berupa demam, pilek, batuk, dan nyeri otot. Pada sebagian pasien, demam bisa mencapai 38 hingga 39 derajat Celsius dan disertai menggigil.
Nyeri otot juga dapat terasa berat hingga membuat tubuh terasa sangat sakit. Gejala tersebut perlu diperhatikan, terutama jika disertai sesak napas atau terjadi pada orang dengan penyakit penyerta.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa influenza A yang dibahas saat ini sama dengan istilah “super flu”.
Menurutnya, istilah tersebut tidak serta-merta merujuk pada virus yang sama sehingga identitas virus tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala.
Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan jenis infeksi yang dialami pasien.
Lansia dan Pasien dengan Penyakit Penyerta Berisiko Tinggi
Influenza dapat menyerang semua kelompok usia. Namun, kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat, antara lain lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, asma, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Pada pasien dengan kondisi tersebut, infeksi influenza dapat memperburuk penyakit yang sudah ada dan meningkatkan risiko sesak napas.
“Kalau misalnya lansia atau yang berisiko tinggi seperti yang saya sebutkan tadi, bisa terkena influenza yang berat. Risikonya bisa terjadi sesak napas,” jelas dr. Sari.
Ia menambahkan, influenza yang berkembang menjadi infeksi paru seperti pneumonia dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat.
Apabila kondisi tersebut tidak tertangani dengan baik, pasien berisiko mengalami gagal napas hingga meninggal dunia.
Lama pemulihan pasien juga bergantung pada tingkat keparahan infeksi dan penyakit penyerta.
Pada kasus berat, terutama yang disertai sesak napas, perawatan dapat berlangsung sekitar lima hari hingga satu minggu atau lebih, sesuai kondisi pasien.
Imbauan Tingkatkan Daya Tahan Tubuh dan Terapkan PHBS
Dr. Sari mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan influenza, terutama ketika kondisi cuaca mengalami perubahan atau memasuki masa pancaroba.
Menurutnya, perubahan cuaca bukan satu-satunya penyebab peningkatan kasus. Kondisi daya tahan tubuh dan perubahan virus juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Influenza menyebar melalui saluran pernapasan, antara lain ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Risiko penularan dapat dikurangi dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Ia menyarankan masyarakat mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, menggunakan masker ketika diperlukan, serta rajin mencuci tangan.
Vaksinasi influenza juga dapat menjadi salah satu upaya perlindungan, terutama bagi kelompok yang berisiko mengalami komplikasi.
Dr. Sari mengingatkan bahwa vaksin influenza umumnya dianjurkan setiap tahun karena jenis virus yang beredar dapat berubah.
Masyarakat yang mengalami demam tinggi, batuk, nyeri otot berat, atau sesak napas diimbau memperhatikan kondisi kesehatannya dan mencari pertolongan medis, khususnya jika memiliki penyakit penyerta atau termasuk kelompok berisiko tinggi.











