BISNIS

Laba Kotor SPBU PT JET Trenggalek Tembus Rp 1,3 Miliar, Penjualan BBM Naik 3,8 Juta Liter

×

Laba Kotor SPBU PT JET Trenggalek Tembus Rp 1,3 Miliar, Penjualan BBM Naik 3,8 Juta Liter

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pelayanan SPBU Surodakan Trenggalek milik Pemerintah Kabupaten.
Inti Berita:
• PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) mencatat kenaikan penjualan BBM SPBU plat merah mencapai 3,8 juta liter pada Semester I 2026 (tumbuh 7 persen dibanding periode sama 2025).
​• Pertumbuhan volume penjualan tersebut berhasil mendongkrak laba kotor perusahaan hingga mencapai Rp1,3 miliar.
​• Direktur PT JET, Mardianto Harahap, menjelaskan bahwa margin keuntungan bisnis SPBU relatif tipis, yaitu berkisar antara 3 hingga 4 persen.

SUARA TRENGGALEK – PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) mencatat kenaikan penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU plat merah tersebut sepanjang Semester I 2026.

Volume penjualan mencapai sekitar 3,8 juta liter dalam enam bulan pertama tahun ini. Angka tersebut meningkat dibandingkan Semester I 2025 yang mencapai sekitar 3,3 juta liter.

Disampaikan Direktur PT JET, Mardianto Harahap bahwa kenaikan volume penjualan turut mendorong laba kotor perusahaan hingga Rp 1,3 miliar.

“Pertumbuhan volume penjualan BBM kami sampai dengan pertengahan tahun ini mencapai sekitar 7 persen,” terang Mardianto, Kamis (24/9/2026).

Laba kotor Semester I 2026 tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencapai Rp 1,28 miliar. Namun, capaian itu masih berada di bawah target internal perusahaan sebesar Rp 1,4 miliar.

Sebagai pembanding, sepanjang tahun anggaran 2025 PT JET mencatat penjualan sekitar 6,98 juta liter BBM. Pertalite menjadi produk dengan volume penjualan terbesar, yakni sekitar 3,8 juta liter.

Kemudian, Bio Solar menyumbang sekitar 1,9 juta liter dan Pertamax sekitar 1,1 juta liter. Sementara gabungan produk Dexlite dan Pertamina Dex mencatat penjualan sekitar 140 ribu liter.

Memasuki 2026, permintaan BBM kembali meningkat. Namun, Mardianto menjelaskan kenaikan volume penjualan tidak secara langsung meningkatkan laba dalam jumlah besar.

Menurutnya, bisnis SPBU memiliki margin keuntungan yang relatif tipis.

“Margin keuntungan di SPBU tergolong sangat tipis, berkisar antara 3 hingga maksimal 4 persen untuk produk-produk tertentu,” ungkap Mardianto.

BBM non-subsidi memang menawarkan margin lebih besar. Namun, perubahan harga produk tersebut turut memengaruhi daya beli masyarakat.

PT JET juga mengikuti Audit ‘Pasti Pas’ Pertamina. Mardianto mengatakan kendala teknis pada peralatan SPBU dapat memengaruhi tingkat margin perusahaan hingga kembali ke level Basic.

Memasuki Semester II 2026, PT JET melihat adanya perubahan pola konsumsi BBM.

Perubahan harga BBM non-subsidi mendorong sebagian pemilik kendaraan beralih dari Pertamax ke Pertalite.

Peralihan tersebut turut meningkatkan volume konsumsi Pertalite di SPBU milik PT JET.

Kinerja keuangan perusahaan pada Juli dan Agustus 2026 juga menunjukkan perkembangan positif. PT JET menargetkan laba kotor selama dua bulan tersebut sebesar Rp449 juta.

Namun, realisasinya mencapai Rp548 juta atau melampaui target sekitar Rp99 juta.

“Melihat tren dua bulan terakhir, saya sangat optimistis pencapaian kinerja di semester kedua ini mampu melampaui capaian semester pertama,” tegas Mardianto.