Inti Berita:
• DLH Kabupaten Trenggalek mencatat total 12,75 ton sampah dihasilkan dari rangkaian event Agustus 2026 di kawasan Alun-Alun Trenggalek.
• Volume sampah yang masuk ke TPA Srabah pada Agustus mencapai 875,130 ton, melonjak 78,465 ton dibanding bulan Juli.
• Dari total sampah event alun-alun, DLH berhasil memilah 2,21 ton material daur ulang (MDU), sementara 9,24 ton selebihnya menjadi residu landfill.
SUARA TRENGGALEK – Berbagai event yang berlangsung di Kabupaten Trenggalek selama Agustus 2026 berdampak pada peningkatan timbulan sampah.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mencatat, kegiatan di sekitar Alun-Alun Trenggalek menghasilkan 12,75 ton sampah.
Sekretaris DLH Kabupaten Trenggalek, Ariyoga Widyasetyo Wahono, mengatakan peningkatan aktivitas masyarakat selama Agustus berbanding lurus dengan bertambahnya sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Srabah.
“Jadi kalau melihat event yang ada terus terang pasti ada kenaikan sampah yang ada di Kabupaten Trenggalek hasil daripada aktivitas selama kegiatan di Bulan Agustus 2026,” kata Ariyoga.
Data DLH menunjukkan, volume sampah dari Kecamatan Trenggalek yang masuk ke TPA Srabah pada Juni mencapai 798,925 ton. Jumlah tersebut sedikit menurun pada Juli menjadi 796,665 ton.
Namun, pada Agustus volume sampah meningkat menjadi 875,130 ton. Artinya, terjadi kenaikan 78,465 ton dibandingkan bulan sebelumnya.
Menurut Ariyoga, peningkatan tersebut terjadi bersamaan dengan banyaknya aktivitas masyarakat selama Agustus, termasuk rangkaian kegiatan memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-832 Trenggalek.
Khusus event di sekitar Alun-Alun Trenggalek, karnaval dan parade drumband menghasilkan sekitar 5,44 ton sampah. Sementara Pasar Rakyat yang berlangsung selama 12 hari menghasilkan 7,31 ton.
“Jadi dilihat total keseluruhannya selama bulan Agustus untuk event di sekitar alun-alun dan sekitarnya 12,75 ton sampah yang dihasilkan,” ujarnya.
Dari total tersebut, DLH melakukan pemilahan untuk memisahkan material yang masih dapat didaur ulang. Sebanyak 2,21 ton berhasil dipisahkan sebagai Material Daur Ulang (MDU).
Sementara 9,24 ton lainnya menjadi sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali dan diarahkan ke landfill TPA.
“Dari 12,75 ton itu kami berhasil kurang 2,21 ton yang kami bisa pilah untuk material daur ulang, memang itu belum kami laksanakan secara on the spot dan kami laksanakan di TPA Srabah,” kata Ariyoga.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi catatan karena pemilahan sampah seharusnya dilakukan sejak dari sumbernya.
Penyelenggara kegiatan, pedagang, maupun masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk mengelola sampah yang mereka hasilkan.
Dalam pelaksanaan karnaval dan parade drumband, DLH mengapresiasi langkah penyelenggara yang mewajibkan peserta membawa dan mengelola sampah masing-masing.
Namun, persoalan masih muncul dari sampah yang dihasilkan penonton.
“Memang dari penyelenggara mewajibkan dari peserta membawa sampah itu sendiri, jadi selama kegiatan peserta atau grup ada sendiri yang mengambili sampah. Memang persoalannya sampah yang dihasilkan penonton,” jelasnya.
Untuk menangani sampah penonton, petugas DLH melakukan pembersihan terlebih dahulu. Sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke TPA Srabah untuk dipilah.
“Jadi demi efektivitas kami sapu dulu, jadi sampah ambil dan kami bawa baru pilah di lokasi,” imbuhnya.
Ariyoga mengatakan, DLH ke depan ingin mendorong agar pemilahan dapat dilakukan langsung di lokasi kegiatan. Dengan demikian, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi tidak tercampur dengan sampah residu.
DLH juga tengah merancang mekanisme pengelolaan sampah yang melibatkan penyelenggara atau event organizer (EO), pelaku UMKM, hingga konsumen.
Ariyoga berharap EO tidak hanya mengatur pelaksanaan acara, tetapi juga mendorong pelaku usaha dan konsumen bertanggung jawab terhadap sampah dari produk yang mereka hasilkan maupun beli.
“Kalau melihat apa yang ada memang sempat diskusi, terutama treatment kepada EO dan pengelola kami berharap EO bisa mengkriet aktivitasnya itu mengajak kepada konsumen bagaimana konsumen yang membeli produk tanggung jawab sampah yang dihasilkan, jadi on the spot, bagaimana nanti EO mengelola UMKM ini bisa memilah sampah ini,” ujarnya.











