Inti Berita:
• Perhutani KPH Kediri Selatan mengidentifikasi 20 titik rawan kebakaran yang tersebar di 20 desa di Trenggalek.
• Dengan tiga titik di antaranya berisiko tinggi karena berdekatan dengan permukiman dan hampir setiap tahun mengalami kebakaran.
SUARA TRENGGALEK – Perum Perhutani KPH Kediri Selatan mencatat tiga titik kawasan hutan di Kabupaten Trenggalek yang memiliki risiko tinggi terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tiga titik tersebut dinilai berisiko tinggi karena berada dekat dengan permukiman warga. Berdasarkan data yang dimiliki Perhutani, kawasan tersebut juga hampir setiap tahun mengalami kebakaran saat musim kemarau.
Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Budi Prihartono, mengatakan tiga titik tersebut berada di Blok Gunung Orak Arik, Gunung Jaas dan Gunung Kuncung, serta Gunung Sawe.
“Ada tiga titik yang yang dekat dengan pemukiman yang ini termasuk resiko tinggi yaitu satu di blok Gunung Orak arik yaitu di kami itu di petak 114, 115, dan 116,” kata Budi.
Titik berikutnya berada di kawasan Gunung Jaas dan Gunung Kuncung, hutan kota, yang masuk dalam satu blok di petak 76.
“Kemudian ada di Gunung Jaas dan Gunung Kuncung, hutan kota. Ini termasuk satu blok, yaitu di petak 76,” ujarnya.
Sementara titik ketiga berada di Gunung Sawe, yakni petak 74, 75, dan 76.
“Kemudian yang ketiga ini ada di Gunung Sawe, di petak 74, 75, dan 76. Ada tiga titik memang punya resiko tinggi karena di dekat dengan pemukiman,” jelasnya.
Budi menyebut tiga titik tersebut hampir setiap tahun mengalami kebakaran berdasarkan data dan informasi yang dimiliki Perhutani.
“Sesuai dengan data yang ada, ini memang tiga titik ini hampir tiap tahun selalu mengalami kebakaran hutan, hampir tiap tahun,” ungkapnya.
“Ini yang kita ketahui dari data dan informasi bahwa memang setiap tahun untuk tiga titik ini selalu terjadi kebakaran,” imbuhnya.
Tanaman Pinus Belum Terdampak Signifikan
Budi mengatakan hingga saat ini tanaman produktif Perhutani, khususnya pinus, belum terdampak signifikan akibat kebakaran.
“Sampai sekarang alhamdulillah untuk tanaman produktif kami yaitu tanaman pinus tidak ada dampak, belum ada dampak kebakaran.
Meskipun ada itu cuma sedikit,” katanya.
Ia mencontohkan kebakaran yang terjadi di Pring Apus yang hanya berdampak pada delapan pohon pinus.
“Biasanya cuma kemarin yang terjadi di Pring Apus itu hanya 8 pohon. Ya, 8 pohon,” ujarnya.
Menurutnya, kawasan yang paling banyak terdampak kebakaran justru berada pada kelas hutan dengan tanaman rimba campur atau jenis kayu lainnya.
“Yang lainnya yang terdampak yang sangat banyak itu di kelas hutan kami itu di tanaman rimba campur atau tanaman jenis kayu lain ya toh,” jelas Budi.
20 Titik Rawan Tersebar di 20 Desa
Selain tiga titik yang berisiko tinggi karena dekat dengan permukiman, Perhutani juga telah mengidentifikasi 20 blok yang tersebar di 20 desa sebagai kawasan rawan kebakaran.
Budi mengatakan titik-titik tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Dongko, Kampak, Karangan, Trenggalek, dan Gandusari.
“Kalau di sini disebutkan bahwa data yang kita kemarin hasil identifikasi ini ada 20 blok, kemudian ada di 20 desa juga,” tuturnya.
“Yang semua terdiri dari masing-masing di Dongko ada, kemudian di Kampak ada, di Karangan, Trenggalek, Gadusari juga ada,” imbuhnya.
Menurut Budi, seluruh titik tersebut telah diidentifikasi sebagai kawasan yang sangat rawan terjadi kebakaran.
“Semua diserba di 20 titik yang ini sudah kita identifikasi bahwa titik tersebut merupakan titik yang sangat rawan terjadi kebakaran,” pungkasnya.











