PERISTIWA

Festival Hadrah U-18 Jawa Timur Digelar di Trenggalek, 40 Grup Banjari dan Habsyi Ambil Bagian

×

Festival Hadrah U-18 Jawa Timur Digelar di Trenggalek, 40 Grup Banjari dan Habsyi Ambil Bagian

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Festival hadrah di pondok pesantren al khautsar Durenan.
Inti Berita:
• Festival Selawat Banjari dan Habsyi U-18 se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Al-Kautsar menjadi wadah bagi puluhan grup pelajar untuk berkompetisi sekaligus menyalurkan hobi positif.
• Kegiatan tersebut juga menjadi upaya mempertahankan kesenian hadroh tradisional serta mempererat silaturahmi antarpesantren di Jawa Timur.

SUARA TRENGGALEK – Festival Selawat Banjari dan Habsyi U-18 se-Jawa Timur digelar di Pondok Pesantren Al-Kautsar, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Senin (24/8/2026) malam.

Festival tersebut menjadi bagian dari rangkaian Al Kautsar Fest yang rutin digelar setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada 11 dan 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah.

Penanggung Jawab Festival Selawat Pondok Pesantren Al-Kautsar, Ning Aina Syukria, mengatakan festival tahun ini menghadirkan dua kategori untuk peserta pelajar, yakni banjari dan habsyi.

“Yang membedakan dari festival yang lain, biasanya kalau pelajar itu banjari ya banjari, habsyi ya habsyi. Kalau di sini kita menyatukan dari dua kategori,” ujar Ning Aina Syukria.

Menurutnya, banjari dan habsyi sama-sama merupakan kesenian hadroh dan menggunakan alat rebana. Namun, keduanya memiliki pakem masing-masing sehingga format penilaiannya tidak dapat disamakan.

“Karena itu, panitia membuat dua kategori penilaian yang berbeda untuk festival tingkat pelajar U-18,” ulasnya.

Diikuti 40 Grup dari Berbagai Daerah

Ning Aina menjelaskan, festival selawat tersebut telah berlangsung sekitar 12 tahun. Kegiatan yang awalnya digelar untuk tingkat desa kemudian berkembang menjadi tingkat kabupaten, karesidenan hingga Jawa Timur.

“Tahun ini yang kita pertahankan itu kategori pelajar U-18 sama yang umum. Kenapa? Karena itu yang peminatnya paling banyak. Yang kedua, antusias dari para pesertanya juga alhamdulillah masyaallah selalu semangat,” bebernya.

Untuk kategori U-18, terdapat 40 grup peserta yang terbagi dalam kategori banjari dan habsyi.

Peserta terjauh berasal dari Banyuwangi. Grup tersebut sebelumnya berhasil meraih juara pertama dan kembali mengikuti festival tahun ini.

Sementara itu, festival selawat kategori umum se-Jawa Timur digelar Selasa (25/8/2026). Peserta kategori umum dibatasi sebanyak 30 grup.

Pembatasan dilakukan karena pada tahun sebelumnya jumlah peserta mencapai sekitar 50 grup sehingga kegiatan berakhir cukup malam.

“Tahun ini karena kita tidak mencari hari libur. Pokoknya kita pasti mencari tanggal 11 dan 12 Rabiul Awal. Kebetulan tahun ini hari Senin hari aktif, jadi beberapa sekolah belum siap dan juga berbarengan dengan kegiatan Agustusan,” jelas Aina.

Ia mengatakan festival tahun ini terasa lebih meriah karena bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Wadah Hobi Positif dan Pelestarian Hadroh

Ning Aina berharap festival tersebut dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan hobi positif melalui kegiatan selawat dan kesenian hadroh.

“Kami berharap untuk yang pelajar ini bagaimana agar para pemuda kita punya hobi yang positif. Selawatan itu, meskipun tidak khusyuk, meskipun sambil guyonan, sambil festival, tetap dinilai ibadah. Tetap ada pahalanya karena selawatan,” ungkapnya.

Selain menjadi wadah kreativitas, festival tersebut juga diharapkan dapat mempertahankan dan melestarikan kesenian hadroh tradisional.

Ning Aina menegaskan seluruh penampilan peserta menggunakan alat hadroh tradisional tanpa perangkat elektronik.

“Selawatnya dapat, mempertahankan dan melestarikan hadrohnya juga dapat. Dan disclaimer, ini tidak ada elektronik. Jadi full alat hadroh tradisional,” akuinya.

Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarpesantren di Jawa Timur. Peserta dari berbagai daerah dapat saling mengenal melalui media selawat.

“Kita juga menjalin silaturahmi sebanyak-banyaknya karena ini banyak dari pondok pesantren yang ikut. Jadi sebagai wadah silaturahmi antarpondok pesantren melalui media selawat ini,” ujarnya.

Ning Aina berharap kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut membawa keberkahan bagi Pondok Pesantren Al-Kautsar dan masyarakat Durenan.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan Al Kautsar Fest 2026, termasuk para sponsor.

Peserta Berharap Raih Juara

Salah satu peserta, Finda Gayuh Prayogo dari Grup SQ asal Tulungagung, mengaku telah tiga kali mengikuti festival selawat di Pondok Pesantren Al-Kautsar. Tahun ini, grupnya membawa 14 peserta.

“Sudah 3 kali ini ikut, evaluasi untuk kami yang dilakukan lebih banyak pada aspek tabuhan atau pukulan rebana,” jelas Prayogo.

Ia berharap penampilan tahun ini dapat lebih baik dan meraih juara.

“Harapannya bisa tampil lebih baik dan mendapatkan juara,” tutupnya.

Terpisah, Ketua Pelaksana Festival Selawat Banjari dan Habsyi U-18, Izza Humaira, mengatakan panitia menyiapkan penghargaan untuk lima terbaik pada masing-masing kategori banjari dan habsyi.

Selain itu, panitia juga menyiapkan penghargaan The Best Jingle.

“Untuk hari ini dalam rangka U-18 kami menyiapkan terbaik satu sampai lima kategori banjari dan terbaik satu sampai lima untuk habsyi serta satu untuk The Best Jingle,” terang Izza.

Sementara untuk kategori umum yang digelar pada Selasa, panitia menyiapkan penghargaan terbaik satu hingga terbaik 10 serta satu penghargaan The Best Jingle.

Untuk uang pembinaan, juara pertama mendapatkan Rp2,5 juta, juara kedua Rp2 juta, sedangkan juara ketiga memperoleh Rp1 juta.

Izza mengatakan antusiasme peserta dari tahun ke tahun semakin tinggi. Tidak hanya peserta yang sudah rutin mengikuti festival, tetapi juga banyak peserta yang baru pertama kali tampil.

“Untuk antusias peserta dari tahun ke tahun alhamdulillah semakin luar biasa, terutama peserta yang masih pertama kali. Ada juga yang setiap tahun ikut,” tutupnya.

Peserta Memadati Halaman Pesantren

Pantauan di lokasi, halaman Pondok Pesantren Al-Kautsar Durenan dipenuhi peserta yang menempati kursi hingga teras sepanjang area masuk pondok.

Mereka merupakan peserta yang menunggu giliran tampil di panggung. Tidak sedikit pula pendamping grup dan pecinta selawat yang hadir untuk menyaksikan penampilan peserta dari berbagai daerah.