PERISTIWA

Harapan dari Trenggalek Jelang Muktamar NU, Gus Zaki: NU Jangan Kejar Program Mercusuar, Fokus ke Pesantren dan Lembaga Akar Rumput

×

Harapan dari Trenggalek Jelang Muktamar NU, Gus Zaki: NU Jangan Kejar Program Mercusuar, Fokus ke Pesantren dan Lembaga Akar Rumput

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pengasuh Ponpes Al-Falah, Kedunglurah, Agus HM Izuddin Zaki saat menyampaikan harapannya menjelang Muktamar NU di Jombang.
Inti Berita:
• Menjelang Muktamar NU ke-35, Pengasuh Ponpes Al-Falah Kedunglurah Trenggalek Agus HM Izuddin Zaki berharap kepengurusan baru PBNU mengembalikan fokus organisasi kepada pesantren sebagai basis utama NU.
• Ia meminta perhatian lebih besar diberikan kepada guru ngaji, madrasah diniyah, kiai langgar, serta lembaga pendidikan di tingkat akar rumput agar manfaat organisasi benar-benar dirasakan hingga lapisan paling bawah.

SUARA TRENGGALEK – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung di Jombang pada akhir Agustus 2026, harapan agar organisasi kembali memperkuat basis pesantren mulai mengemuka dari kalangan akar rumput.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Agus HM Izuddin Zaki atau Gus Zaki berharap forum tertinggi NU tersebut menjadi momentum untuk mengembalikan fokus organisasi kepada pesantren, kiai kampung, guru mengaji, hingga madrasah diniyah yang selama ini dinilai belum banyak tersentuh.

“Siapapun nanti yang memegang tampuk tertinggi di Nahdlatul Ulama itu bisa mengayomi dan kembali ke basic-nya yaitu pesantren. Bagaimanapun NU itu dasarnya di pesantren. Jadi harapan kami seperti itu, benar-benar kembali ke pesantren,” ujarnya.

Menurut Gus Zaki, dirinya menyampaikan pandangan sebagai pengasuh pesantren, bukan mewakili organisasi Ansor, mengingat pembahasan resmi Muktamar menjadi kewenangan pengurus pusat.

Ia mengingatkan kembali filosofi lama yang menyebut NU sebagai pesantren besar dan pesantren sebagai NU kecil.

“Harapan kami tentu bagaimana kita tidak usah mengejar program muluk-muluk. NU tidak usah macam-macam, yang penting bagaimana melihat pesantren-pesantren itu hidup kembali,” katanya.

Minta Perhatian untuk Guru Ngaji dan Kiai Langgar

Gus Zaki menilai perhatian NU tidak hanya perlu diberikan kepada pesantren besar atau tokoh-tokoh yang telah mapan, tetapi juga kepada guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), guru madrasah diniyah, serta kiai langgar di desa-desa yang selama ini mengajar secara ikhlas.

“Tidak hanya pesantren besar, tapi juga sampai ke langgar-langgar, kiai-kiai langgar yang dengan ikhlas mengajar, yang tidak ada yang peduli dengan mereka itu, NU peduli,” ujarnya.

Ia mencontohkan masih banyak guru ngaji yang mengajar anak-anak setiap hari di fasilitas sederhana dengan kondisi bangunan yang kurang layak.

“Cobalah itu diberi akses juga. Kalau dia diberi akses tentunya langgar yang reot, kemudian listriknya yang byar pet karena pulsanya habis, mungkin itu ada yang memfasilitasi,” katanya.

Nilai NU Terlalu Fokus Program Mercusuar

Gus Zaki berpandangan, dalam beberapa waktu terakhir NU dinilai lebih banyak berfokus pada program-program berskala besar maupun kemitraan dengan pemerintah.

“Kalau kita lihat sekarang NU lebih fokus, lebih senang kalau itu hubungannya dengan pemerintah, dengan program-program mercusuar atau mungkin dengan pondok atau kiai yang mentereng-mentereng,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat di tingkat bawah belum sepenuhnya merasakan manfaat keberadaan organisasi.

“Ya cobalah ini yang bawah itu juga ikut merasakan. Yang garis terdasar di Nahdlatul Ulama yang menjadi dasar pondasinya itu ikut merasakan,” ucapnya.

Ia juga menilai masyarakat perlu merasakan manfaat nyata ketika bergabung dalam organisasi.

“Masyarakat bawah itu harus merasa bahwa keuntungan saya ikut Nahdlatul Ulama itu ada. Karena sekarang yang di bawah itu hanya meramaikan, bahkan iuran, tapi tidak pernah merasakan. Yang merasakan kan pasti tingkat elit,” katanya.

Dorong Penguatan Lembaga Pendidikan

Selain itu, Gus Zaki berharap lembaga-lembaga NU yang menangani pendidikan, seperti Lembaga Pendidikan Ma’arif, memperoleh perhatian lebih besar karena bersentuhan langsung dengan madrasah dan pendidikan dasar keagamaan.

“Yang harus mungkin diperhatikan LTM atau Lembaga Ma’arif yang ngurusi madrasah-madrasah tersebut. Kalau diperhatikan tentu orang merasakan, oh ternyata ikut NU itu ada manfaatnya,” ujarnya.

Ia menegaskan fondasi utama pendidikan keagamaan justru dibangun oleh para guru ngaji di desa sebelum santri melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren.

“Orang masuk pondok pesantren itu biasanya sudah matang, sudah bisa baca kitab sedikit-sedikit, sudah lancar Quran. Yang melancarkan ini kan yang di desa itu. Yang mengajari salat itu guru TPA tadi. Mungkin itu yang harus diperhatikan,” pungkasnya.