PERISTIWA

38 Kasus Kebakaran di Trenggalek Mulai Januari hingga Pertengahan Juli 2026 Terbanyak Dipicu Kelalaian Manusia

×

38 Kasus Kebakaran di Trenggalek Mulai Januari hingga Pertengahan Juli 2026 Terbanyak Dipicu Kelalaian Manusia

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Petugas Damkar Trenggalek saat berusaha memadamkan api di lokasi kejadian kebakaran.
Inti Berita:
• Damkar Trenggalek mencatat 38 kejadian kebakaran selama Januari hingga pertengahan Juli 2026.
• Kelalaian manusia menjadi penyebab terbanyak, disusul korsleting listrik.
• Untuk menekan angka kebakaran, Damkar memperkuat edukasi melalui program Damkar Go to School dan mengimbau masyarakat lebih disiplin saat menggunakan api maupun instalasi listrik.

SUARA TRENGGALEK – Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Trenggalek menangani sedikitnya 38 kejadian kebakaran selama periode Januari hingga pertengahan Juli 2026.

Dari puluhan kasus yang ditangani Damkar Trenggalek tersebut sebagian besar sebenarnya masih dapat di cegah, karena kelalaian manusia menjadi faktor penyebab yang paling dominan.

Kepala Bidang Pencegahan, Penanggulangan Kebakaran, dan Non-Kebakaran Satpol PP dan Damkar Trenggalek, Wasis Widodo, mengatakan rekapitulasi kejadian menunjukkan sebagian besar kebakaran sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat lebih disiplin dalam menggunakan api maupun instalasi listrik.

“Total dari kebakaran mulai Januari sampai bulan Juli hari ini ada 38 kejadian. Rata-rata penyebab terbesar adalah kelalaian, yaitu sebanyak 18 kejadian,” ujar Wasis.

Selain faktor kelalaian, Damkar juga mencatat 16 kejadian dipicu arus pendek listrik. Sementara sisanya berasal dari kebocoran kompor gas maupun aktivitas memasak menggunakan kayu bakar.

Rumah Tinggal Paling Banyak Terbakar

Berdasarkan jenis objek yang terdampak, rumah tinggal menjadi lokasi yang paling sering mengalami kebakaran.

Damkar mencatat sebanyak 16 unit rumah warga terbakar selama periode tersebut. Selain rumah, kebakaran juga terjadi di kandang ayam, area perkebunan tebu, hingga rumpun bambu.

“Objek yang terbakar itu ada rumah sekitar 16 unit. Yang lainnya meliputi kandang ayam yang posisinya menjulur ke dapur, satu lokasi perkebunan tebu, hingga rumpun bambu seperti yang terjadi di Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul,” jelasnya.

Wasis mengungkapkan petugas juga menemukan pola kebakaran yang berulang di kandang ternak. Menurutnya, sebagian peternak masih menggunakan bara api atau anglo untuk mengusir nyamuk.

Saat tidak diawasi, bara tersebut berpotensi membesar dan merembet ke bangunan kandang yang umumnya berbahan mudah terbakar.

Damkar Perkuat Edukasi Lewat Program Go to School

Sebagai tindak lanjut hasil evaluasi, Satpol PP dan Damkar Trenggalek memperkuat upaya pencegahan melalui program Damkar Go to School.

Program tersebut menyasar siswa sekaligus orang tua agar memiliki pemahaman mengenai pencegahan kebakaran sejak dini.

“Inovasi ini terbagi menjadi dua skema, yakni jangka pendek dan jangka panjang,” ungkap Wasis.

Dalam skema jangka panjang, edukasi diberikan kepada siswa tingkat TK dan SD agar kesadaran mengenai bahaya kebakaran dapat tertanam sejak usia dini.

“Untuk murid-muridnya, kita berikan ilmu terkait kebakaran sebagai program jangka panjang. Memang tidak mungkin anak SD atau TK langsung memadamkan api saat terjadi kebakaran,” katanya.

Masyarakat Diminta Tidak Meninggalkan Api Tanpa Pengawasan

Di akhir evaluasi semester pertama 2026, Damkar kembali mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan api saat memasak maupun membakar sampah.

Menurut Wasis, kebiasaan tersebut masih menjadi salah satu penyebab kebakaran yang paling sering ditemui petugas di lapangan.

“Mohon kepada semua masyarakat, apabila sedang memasak atau terpaksa membakar sampah, tolong ditunggu dan jangan sampai ditinggal. Mari bersama-sama menjaga lingkungan agar faktor risiko kebakaran dapat dikurangi,” pungkasnya.