PENDIDIKAN

Kepala SD Inovatif Trenggalek Usul Anggaran MBG Dialihkan untuk Mendukung Pendidikan Gratis

×

Kepala SD Inovatif Trenggalek Usul Anggaran MBG Dialihkan untuk Mendukung Pendidikan Gratis

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi.
Inti Berita:
• SD Inovatif Trenggalek menghentikan keikutsertaan dalam Program MBG setelah mengevaluasi pelaksanaannya selama hampir 10 bulan.
• Sekolah menilai program tersebut mengurangi waktu belajar, masih menyisakan banyak makanan, dan lebih layak diberikan kepada siswa yang lebih membutuhkan.
• Di sisi lain, sekolah tetap menjalankan program makan bergizi secara mandiri dan mengusulkan agar apabila anggaran MBG dialihkan ke pendidikan gratis.

SUARA TRENGGALEKSD Muhammadiyah 1 Trenggalek atau yang lebih dikenal sebagai SD Inovatif Trenggalek mengusulkan agar anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dialihkan untuk mendukung program pendidikan gratis, khususnya bagi sekolah swasta.

Usulan itu disampaikan setelah sekolah memutuskan menghentikan keikutsertaannya dalam Program MBG pada tahun ajaran 2026/2027. Mengingat sekolah sendiri telah memiliki dapur makan di sekolah secara mandiri.

Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi menegaskan usulan tersebut bukan berarti menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi anak.

Menurutnya, apabila pemerintah ingin mengalihkan anggaran MBG ke sektor pendidikan, kebijakan itu harus memperhatikan keadilan antara sekolah negeri dan sekolah swasta.

“Saya setuju kalau mungkin MBG itu dialihkan ke program pendidikan, pendidikan gratis. Umpama murah atau gratis. Tapi tentunya harus dibedakan antara sekolah negeri dan swasta,” ujar Ikhsan, Sabtu (11/6/2026).

Menurutnya, sekolah negeri telah memperoleh dukungan pembiayaan dari pemerintah, termasuk kesejahteraan guru. Sementara sekolah swasta masih harus memenuhi berbagai kebutuhan operasional secara mandiri.

“Kalau negeri sudah dibiayai pemerintah, semuanya gurunya sudah dapat gaji yang sejahtera. Kalau swasta dari mana? Kalau memang mau digratiskan semua, ya pemerintah harus menyiapkan kesejahteraan untuk guru yang ada di swasta. Itu baru adil,” tegasnya.

Ikhsan menambahkan, apabila aspek tersebut tidak diperhatikan, kebijakan pendidikan gratis berpotensi menimbulkan ketimpangan antara sekolah negeri dan swasta.

Evaluasi 10 Bulan Jadi Dasar Menghentikan MBG

Keputusan SD Inovatif Trenggalek menghentikan keikutsertaan dalam Program MBG diambil setelah sekolah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya selama hampir 10 bulan sejak November 2025.

“Untuk tahun ajaran baru ini SD Muhammadiyah tidak ikut program MBG. Kita putuskan pada rapat kerja hari Selasa kemarin bahwa SD Muhammadiyah tidak mengikuti program MBG,” kata Ikhsan.

Ia menjelaskan terdapat tiga alasan utama yang mendasari keputusan tersebut. Pertama, pelaksanaan MBG dinilai mengurangi waktu belajar siswa karena proses distribusi makanan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

“Alasannya yang pertama menyita waktu pelajaran. Itu minimal setengah jam,” ujarnya.

Kedua, pihak sekolah menilai masih banyak siswa di sekolah lain yang lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi.

“Yang kedua, kita merasa ada yang lebih membutuhkan daripada siswa SD Muhammadiyah,” imbuhnya.

Alasan ketiga adalah tingginya sisa makanan yang tidak dikonsumsi siswa sehingga menimbulkan pemborosan.

“Terkait sisa makanan yang terlalu banyak, itu mubazir. Dalam Islam mubazir itu tidak diperbolehkan. Dan itu banyak sekali yang terbuang setiap hari. Makanya kita memutuskan untuk tidak mengikuti program MBG tahun ini,” jelasnya.

Tetap Jalankan Program Makan Mandiri

Meski tidak lagi mengikuti Program MBG, SD Inovatif memastikan program makan siang bagi siswa tetap berjalan seperti sebelumnya.
Ikhsan mengatakan program makan di sekolah telah diterapkan sejak sekolah berdiri dan akan terus dipertahankan.

“Sudah sejak tahun pertama sekolah ini berdiri langsung ada program makan di sekolah. Sayang kalau itu dihapus dan wali murid juga lebih banyak memilih program makan di sekolah tetap berjalan,” katanya.

Sekolah bekerja sama dengan dapur di luar lingkungan sekolah untuk menyiapkan makanan. Setelah makanan tiba di sekolah, siswa mengambil nasi sesuai kebutuhan, sementara lauk disediakan oleh sekolah.

Siswa juga diperbolehkan menambah nasi, serta tersedia lauk alternatif seperti telur, tahu, dan tempe apabila tidak menyukai menu utama.

Menurut Ikhsan, sistem tersebut memudahkan sekolah mengawasi kualitas makanan sekaligus mengevaluasi menu secara langsung bersama penyedia katering.

“Jelas lebih enak yang mandiri. Karena kita bisa mengawasi secara langsung. Kalau ada makanan yang kurang enak atau anak-anak banyak yang tidak suka, kita bisa langsung komplain ke bagian dapur. Menunya juga bisa kita ubah-ubah sendiri. Kalau MBG kita tidak bisa menentukan menu karena semuanya mengikuti ketentuan dari sana,” pungkasnya.