Inti Berita:
• Pemkab Trenggalek menargetkan pengajuan Geopark Nasional pada 2027 sebagai upaya meningkatkan PAD dan sektor pariwisata.
• Trenggalek dinilai memiliki tiga unsur utama geopark, yakni kekayaan geologi, budaya, dan alam.
• BRIN mendukung proses kajian geopark sekaligus mengidentifikasi potensi kawasan kars yang dinilai perlu dilindungi dari aktivitas pertambangan.
SUARA TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek tengah menyiapkan langkah strategis untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengembangan kawasan geopark.
Program tersebut diproyeksikan menjadi pintu masuk bagi Trenggalek untuk memperoleh status Geopark Nasional hingga pengakuan dunia dari UNESCO.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BPPRIN) Kabupaten Trenggalek, Ratna Sulistyowati mengatakan program geopark merupakan tindak lanjut arahan Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin untuk mengoptimalkan potensi daerah agar memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Geopark ini adalah taman bumi yang merupakan gabungan dari tiga komponen utama, yaitu kekayaan batu atau mineral, kebudayaan, dan kekayaan alam. Kabupaten Trenggalek beruntung karena memiliki ketiga komponen tersebut sekaligus,” ujar Ratna saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).
Ratna menjelaskan, optimisme tersebut berkaca pada keberhasilan Kabupaten Kebumen yang telah mengelola geopark hingga memperoleh pengakuan UNESCO.
Menurutnya, konsep pengelolaan geopark yang mengintegrasikan unsur geologi, budaya, dan alam terbukti mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.
“Di Kebumen, mereka membuat galeri yang menampilkan tiga komponen tadi, yakni batuan, alam, dan budaya. Ternyata itu menarik kunjungan wisata yang luar biasa. Dalam satu hari, kunjungannya minimal mencapai 250 hingga 300 orang,” katanya.
Pemkab Trenggalek meyakini sektor pariwisata berbasis geopark dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mendongkrak PAD daerah.
Ratna menegaskan rencana tersebut bukan sekadar wacana. Saat ini, proses pengusulan geopark telah berjalan dengan dukungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), termasuk dalam aspek kajian dan pembiayaan.
“Mungkin orang berpikiran bahwa hal ini cuma angan-angan, tetapi saat ini kami benar-benar sedang berproses. BRIN mendukung penuh kita, bahkan dari sisi pembiayaan pun BRIN turut membantu,” tegasnya.
Menurut Ratna, Trenggalek memiliki kekayaan budaya yang beragam, mulai dari kesenian Turonggo Yakso, tradisi Ngetung Batih, hingga Kupatan di Kecamatan Durenan.
Sementara dari sisi alam, daerah ini memiliki komoditas khas seperti durian ripto, cengkih, nilam, alpukat, serta kawasan hutan bambu di Dilem Wilis.
Selain itu, potensi wisata alam Trenggalek juga didukung oleh destinasi bawah laut untuk snorkeling, kawasan pegunungan, serta sejumlah gua yang telah dikenal masyarakat.
“Kita punya Goa Lowo, Gunung Linggo, dan Gua Ngerit. Potensi-potensi ini ada, namun memang saat ini dirasa masih belum optimal pengembangannya,” ujarnya.
Saat ini, program geopark telah memasuki tahap awal berupa pengumpulan data dan penyusunan kajian komprehensif.
Program tersebut juga telah masuk dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Trenggalek hingga 2029.
“Geopark ini sudah masuk dalam dokumen perencanaan kita, yaitu di RPJMD lima tahun sampai tahun 2029. Jadi, secara perencanaan memang sudah aman,” jelas Ratna.
Pemkab menargetkan proses pengumpulan data dan penyusunan kajian selesai pada 2026. Selanjutnya, pengajuan resmi sebagai Geopark Nasional direncanakan dilakukan pada 2027 setelah kajian BRIN rampung.
Ratna menambahkan, kajian geopark juga memperkuat komitmen Pemkab Trenggalek dalam menjaga kawasan kars dari aktivitas pertambangan.
Berdasarkan identifikasi BRIN, sebagian besar wilayah yang disebut memiliki potensi tambang berada di kawasan kars yang berfungsi penting sebagai penyimpan air.
“Kemarin dari BRIN mengidentifikasi, ternyata wilayah yang disebut tambang di Trenggalek itu hampir semuanya ada di kawasan kars,” ungkapnya.
Ia mengingatkan eksploitasi kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Nah, kalau itu dieksplorasi, sumber air kita bisa habis. Wong belum dieksplorasi saja sekarang Trenggalek sudah sering kekeringan. Jadi, jika itu diizinkan dan dieksplorasi, selesai sudah lingkungan kita,” tandasnya.











