Inti Berita:
• Jemaah haji asal Trenggalek yang tergabung dalam Kloter SUB 105 dalam kondisi sehat dan bugar.
• Sebagian besar jemaah mengalami gangguan kesehatan ringan setelah rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
• Keluhan terbanyak berupa ISPA, kelelahan fisik, pegal linu, dan dehidrasi.
SUARA TRENGGALEK – Kondisi jemaah haji asal Kabupaten Trenggalek yang tergabung dalam Kloter SUB 105 dilaporkan tetap dalam kondisi sehat dan bugar.
Meskipun sebagian sempat mengalami gangguan kesehatan ringan setelah menjalani rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Dokter Kloter SUB 105 asal Trenggalek, Hafizh Azin Adaba mengatakan aktivitas ibadah yang padat serta cuaca ekstrem di Arab Saudi menjadi faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan jemaah.
“Alhamdulillah kondisi jemaah haji asal Trenggalek dalam kondisi fit dan bugar, walaupun banyak yang sakit apalagi setelah kegiatan puncak haji yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Hafizh, Rabu (3/5/2026).
Menurutnya, keluhan kesehatan yang dialami para jemaah umumnya bersifat ringan dan masih dapat ditangani oleh tim kesehatan kloter.
“Untuk jemaah haji asal Trenggalek banyak yang mengalami sakit terutama setelah kegiatan puncak haji. Insyaallah sakitnya ringan saja,” katanya.
Hafizh menjelaskan, penyakit yang paling banyak dikeluhkan jemaah adalah Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Gejala yang muncul antara lain batuk, pilek, dan demam yang sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus.
Selain ISPA, sejumlah jemaah juga mengalami kelelahan fisik, pegal linu, serta dehidrasi akibat aktivitas ibadah yang padat dan paparan cuaca panas.
“Untuk sakit, kebanyakan jemaah mengalami ISPA yang ditandai dengan batuk, pilek, dan demam. Selain itu ada juga keluhan kecapekan berupa pegal linu dan dehidrasi,” jelasnya.
Meski demikian, hingga saat ini tidak ada jemaah haji asal Trenggalek yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
“Alhamdulillah untuk saat ini tidak ada yang dirawat di rumah sakit,” tegas Hafizh.
Untuk menjaga kondisi kesehatan jemaah, petugas kesehatan terus melakukan berbagai langkah preventif dan pelayanan medis secara langsung.
Pihaknya juga mengimbau para jemaah untuk memperbanyak waktu istirahat setelah rangkaian ibadah yang menguras tenaga, menjaga asupan cairan dengan minum air putih secara cukup, serta mengonsumsi oralit guna mencegah dehidrasi.
Selain itu, jemaah juga diingatkan agar tetap makan secara teratur dan mengurangi aktivitas di luar hotel, terutama saat siang hari ketika suhu udara mencapai puncaknya.
“Kami mengedukasi jemaah agar memperbanyak istirahat, minum air putih yang cukup, mengonsumsi oralit, tetap makan teratur, serta mengurangi aktivitas di luar hotel pada siang hari,” ujarnya.
Petugas juga meminta jemaah yang mengalami batuk dan pilek untuk menggunakan masker guna mencegah penularan penyakit kepada jemaah lainnya.
Di samping edukasi, layanan kesehatan tetap diberikan baik melalui klinik kesehatan kloter maupun kunjungan langsung ke kamar jemaah yang membutuhkan penanganan.
Hafizh mengakui cuaca ekstrem di Arab Saudi turut menjadi tantangan tersendiri bagi kesehatan jemaah haji.
“Benar, cuaca di sini juga memengaruhi kondisi kesehatan jemaah. Pada siang hari suhu bisa mencapai 45 derajat Celsius, jauh lebih ekstrem dibandingkan cuaca tropis di Indonesia,” ungkapnya.
Saat ini seluruh jemaah haji asal Trenggalek masih berada di Kota Makkah. Sesuai jadwal, mereka akan diberangkatkan menuju Kota Madinah pada 19 Juni 2026 sebelum nantinya kembali ke Tanah Air.
“Untuk saat ini jemaah haji asal Trenggalek berada di Kota Makkah dan insyaallah akan bergeser ke Kota Madinah pada 19 Juni 2026,” pungkasnya.











