PERISTIWA

Harga Sapi Kurban Melonjak Imbas PMK, Pedagang Trenggalek Kebanjiran Pembeli

×

Harga Sapi Kurban Melonjak Imbas PMK, Pedagang Trenggalek Kebanjiran Pembeli

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Istimewa
Inti Berita:
• Harga sapi kurban di Trenggalek naik hingga Rp2 juta-Rp3 juta per ekor akibat dampak PMK.
• Meski mahal, permintaan sapi kurban tetap tinggi menjelang Iduladha 1447 Hijriah.
• Pedagang sapi asal Pogalan berhasil menjual puluhan ekor sapi dengan omzet besar.

SUARA TRENGGALEK – Momen Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah membawa berkah bagi para pedagang sapi di Kabupaten Trenggalek.

Meski harga sapi kurban mengalami lonjakan tajam akibat dampak jangka panjang wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), permintaan masyarakat terhadap hewan kurban tetap tinggi.

Salah satu pedagang sapi asal Kecamatan Pogalan, Mujadi, mengatakan pembeli terus berdatangan sejak beberapa pekan terakhir menjelang Iduladha.

“Harga sapi memang naik tajam, tetapi konsumen tetap ramai memesan seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Mujadi.

Menurutnya, kenaikan harga sapi dipicu minimnya stok ternak pasca wabah PMK yang sempat menghantam sektor peternakan.

Banyak peternak memilih mengurangi populasi ternak karena trauma mengalami kerugian besar saat wabah berlangsung.

“Banyak peternak kapok setelah hantaman PMK kemarin. Akibatnya, stok sapi siap potong menurun, sementara kebutuhan masyarakat untuk kurban tetap tinggi,” katanya.

Mujadi menjelaskan, lonjakan harga sapi tahun ini jauh lebih tinggi dibanding musim kurban sebelumnya.

Jika biasanya kenaikan hanya berkisar ratusan ribu rupiah, kini harga sapi naik antara Rp2 juta hingga Rp3 juta per ekor.

“Kalau dulu masyarakat masih bisa membeli sapi kurban layak dengan harga sekitar Rp21 juta, sekarang harganya sudah tembus Rp25 juta lebih,” jelasnya.

Meski harga terus merangkak naik, penjualan sapi kurban justru meningkat. Hingga pertengahan Mei 2026, Mujadi mengaku telah menjual sekitar 25 ekor sapi dengan harga rata-rata Rp26 juta hingga Rp30 juta per ekor.

“Pembeli juga sudah memborong dua ekor sapi kami yang harganya di atas Rp30 juta,” imbuhnya.

Menurut Mujadi, mayoritas pembeli masih mencari sapi di kisaran harga Rp20 juta hingga Rp25 juta untuk kebutuhan kurban keluarga maupun patungan kelompok.

Di tengah tingginya permintaan pasar, Mujadi juga mencatat pencapaian membanggakan. Salah satu sapi terbaik miliknya terpilih menjadi hewan kurban Presiden RI Prabowo Subianto tahun 2026.

Sapi jenis Simental berbobot 1,37 ton tersebut terjual dengan harga sekitar Rp98 juta setelah lolos verifikasi tim kurban kepresidenan.

“Alhamdulillah, tim verifikasi memilih sapi saya untuk menjadi hewan kurban Bapak Presiden,” ungkap Mujadi.

Keberhasilan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Mujadi yang telah puluhan tahun menekuni usaha peternakan sapi secara mandiri.

Meski permintaan tinggi, Mujadi kini lebih berhati-hati mengirim ternak ke luar daerah.

Ia memilih menunggu pesanan pasti sebelum mengirim sapi karena harga bakalan saat ini juga sangat mahal.

Pada musim kurban sebelumnya, ia rutin mengirim sapi menggunakan dua truk Fuso ke Jakarta. Namun tahun ini, pengiriman dibatasi demi menghindari risiko kerugian jika sapi tidak laku.

“Sekarang kami lebih aman mengirim sapi kalau sudah ada order pasti. Kalau tidak laku lalu harus dibawa pulang, kerugiannya bisa besar sekali,” ujarnya.

Mujadi mengaku tetap bertahan menjadi peternak meski sempat mengalami kerugian besar akibat wabah PMK. Kecintaannya terhadap dunia peternakan disebut sudah tumbuh sejak kecil.

“Saya memang hobi memelihara sapi sejak kecil. Jadi walaupun sempat rugi besar karena PMK, saya tetap memilih lanjut beternak,” pungkasnya.