Inti Berita:
• Dinas Peternakan Trenggalek menyebut belum ada laporan baru kasus PMK dalam beberapa waktu terakhir.
• Gejala PMK ditandai demam tinggi, lendir berlebih dari hidung dan mulut, hingga luka seperti sariawan pada mulut ternak.
• Kambing bisa menjadi pembawa PMK tanpa menunjukkan gejala dan berpotensi menularkan ke sapi.
SUARA TRENGGALEK – Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek terus meningkatkan kewaspadaan terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjelang Hari Raya Iduladha 2026.
Meski belum ada laporan kasus baru dalam beberapa waktu terakhir, vaksinasi dan pengawasan ternak tetap dilakukan secara intensif.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Peternakan Trenggalek, Ririn Hari Setiani, menjelaskan gejala PMK pada ternak umumnya ditandai dengan demam tinggi serta keluarnya lendir berlebih dari mulut dan hidung.
“Tanda-tanda PMK seperti demam tinggi kemudian ada leleran atau lendir dari hidung dan mulut itu banyak sekali,” ujar Ririn.
Selain itu, ternak yang terinfeksi juga bisa mengalami luka menyerupai sariawan pada bagian mulut, lidah, hingga hidung.
“Kemudian kalau sudah parah ada seperti sariawan di mulut, lidah atau bahkan di hidungnya,” imbuhnya.
Ririn menjelaskan, PMK lebih sering menyerang sapi. Namun pihaknya tetap mewaspadai kambing karena hewan tersebut bisa menjadi carrier atau pembawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit.
Ia mencontohkan kasus PMK pertama di Trenggalek pada 2022 lalu, di mana kambing milik peternak terlihat sehat tetapi hasil laboratorium menunjukkan positif PMK.
“Jadi yang kasus pertama kali PMK di Trenggalek tahun 2022, kita survei ke peternak, kambingnya terlihat sehat tetapi ketika diuji laboratorium ternyata positif juga. Tapi dia tidak bergejala,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menularkan virus ke sapi apabila kambing dan sapi dipelihara dalam kandang yang berdekatan.
“Ketika peternak punya dua ternak, ada kambing dan sapi, lalu baru beli kambing yang sakit tapi tidak bergejala, satu kandang atau berdekatan bisa juga menularkan,” katanya.
Terkait kondisi terkini, Ririn memastikan belum ada laporan tambahan kasus PMK di Trenggalek. Meski demikian, vaksinasi terhadap ternak tetap berjalan.
“PMK belum ada laporan. Terus kemudian kalau vaksinasi kita tetap jalan,” ujarnya.
Dinas Peternakan Trenggalek juga telah menerima tambahan vaksin PMK tahap kedua dan kembali mengambil stok vaksin pada April 2026.
Untuk penanganan tahun ini, tercatat ada 23 kasus PMK sejak awal tahun hingga bulan lalu. Dari jumlah tersebut, satu ekor pedet dilaporkan mati.
“Ada yang mengalami kematian satu ekor pada pedet,” terang Ririn.
Sementara untuk ketersediaan vaksin, pemerintah telah menyiapkan total 24 ribu dosis vaksin sapi dari dua tahap distribusi.
“Total dari tahap pertama itu 12 ribu dosis sapi, kemudian tahap kedua juga 12 ribu dosis sapi,” jelasnya.
Menjelang Iduladha, vaksinasi tetap dilakukan terutama untuk ternak yang akan dikirim keluar daerah. Pemerintah mensyaratkan ternak sudah pernah menerima vaksin PMK sebelum didistribusikan.
“Untuk pengiriman keluar itu kami mensyaratkan harus sudah ada vaksinasi, sudah pernah vaksinasi,” katanya.
Selain vaksinasi, pengawasan di pasar hewan juga terus dilakukan untuk memastikan ternak yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat.
“Kalau di pasar hewan kemarin kita pantau sapi atau kambing yang dibawa sekarang ini sehat-sehat,” pungkasnya.











