Inti Berita:
• Rusunawa Watulimo baru terisi 17 dari total 51 unit
• Tarif sewa murah, mulai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per bulan
• Fasilitas lengkap, tapi minat masih rendah
• Mayoritas warga nelayan dinilai kurang cocok dengan hunian vertikal
• Pemkab berencana perluas pemasaran hingga luar daerah
SUARA TRENGGALEK – Tingkat hunian Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Watulimo, Kabupaten Trenggalek, masih tergolong rendah.
Dari total 51 unit yang tersedia, hingga kini baru 17 unit yang terisi meski telah kembali dibuka pasca pandemi.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Trenggalek, Subyantoro Retno Pamuji, membenarkan kondisi tersebut.
“Sampai saat ini ada 17 unit yang disewa dari total 51 unit yang tersedia,” ujarnya.
Rusunawa yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2016 itu sempat terbengkalai sebelum dimanfaatkan sebagai asrama Covid-19 (Ascov) pada 2020–2021.
Setelah pandemi mereda, pemerintah daerah kembali membuka penyewaan, namun minat masyarakat belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Menurut Subyantoro, berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan, termasuk menawarkan hunian tersebut ke sejumlah desa di Kecamatan Watulimo seperti Prigi, Karanggandu, dan Tasikmadu.
“Sudah kami tawarkan ke beberapa desa, tapi belum banyak yang mendaftar,” jelasnya.
Saat ini, penghuni didominasi warga lokal, terutama keluarga baru dan pekerja pabrik. Unit yang paling diminati berada di lantai dua dan tiga, sementara lantai empat belum terisi.
“Dari 17 penghuni itu paling banyak ada di lantai dua, disusul lantai tiga, dan lantai empat masih kosong. Untuk lantai satu memang tidak disewakan karena direncanakan untuk toko dan kantor,” imbuhnya.
Dari sisi tarif, rusunawa ini tergolong sangat terjangkau. Sewa lantai dua dipatok Rp100 ribu per bulan, lantai tiga Rp75 ribu, dan lantai empat Rp50 ribu per bulan.
“Kalau dibandingkan kos di sekitar sini yang bisa sampai Rp500 ribu per bulan, ini jauh lebih murah,” katanya.
Selain harga yang rendah, fasilitas yang disediakan juga cukup lengkap, mulai dari dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi dalam, hingga perabot seperti ranjang dan lemari.
Namun demikian, karakteristik pekerjaan masyarakat setempat menjadi salah satu faktor rendahnya minat.
Mayoritas warga pesisir berprofesi sebagai nelayan yang membutuhkan ruang lebih luas untuk aktivitas, terutama terkait peralatan melaut.
“Karakter pekerjaan warga juga berpengaruh. Banyak nelayan yang butuh ruang lebih untuk aktivitasnya,” terangnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek terus berupaya meningkatkan minat masyarakat dengan memperluas sosialisasi dan membuka peluang penyewa dari luar Kecamatan Watulimo, bahkan luar daerah.
Selain itu, masa sewa yang fleksibel hingga lima tahun dengan perpanjangan tahunan juga diharapkan menjadi daya tarik tambahan.
“Kami masih terus berproses. Harapannya ke depan semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan rusunawa ini,” tandasnya.











