KESEHATAN

Tak Selalu Bintik Merah di Kulit, Warga Trenggalek Diminta Waspada Demam Berdarah

×

Tak Selalu Bintik Merah di Kulit, Warga Trenggalek Diminta Waspada Demam Berdarah

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ilustrasi

SUARA TRENGGALEK – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek mencatat penurunan signifikan kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, masyarakat diimbau tetap waspada karena gejala DBD kini cenderung tidak khas dan kerap menyerupai penyakit infeksi lain.

Kepala Diskesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto, mengatakan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama dalam menekan angka keparahan dan kematian akibat DBD.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemanfaatan pemeriksaan laboratorium NS1 untuk mengetahui keberadaan virus dengue, terutama pada hari-hari awal demam.

“Pemeriksaan NS1 sangat membantu untuk mendeteksi virus pada fase awal. Dengan begitu, meskipun gejalanya mirip infeksi biasa, DBD bisa diketahui lebih cepat,” ujar dr. Sunarto.

Ia menegaskan, setiap anak yang mengalami demam dianjurkan segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Apabila demam berlangsung lebih dari dua hingga tiga hari, petugas puskesmas umumnya akan melakukan pemeriksaan laboratorium, meskipun belum muncul tanda-tanda berat seperti perdarahan, mimisan, gusi berdarah, atau syok.

“Dengan pemeriksaan lebih awal, kita bisa mengetahui adanya DBD sebelum kondisi memburuk,” jelasnya.

Menurut dr. Sunarto, pola gejala DBD saat ini tidak selalu seperti yang dikenal sebelumnya. Demam tidak selalu naik-turun secara khas, bahkan bisa menetap atau terus meningkat.

Pada beberapa kasus, tidak ditemukan bintik merah, namun di dalam tubuh sudah terjadi penurunan trombosit dan peningkatan hematokrit.

“Gejalanya bisa seperti infeksi lain, disertai batuk, pilek, atau perut kembung. Ini yang membuat masyarakat sering tidak menyangka bahwa itu demam berdarah,” paparnya.

Berdasarkan data Diskesdalduk KB, jumlah kasus DBD di Trenggalek pada tahun 2025 tercatat sebanyak 537 kasus.

Angka tersebut menurun hampir separuh dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.070 kasus, yang merupakan puncak siklus lima tahunan DBD di daerah tersebut.

Secara bulanan, kasus tertinggi terjadi pada Januari 2025 dengan 259 kasus. Setelah itu, jumlah kasus terus menurun hingga pada November tercatat lima kasus dan Desember sembilan kasus.

“Alhamdulillah, tahun ini relatif terkendali dibandingkan tahun lalu,” kata dr. Sunarto.

Meski terjadi penurunan kasus, Diskesdalduk KB mencatat dua kasus kematian akibat DBD sepanjang tahun 2025. Kedua korban merupakan anak-anak, masing-masing berasal dari wilayah kerja Puskesmas Trenggalek dan Puskesmas Karangan.

Untuk sebaran wilayah, kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Bendungan dengan 50 kasus, disusul Kecamatan Trenggalek sebanyak 48 kasus.

Sementara berdasarkan kelompok usia, penderita DBD masih didominasi anak-anak, meski jumlah kasus pada kelompok dewasa juga hampir seimbang.

Terkait penyebab kematian, dr. Sunarto menjelaskan bahwa keterlambatan penanganan dan kondisi syok menjadi faktor utama.

Selain itu, infeksi dengue sekunder dengan jenis virus yang berbeda dapat memicu reaksi berat yang sulit diprediksi.

“Pada beberapa kasus, kondisi anak saat datang ke fasilitas kesehatan masih terlihat baik. Namun dalam hitungan jam bisa langsung drop,” ungkapnya.

Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh demam, terutama pada anak.

Dengan ketersediaan pemeriksaan NS1 di puskesmas, diharapkan kasus DBD dapat terdeteksi lebih dini dan risiko kematian dapat ditekan semaksimal mungkin.