KESEHATAN

Puskesmas Ngulankulon Trenggalek Gagas Program “SRIWULAN MENGASIHI”, Tingkatkan Capaian ASI Eksklusif dan IMD

×

Puskesmas Ngulankulon Trenggalek Gagas Program “SRIWULAN MENGASIHI”, Tingkatkan Capaian ASI Eksklusif dan IMD

Sebarkan artikel ini
Puskesmas Ngulankulon Trenggalek
dr. Ika saat memberikan edukasi tentang laktasi dan cara menyusui yang benar kepada masyarakat.

SUARA TRENGGALEK – Puskesmas Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, Trenggalek meluncurkan inovasi layanan publik bernama “SRIWULAN MENGASIHI” guna meningkatkan capaian ASI eksklusif dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di wilayah Trenggalek.

Program ini menjadi langkah strategis untuk menekan angka stunting serta memperkuat kesehatan ibu dan bayi melalui edukasi laktasi yang intensif berbasis komunitas.

Kepala Puskesmas Ngulankulon sekaligus dokter umum, dr. Ika Fibrin Fauziah menjelaskan bahwa program ini bermula dari rendahnya pemahaman masyarakat tentang menyusui.

Minimnya edukasi, hoaks yang beredar di media sosial, hingga kurangnya dukungan keluarga menjadi penyebab banyaknya kegagalan pemberian ASI eksklusif.

“Banyak masyarakat yang belum terjamah konseling menyusui. Banyak pula hoaks yang membuat ibu bingung dan akhirnya gagal memberikan ASI eksklusif,” kata dr. Ika, Minggu (30/11/2025).

Ia juga menyebut ASI sebagai “nutrisi emas” bagi bayi, terutama pada fase awal kehidupan. Kolostrum yang keluar pertama kali mengandung bakteri baik, lemak, serta mineral yang penting untuk melindungi bayi dari paparan lingkungan baru.

Dua Jenis Konseling Laktasi

Puskesmas Ngulankulon menyediakan dua bentuk layanan konseling laktasi:

Konseling pertama rawat jalan, yang diberikan kepada ibu dengan berbagai kendala menyusui, termasuk masalah pelekatan, puting datar, atau ketidaknyamanan pascapersalinan.

Konseling kedua rawat inap, yang dilakukan segera setelah ibu melahirkan untuk memastikan teknik posisi dan pelekatan ASI sudah benar.

Menurut dr. Ika, faktor keluarga menjadi kendala terbesar. Banyak bayi yang langsung diberi susu formula saat menangis karena keluarga panik, sehingga menghambat keberhasilan ASI eksklusif.

“Keluarga yang belum paham sering panik melihat bayi menangis, lalu memberikan susu formula. Setelah bayi terpapar formula, itu sudah bukan ASI eksklusif lagi,” ujar dr. Ika.

Peran Keluarga Jadi Penentu

Untuk mengatasi hal tersebut, setiap konseling diwajibkan diikuti anggota keluarga pendamping, terutama nenek atau suami.

Edukasi keluarga dianggap penting untuk mematahkan mitos-mitos yang masih kuat, seperti larangan membawa bayi keluar rumah sebelum usia 40 hari.

Selain itu, program pemerintah melalui kunjungan KN (konsultasi neonatus) turut memastikan setiap bayi—baik lahir di fasilitas kesehatan maupun di rumah—mendapat evaluasi menyusui, pemantauan kenaikan berat badan, serta rujukan bila ditemukan kendala.

Tantangan di Trenggalek

Banyak kasus kegagalan ASI eksklusif terjadi karena ibu terlambat mendapatkan konseling. Beberapa bayi mengalami “bingung puting” akibat pemberian dot sejak lahir, sehingga enggan menyusu langsung.

“Dot itu kan tinggal netes. Kalau bayi sudah merasakan yang mudah dulu, dia enggan bekerja keras menyedot ASI dari puting ibu,” jelas dr. Ika.

Untuk mengatasi mitos dan keterlambatan penanganan, petugas Puskesmas kerap melakukan jemput bola melalui kunjungan rumah.

Pihaknya berharap, program SRIWULAN MENGASIHI ini mampu memperluas jangkauan edukasi, meningkatkan pemahaman keluarga, serta memastikan setiap ibu mendapat dukungan menyusui yang memadai demi kesehatan bayi di Trenggalek.