PERISTIWA

PTSL Trenggalek 2025 Prioritaskan 37 Desa dengan 15.000 Kuota

×

PTSL Trenggalek 2025 Prioritaskan 37 Desa dengan 15.000 Kuota

Sebarkan artikel ini
Sosialisasi pembukaan program PTSL di Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Program Pendaftaran Tanah Sitematis Lengkap (PTSL) bakal hadir kembali di tahun 2025. Masyarakat Trenggalek harus memanfaatkan momen tersebut.

“Kami minta masyarakat manfaatkan program ini dengan baik,” kata Bupati Trenggalek Moch. Nur Arifin, Kamis (16/1/2025).

Mas Ipin mengatakan, selain program ini mudah dan murah, belum tentu di tahun-tahun depan program PTSL di tahun depan kembali ada.

Terkait PTSL, dengan memiliki sertifikat tanah maka kepastian kepemilikan atas hak akan tanah yang dimiliki mempunyai kepastian hukum.

“Lebih lagi pengurusan pendaftaran tanah dalam program ini sangat terjangkau oleh masyarakat,” paparnya.

Bahkan tidak hanya masyarakat, Pemda juga mendapat pekerjaan untuk segera mengurus dan menertibkan aset yang dimiliki.

Para camat dan kepala desa diminta melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

“Karena nanti Letter C atau Pethok D itu sudah tidak lagi dianggap sebagai bukti kepemilikan yang sah,” jelasnya.

Mas Ipin juga menyampaikan jika secara mandiri, tentu berbeda dengan PTSL. Jika PTSL fasilitas untuk membayar patok dan segala macamnya cuma Rp. 350 ribu.

Itu sudah diatur, kemudian untuk pajak BPHTB bisa tidak ada atau tidak membayar pajak. Namun bila membayar secara mandiri pasti dikenakan pajak.

“Upaya ini juga untuk menghindari konflik-konflik tenurial, sehingga masalah itu bisa diminimalisir,” harapnya.

Ia juga menerangkan kecuali yang khusus, seperti yang tumpang tindih dengan kawasan hutan. Bahkan dengan kemudahan teknologi, saat ini ada sertifikat elektronik.

Karena sertifikat itu cuma satu lembar saja nantinya harap berhati-hati. Karena yang terpenting bukan lembar sertifikatnya melainkan barcode dari sertifikat tersebut sehingga dapat diakses melalui aplikasi yang ada.

“Karena 1 lembar bisa saja dimanipulasi atau dipalsukan oleh orang tidak bertanggung jawab,” tutur Mas Ipin.

Sementara itu, dalam sosialisasi ini Kepala Kantor Pertanahan Trenggalek, Agus Purwanto dijelaskan tahun ini kantornya mendapatkan target 15.000 PTSL dengan anggaran hampir sekitar Rp. 3 miliar.

“Anggaran itu untuk digelontorkan kepada masyarakat Trenggalek, di 37 desa untuk tahun ini,” terangnya.

Jumlah ini merupakan permohonan daripada kepala desa ke pihaknya melalui surat, dan itu yang bisa di tindaklanjuti.

Terkait jatah, sangat terbatas, jadi ada desa yang mengajukan kuota 100, 300 dan juga 1.500 itu sesuai permintaan mereka.

“Karena kepala desa sudah mempunyai data bahwa yang harus ikut program tersebut berapa,” jelasnya.

Ia juga berharap, masyarakat semua ikut program PTSL, karena program ini sangat mudah, kemudian biayanya juga murah dan cepat.

Proses dimudahkan, masyarakat tinggal duduk di balai desa, sekali datang ada tim untuk wawancara terkait hak kepemilikan beserta alat buktinya.

“Kemudian terakhir ke balai desa untuk mengambil sertifikat yang sudah jadi,” pungkasnya.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.